jurnalistik.co.id – Arthur Fery menjadi satu-satunya wakil tuan rumah Inggris yang melangkah ke babak ketiga nomor tunggal Wimbledon 2026 di All England Club. Pencapaian ini sekaligus menempatkannya sebagai tumpuan harapan tenis Inggris pada turnamen bergengsi tersebut.
Petenis peringkat dunia 114 itu tumbuh tidak jauh dari Wimbledon, namun perjalanan kariernya tidak berhenti pada jarak geografis. Ia menempuh jalur yang membentuknya dari level junior hingga penajaman permainan di kampus, sebelum akhirnya kembali ke âhalaman sendiriâ dengan keberhasilan terbesar sejauh ini.
Fery mengaku, kedekatannya dengan Wimbledon menjadi bagian penting dari perkembangannya. âI grew up coming to the tournament, watching the players and that definitely contributed to my development,â kata Fery, yang kemudian menambahkan, âI was trying to imitate players – like you did when you’re a kid. Now I’m here winning matches. It’s awesome.â
Ia meraih momentum ketika mampu menembus babak terakhir 32 pada sebuah Grand Slam untuk pertama kalinya. Statusnya sebagai pemain tuan rumah tunggal yang lolos ke babak ketiga membuat perhatian tertuju padanya, terutama di tengah sorotan yang kembali menguat terhadap penampilan tenis Inggris.
Perjalanan Fery memiliki latar keluarga yang turut membentuk cara pandangnya. Ibunya, Olivia, merupakan mantan pemain Fed Cup asal Prancis yang pernah bekerja untuk LTA sebagai business development manager, sedangkan ayahnya, Loic, bekerja sebagai asset manager yang juga memiliki klub sepak bola Ligue 1 Lorient.
Selain tinggal di Inggris, Fery menghabiskan banyak waktu liburan musim panas di rumah kedua keluarga dekat La Rochelle, di wilayah barat Prancis. Ia juga meluangkan waktu bersama kerabat di sekitar Niceâdaerah yang padat dengan lapangan dan akademiâuntuk terus mengasah bakat tenisnya.
Fery sempat mewakili Prancis ketika ia sekitar berusia 10 tahun, sebelum kemudian bermain untuk Inggris beberapa saat setelahnya. Menurutnya, keputusan untuk beralih negara tidak membutuhkan pertimbangan rumit. âAfter that, he says, there was âno questionâ that he would go on to represent Britain in the professional ranks,â ujar Fery.
Ia menjelaskan prosesnya dengan gamblang, âBy that point, there was really no decision to make. I was living here, I was training at the National Tennis Centre. I was in the system here.â Dalam pandangannya, identitas sebagai pemain Inggris terasa semakin kuat seiring waktu. âI feel completely British now. Maybe 10 years ago if you’d asked me the question, it would be a bit different. Now I feel very British at heart.â
Pencapaian Fery juga tidak terlepas dari perjalanan yang tidak selalu mulus. Perkembangannya sempat terhambat cedera, termasuk memar pada tulang di lengannyaâkondisi yang menurut laporan itu mirip dengan masalah yang dialami mantan peringkat dunia empat Jack Draper.
Berita Terkait
Di luar faktor fisik, ia juga menunda langkah penuh ke ATP Tour karena memilih jalur pendidikan. Sebagai remaja, Fery mendapatkan beasiswa ke Stanford University di California, sebuah institusi bergengsi yang fokus pada riset, untuk menunda transisi penuh ke sirkuit profesional.
Ia menyebut sistem tenis kampus Amerika membantu mempersiapkannya menuju level pro. âIt also further stoked an inner fire which Fery says he inherits from his parents and often displays in his matches,â demikian gambaran tentang dorongan batin yang ia bawa ke lapangan. Ia menilai pengalaman tenis kampusâdengan suasana yang gaduh, sesi saling ejek (trash-talking), serta kebersamaan timâmembentuk kesiapan menghadapi tuntutan kompetisi profesional.
Stanford turut menjadi bagian dari pola yang juga ditempuh beberapa pemain Inggris lainnya. Cameron Norrie dan Jacob Fearnley termasuk yang juga melewati rute serupa melalui sistem collegiate. Bagi Fery, selain mendapat pendidikan yang ia sebut âworld-class education,â ia memperoleh bekal mental dan kebiasaan bertanding dalam lingkungan yang kompetitif.
Dengan tinggi 5 kaki 9 inci (1,75 meter), Fery berada di bawah rata-rata banyak pemain ATP. Namun, ia mengimbangi hal itu dengan kualitas permainan dan cara bergerak yang lincah di lapangan rumput. Rumput khususnya sering menguntungkan pemain bertinggi yang bisa menekan lawan sejak awal lewat servis cepat, tetapi Fery menemukan cara lain untuk tetap menyulitkan lawan.
Ia memiliki tenaga dan âvenomâ dalam pukulan groundstroke, serta kemampuan meloncat maju untuk menyelesaikan poin melalui voli di net. âTennis is a sport where I think everyone, of all heights, can thrive in a certain way,â ujar Fery. âMy returning is a strength, my movement, just general court craft.â
Dalam pekan ketika penampilan tenis Inggris kembali menjadi perhatian luas, langkah Fery ke babak ketiga menjadi kabar baik. Dukungan tersebut bahkan datang dari figur kerajaan: Catherine, Princess of Wales, yang berstatus patron All England Lawn Tennis and Croquet Club (AELTC), menonton pertandingan babak kedua Fery melawan Otto Virtanen.
Kehadiran Catherine memicu kegembiraan di tribun dan di area pertandingan. Namun Fery tidak mengetahuinya saat laga berlangsung, melainkan baru mengetahui setelah pertandingan usai. Ia menilai hal itu justru mungkin lebih baik, karena tidak menambah ketegangan ekstra, meskipun ia juga jarang memperlihatkan kesan bahwa ia terbebani oleh ekspektasi.
Ketika berbicara mengenai statusnya sebagai âpria terakhirâ yang tersisa untuk Inggris, Fery menyatakan bahwa tidak ada tekanan yang ia rasakan seperti yang dibayangkan banyak orang. âI wouldn’t say it’s pressure. If anything, it’s a good thing for me personally.â Ia menambahkan, âObviously for the Brits in general, it’s not as good. We’d love to have as many Brits as possible in the third round. But there’s no pressure attached to it. I play for myself.â
Keberhasilan yang dibangun Feryâdari masa tumbuh dekat Wimbledon, pilihan studi di Stanford, hingga cara ia memadukan tempo dan kecakapan bergerakâmenjadikan langkahnya ke babak ketiga sebagai tonggak penting. Dengan satu-satunya wakil tuan rumah Inggris yang terus melaju, perhatian kini tentu mengarah pada bagaimana ia mempertahankan ritme permainan di tahap berikutnya.












