jurnalistik.co.id – Inggris melangkah ke final Piala Dunia T20 hari Minggu setelah mengalahkan Afrika Selatan dengan kemenangan meyakinkan 40 run di The Oval.
Di pertandingan yang berlangsung di bawah lampu stadion dan disaksikan suasana antusias penonton, Inggris membukukan 169-5 dari 20 overs. Afrika Selatan kemudian berhenti pada 129-8, sehingga tim asuhan mereka meraih tiket ke laga penentuan.
Keberhasilan ini juga menjadi sinyal nyata perubahan performa Inggris saat menghadapi tekanan di fase-fase besar. Di bawah arahan pelatih Charlotte Edwards, mereka tampil lebih stabil dibanding rangkaian laga sebelumnya yang sempat tersandung.
Meski demikian, Inggris tidak langsung mulus sejak awal. Pada fase awal, mereka sempat goyah dan berada di 23-3 pada over keempat, sebelum Nat Sciver-Brunt mengubah jalannya pertandingan.
Sciver-Brunt tampil gemilang setelah kembali dari cedera betis yang sempat mengancam partisipasinya di turnamen. Ia mencetak 75 dari 47 bola dengan pukulan yang nyaris tanpa celah, lalu memimpin laju tim saat situasi kembali terkendali.
Ia lalu membangun kemitraan besar bersama Heather Knight. Keduanya meraih stand 133 dari 90 bola, membawa Inggris melaju sampai 169-5.
Kinerja Knight juga menjadi faktor penting. Knight menutup innings dengan 58 dari 47 bola, tampil konsisten dan memberi dorongan tambahan ketika Inggris membutuhkan percepatan.
Perjalanan kemitraan Sciver-Brunt dan Knight bahkan diawali dengan ritme yang sangat terkendali. Dari 20 bola pertama bersama mereka, hanya ada satu boundary, namun justru dari pola itulah ritme Inggris menjadi lebih rapi sebelum beralih ke fase menyerang.
Memasuki paruh kedua innings, keduanya meningkatkan intensitas. Sciver-Brunt menunjukkan variasi ramp yang efektif, sementara Knight makin sering mengambil jalur pukulan tinggi untuk memperluas ruang serang Inggris.
Di saat yang sama, Inggris memperlihatkan keunggulan lain yang selama ini kerap menjadi sorotan: kualitas permainan lapangan. Sophie Ecclestone membuat tangkapan lompatan untuk menghentikan laju Afrika Selatan setelah menyingkirkan kapten Proteas, Laura Wolvaardt, sekaligus memutus stand pembuka 43 run.
Berita Terkait
Ecclestone kemudian menambah dampak lewat kesempatan kedua yang sulit, saat ia mendepak Sune Luus. Sementara itu, Danni Wyatt-Hodge ikut menutup peluang lewat direct hit untuk merunout Sinalo Jafta, menambah tekanan yang sulit diredam oleh Afrika Selatan.
Dari sisi bowling, Lauren Bell dan Charlie Dean sama-sama mengambil dua wicket. Ecclestone, Linsey Smith, dan Freya Kemp masing-masing mencatat satu wicket, membuat rencana kejaran Afrika Selatan makin mengecil hingga akhirnya pupus.
Afrika Selatan memang sempat punya momentum lewat Brits yang mengumpulkan 51 dari 45 bola. Namun, ketika wickets terus jatuh pada fase penting, pengejaran mereka tak pernah benar-benar menemukan jalan pulang ke angka yang dibutuhkan.
Babak pertandingan juga menghadirkan momen-momen awal yang menentukan arah laga. Inggris datang dengan status favorit karena belum terkalahkan di turnamen hingga saat itu, sedangkan Afrika Selatan sebelumnya kalah dari Australia dan kesulitan di fase grup.
Di awal innings, Amy Jones melakukan cut ke posisi point. Setelah itu, Wyatt-Hodge melakukan breakthrough dengan memulangkan lawan, sementara Alice Capsey terjebak dalam kondisi yang membuatnya terjaga di depan wicket—meski ada klaim berupa inside edge yang gagal ditinjau ulang.
Situasi ini mengingatkan pada dua pertemuan semi-final Inggris sebelumnya melawan Afrika Selatan yang berujung pada kekalahan. Namun kali ini, Inggris mampu menjawabnya dengan karakter yang berbeda: permainan kemitraan yang tenang lalu agresif, serta pertahanan lapangan yang disiplin.
Ketika Sciver-Brunt mencapai angka 50, banyak penonton mulai berdiri di Oval. Ia sendiri sempat melewatkan tiga pertandingan sebelumnya, dan baru dinyatakan siap untuk laga ini setelah menjalani sesi latihan pada Rabu.
Dalam pertandingan, ia tidak menunjukkan gangguan berarti pada betisnya. Ia bahkan sempat membuka dengan quick single dan kemudian terlibat mengejar bola saat bertahan di lapangan, menegaskan bahwa kondisinya lebih baik dari keraguan awal.
Dengan kemenangan ini, Inggris menutup jalan panjang menuju final dengan performa yang dinilai sebagai salah satu yang terbaik dalam ingatan belakangan mereka. Selanjutnya, mereka akan menghadapi Australia di final, sebuah laga penentuan yang menegaskan ambisi Inggris untuk meraih trofi pertama sejak 2017.
Walau peluang Afrika Selatan untuk menang di Piala Dunia masih harus ditunda, Inggris kini memastikan bahwa mereka siap bersaing di laga puncak sebagai penantang yang serius—terutama setelah perjalanan mereka menanjak di turnamen ini dengan dukungan kerja tim yang menyeluruh.












