jurnalistik.co.id – Tottenham Hotspur diproyeksikan melanjutkan belanja transfernya dengan intensitas tinggi. Klub itu berpeluang memecahkan rekor biaya transfer mereka untuk kali kedua hanya dalam hitungan hari, setelah langkah-langkah awal musim panas yang menempatkan pengeluaran di angka sangat besar.
Menurut proyeksi yang muncul dari aktivitas terbaru transfer, total belanja musim panas Tottenham dapat mencapai £237m. Angka tersebut akan mengungguli rekor pengeluaran terbesar di satu musim sebelumnya, yakni £235,8m pada 2023-24, dan masih ada kemungkinan penambahan belanja lagi dalam waktu dekat.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya pemilik dan jajaran klub untuk membalik arah. Di balik kebutuhan untuk segera memperkuat skuat, Tottenham juga ingin menunjukkan bahwa mereka tetap layak disebut sebagai klub “big six”, istilah yang merujuk bukan semata-mata prestasi di lapangan, melainkan juga kemampuan finansial. Kelompok “big six” mencakup Spurs, Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United, yang selama sekitar 15 tahun terakhir mendominasi lapisan atas klasemen Premier League. Dominasi tersebut, dalam konteks pendapatan, membuat klub-klub itu mampu mengungguli rivalnya dalam kapasitas pengeluaran.
Dalam dinamika pasar saat ini, Tottenham berupaya mengubah situasi dengan investasi intensif ke skuad tim utama. Setelah menyelesaikan transfer senilai £52m untuk Jan Paul van Hecke dari Brighton, Tottenham kemudian mengumumkan kedatangan Mateus Fernandes. Pemain itu direkrut dari West Ham yang telah terdegradasi, dengan banderol yang sekaligus menjadi rekor klub: £85m. Pada hari yang sama, klub juga menyepakati kesepakatan dengan Newcastle untuk Sandro Tonali dengan nilai sampai £100m.
Aktivitas itu terasa semakin tajam karena dalam dua musim terakhir, Tottenham selalu finis di posisi ke-17. Mereka berada satu peringkat di atas zona degradasi pada masing-masing musim tersebut, sehingga terdapat dorongan jelas dari pemilik dan struktur klub untuk membuat rekrutmen yang sifatnya “statement signings”. Selain itu, mereka ingin belanja dilakukan lebih awal di bursa transfer serta diambil secara tegas dan cepat.
Beberapa faktor disebut turut membuka jalan. Ada aturan belanja skuad terbaru, pendapatan yang lebih tinggi, penyuntikan dana dari pemilik, serta ruang yang lebih longgar untuk membayar gaji. Kombinasi ini memungkinkan rencana tersebut benar-benar terjadi, dengan potensi tambahan belanja hingga £250m di musim panas ini.
Nama-nama yang dikejar juga memperlihatkan perubahan arah dalam kemampuan Tottenham untuk masuk dan bersaing dengan rival yang sebelumnya mampu mengunci target. Tonali, misalnya, digambarkan sebagai target utama lini tengah bagi Arsenal, namun juara bertahan Premier League itu menganggap harga yang diminta terlalu tinggi. Sementara itu, untuk Fernandes, Tottenham disebut mampu mengalahkan persaingan Manchester United.
Perubahan pendekatan: dari transisi kepemimpinan hingga model rekrutmen
Perubahan kebijakan transfer Tottenham dikaitkan dengan pergantian kursi eksekutif. Daniel Levy mengakhiri masa jabatannya yang hampir 25 tahun sebagai executive chairman pada September. Lalu, dalam surat terbuka di bulan Mei, ketua baru Peter Charrington menyatakan bahwa pada September tahun lalu klub menyadari adanya sesuatu yang “seismic” harus berubah.
Charrington menegaskan, “What has been put in motion is real, and it marks a genuine break from what had come before,” serta menambahkan, “We must be in the fight with the best teams in this league, every season, and we are rebuilding this club with that standard in mind.”
Di sisi lain, investasi grup Enic—yang dijalankan Lewis Family Trust—tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 86.58%. Enic disebut telah “authorised a full reset”. Untuk kedua kalinya dalam rentang 10 bulan, grup tersebut menyuntikkan dana sebesar £100m melalui pembelian saham baru di Enic.
Restrukturisasi juga menyentuh kepemimpinan klub. Vinai Venkatesham ditunjuk sebagai chief executive pada April 2025, sedangkan Johan Lange dipromosikan menjadi co-sporting director bersama Fabio Paratici. Paratici kemudian meninggalkan klub pada Januari. Tottenham sendiri disebut ingin mempertahankan model co-sporting director. Setelah Paratici pergi, Sebastien Kehl sempat menjadi kandidat dekat untuk menggantikannya dari Borussia Dortmund, tetapi kesepakatan tidak terjadi, sehingga pelatih Roberto de Zerbi memiliki otoritas yang lebih besar terkait perekrutan.
Berita Terkait
De Zerbi memulai peran dengan kontrak lima tahun pada bulan Maret, dan di sepanjang proses itu ia memastikan Tottenham terhindar dari degradasi. Setelah Tottenham mengalahkan Everton demi memastikan bertahan pada hari terakhir musim, ia pernah menyampaikan kebutuhan agar klub melakukan bursa transfer yang sibuk dengan kalimat: “We have 10, 11, 12 players good enough to stay.”
Rekrutmen musim panas dan indikasi soal ‘wage ceiling’
Fernandes menjadi perekrutan kelima Tottenham pada musim panas ini. Sebelumnya, klub juga merekrut kiper Martin Dubravka serta bek Marcos Senesi, Andy Robertson, dan Van Hecke. Van Hecke disebut merupakan pemain yang familiar bagi de Zerbi karena pernah bekerja di bawahnya saat di Brighton, sedangkan Tonali digambarkan sebagai rekan senegaranya yang lama ia kagumi.
Dalam upaya merakit skuad, kepemilikan klub juga menekankan perekrutan pemain yang membawa pengalaman dan kapasitas kepemimpinan. Kendati Fernandes berusia 21 tahun, Lange dan de Zerbi sama-sama menyoroti kecerdasan serta kedewasaannya ketika klub mengumumkan kedatangan pemain tersebut. Robertson yang berusia 32 tahun membawa jejak trofi besar bersama Liverpool dan juga baru saja menjadi kapten Skotlandia di Piala Dunia. Sementara itu, Senesi yang berusia 29 tahun memiliki tambahan empat tahun pengalaman Premier League bersama Bournemouth.
Kejaran terhadap Fernandes dan Tonali—dua pemain yang juga menjadi incaran “big-six rivals” Tottenham—menunjukkan bahwa klub menaikkan batas kemampuan finansial untuk gaji. Sebelumnya, batas ini dinilai tidak memungkinkan Tottenham menarik pemain elite ketika Daniel Levy memegang peran utama.
Dalam model bisnis yang baru, klub juga diarahkan untuk memperbaiki performa dalam menghasilkan uang dari penjualan pemain. Hal itu digambarkan lewat langkah Brighton yang membayar £46m untuk bek Luka Vuskovic. Vuskovic adalah pemain berusia 19 tahun yang belum tampil di Premier League dan musim terakhirnya dijalani lewat skema pinjaman di Hamburg, klub Bundesliga Jerman. Vuskovic disebut kemungkinan tidak akan menjadi pemain terakhir yang hengkang musim panas ini, dan penjualan lanjutan akan membantu Tottenham mengalihkan dana untuk area lain yang membutuhkan peningkatan, terutama karena de Zerbi ingin menambah amunisi di lini depan.
Ruang belanja: aturan SCR, pendapatan stadion, dan amortisasi biaya
Selain strategi internal, kapasitas belanja Tottenham juga dihubungkan dengan aturan belanja skuad versi UEFA melalui squad-cost ratio (SCR). Dengan kerangka baru ini, klub bisa mengalokasikan hingga 85% dari pendapatan untuk biaya pemain. Biaya tersebut mencakup gaji pemain, amortisasi, serta biaya agen dan komponen terkait lainnya.
Dalam catatan akun terakhir Tottenham untuk 2024-25, gaji dan amortisasi disebut hanya sebesar 61%—dan itu mencakup semua gaji. Meski klub tidak memisahkan staf bermain dan non-bermain, UEFA menyebutkan bahwa umumnya sekitar 75% dari total biaya gaji mengarah pada tim utama.
Faktor lain yang dianggap menguntungkan adalah stadion baru. Tottenham disebut kini memiliki arena yang dapat menampung hingga 30 acara non-sepak bola per tahun saat kapasitas penuh. Dampaknya disebut signifikan pada pendapatan. Saat masih di White Hart Lane, pendapatan matchday tahunan berada di angka £45m, sementara pendapatan komersial—yang termasuk konser dan pertandingan NFL—mencapai £73m. Di stadion baru, angka tersebut naik menjadi £126m untuk matchday dan £277m untuk komersial pada musim 2024-25.
Tambahan pendapatan ini memungkinkan Tottenham membelanjakan lebih banyak sesuai rezim SCR. Meski demikian, ada mekanisme akuntansi yang mengatur bagaimana transfer dihitung, karena biaya transfer di amortisasi sepanjang durasi kontrak namun dibatasi maksimal lima tahun. Karena itu, belanja transfer sekitar £240m pada musim panas ini akan ekuivalen dengan biaya amortisasi sebesar £48m.
Total pendapatan Tottenham pada 2024-25 disebut mencapai £565m. Dengan ketentuan SCR, Tottenham berpotensi menggunakan hingga £480m per tahun untuk biaya skuad, yang menjadi fondasi mengapa rencana belanja besar musim panas ini tetap dapat dikejar.












