Olahraga

Uefa: Dukungan Fifa untuk Gianni Infantino “tak mengubah apa pun”

×

Uefa: Dukungan Fifa untuk Gianni Infantino “tak mengubah apa pun”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gianni Infantino: Uefa says Fifa's backing of its president 'changes nothing'

jurnalistik.co.id – UEFA menyatakan dukungan FIFA kepada Presiden Gianni Infantino “tak mengubah apa pun”. Pernyataan itu muncul setelah Inggris—melalui Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA)—menarik dukungan, menyusul rencana penjualan sebagian kepemilikan di kompetisi Piala Dunia kepada investor swasta.

Dalam pertemuan Rabu, FIFA menyampaikan bahwa sejumlah “kesalahan” terkait proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) telah diakui. Namun, UEFA menilai langkah tersebut tidak memenuhi syarat yang sebelumnya disampaikan.

UEFA menyebut dua poin utama harus dipenuhi: pertama, rencana untuk melepas kepemilikan pada kompetisi-kompetisi besar harus dicabut. Kedua, harus ada jaminan bahwa percobaan untuk “mengubah wajah permainan” dengan cara seperti itu tidak akan diulangi lagi.

“Kondisi-kondisi ini belum terpenuhi,” tulis UEFA dalam pernyataannya. UEFA juga menegaskan bahwa posisinya tidak bergeser, meski rencana tersebut akhirnya dibatalkan.

UEFA sebelumnya sudah menyatakan hilang kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Badan sepak bola Eropa itu menilai proposal FFE sebagai kesepakatan “shabby, back room, opaque deal”.

FIFA, dalam pertemuan Rabu, menyampaikan bahwa “mistakes” mengenai FFE “acknowledged”, sambil menegaskan rencana tersebut bukanlah niat untuk membuat asosiasi anggota atau Dewan FIFA merasa “terkecualikan” dari proses. FIFA juga menyatakan proses seharusnya ditangani dengan cara yang berbeda.

Menanggapi itu, UEFA menekankan bahwa keputusan untuk menarik kepercayaan masih berlaku. UEFA menyatakan bahwa pengumuman pada hari sebelumnya—yang mengarah pada kesepakatan dari sebagian pihak yang bekerja di bawah Infantino dan kariernya bergantung pada persetujuan presiden—tidak membawa perubahan apa pun terhadap penilaiannya.

Infantino dan sinyal permintaan maaf di tengah gejolak

Infantino dilaporkan telah menyampaikan permintaan maaf terkait kesalahan. Meski demikian, ia tetap menjabat sebagai presiden FIFA.

Di tengah polemik, ada juga informasi bahwa Infantino menawarkan dana sebesar 40 juta dolar AS (setara 30 juta poundsterling) kepada semua asosiasi dengan syarat mereka mendukung skema investasi privat pada turnamen, termasuk Piala Dunia putra dan putri, melalui anak perusahaan FFE.

UEFA menganggap forum yang terjadi masih belum menjawab pertanyaan mendasar. Badan sepak bola Eropa itu memandang pertemuan tersebut lebih mirip “kumpulan karyawan” yang merupakan bagian dari rezim yang sama, sehingga akuntabilitas langsung tidak otomatis muncul.

UEFA menyatakan belum jelas apakah Infantino harus menjawab pertanyaan yang bersifat sulit. Pertanyaan yang dipertanyakan termasuk siapa saja pihak yang terlibat, apakah ada proses tender yang kompetitif, serta apakah Infantino memiliki kepentingan pribadi dalam rencana tersebut.

Dalam peristiwa yang digambarkan, Infantino hadir di kantor FIFA di Rabat, Maroko, dengan pola yang tidak asing: ia tiba dengan konvoi mobil, duduk di belakang Mercedes dengan kaca gelap. Beberapa pihak mempertanyakan apakah ia masih akan memegang posisi presiden ketika meninggalkan tempat pertemuan.

Namun, dari permukaan pertemuan itu, Infantino terlihat justru semakin percaya diri. Ia tidak digambarkan sebagai seseorang yang “dipaksa” menjawab tuduhan di ruang dengar pendapat; sebaliknya, pertemuan terjadi setelah Infantino memanggil anggota manajemen FIFA untuk duduk bersama, membahas peristiwa pekan sebelumnya.

Nama yang disebut sebagai tangan kanan Infantino adalah sekretaris jenderal Mattias Grafstrom. Dalam memo internal, Grafstrom disebut kritis, dengan menggambarkan proposal FFE sebagai “a sad and reproachable series of events”.

Setelah pertemuan selesai, Infantino dan Grafstrom terlihat duduk berdampingan dan tersenyum pada pertandingan Piala Afrika Wanita tingkat senior antara Malawi dan Zambia. Jika ada pembicaraan untuk “meluruskan suasana”, hasilnya tampak bekerja—setidaknya dari cara mereka tampil setelah rapat.

Di antara pihak yang turut hadir disebut antara lain Thomas Peyer (kepala keuangan), Emilio Garcia Silvero (kepala hukum), Daniel O’Toole (kepala staf), Elkhan Mammadov (kepala asosiasi anggota), serta Bryan Swanson (direktur hubungan media). Di sisi lain, CEO operasi FIFA Kevin Lamour disebut tidak diundang. Lamour sebelumnya mengkritik keras rencana FFE, menyebutnya “the project of one person”, dan mengatakan kini saatnya pemimpin politik sepak bola menanyakan pertanyaan yang tepat serta mengambil keputusan yang tepat.

Lamour juga dilaporkan mengatakan, bila ia kehilangan pekerjaan, ia tetap siap. Ia mengaku setidaknya dapat tidur nyenyak malam itu. Lamour menolak memberikan komentar kepada BBC.

UEFA berhadapan dengan batas dukungan di FIFA

UEFA berada dalam situasi yang rumit ketika berusaha mendorong perubahan kepemimpinan FIFA. Opsi yang dianggap paling mudah pada awalnya adalah mengubah arah dukungan secara bertahap, dengan harapan tekanan akan membuat Infantino mundur.

Namun, dari yang tersirat, Infantino tidak menunjukkan niat untuk langsung pergi. Bahkan pada Kamis, Lamin Kaba Bajo, presiden Federasi Sepak Bola Gambia, memuji “keberanian” Infantino dan menyebut ia melakukan “U-turn” yang dinilai sebagai langkah balik. Bajo mengatakan ia bersedia memberikan dukungan lebih dari sebelumnya.

Di Eropa sendiri, dukungan yang cukup untuk menjatuhkan Infantino terlihat sulit dikumpulkan. Di antara negara yang menyatakan sikap terbuka, hanya Yordania yang disebut secara publik tidak akan memilih Infantino pada pemilihan ulang di bulan Maret. Konsolidasi suara lainnya juga belum tampak sekuat harapan UEFA.

Confederation of North and Central America and Caribbean (Concacaf) mengeluarkan pernyataan setelah proposal dibatalkan, tetapi tidak sampai pada level UEFA yang menyatakan hilang kepercayaan. Conmebol—konfederasi sepak bola Amerika Selatan—menyatakan tidak akan mendukung “aksi atau prosedur apa pun” yang mengabaikan mekanisme FIFA sebelum pemilihan presiden.

Dari Afrika, Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) menyampaikan bahwa komite eksekutifnya “unanimously reconfirmed” dukungan untuk Infantino dan berterima kasih atas dukungannya terhadap sepak bola Afrika selama ini.

Idealnya, UEFA ingin mendorong rapat darurat Dewan FIFA agar dapat memegang presiden dalam mekanisme akuntabilitas yang lebih nyata. Akan tetapi, untuk mendapatkan 19 dari 36 ketua konfederasi dan federasi anggota guna mendukung rapat tersebut, tantangannya disebut sangat besar.

UEFA juga masih menyimpan opsi untuk mengaktifkan mosi tidak percaya. Opsi ini dapat dijalankan melalui kongres luar biasa kapan saja, tetapi syaratnya berat: dibutuhkan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA, yakni 106 suara. UEFA juga memandang konsekuensinya akan menjadi semacam pemilihan presiden tanpa kandidat kedua.

Jika jalan itu diperkirakan tidak mampu mencapai 106 suara—yang disebut tampak “stretch”—maka memicu mosi tidak percaya dipandang kurang berarti. Alternatif lain adalah mencari kandidat kesatuan untuk menantang Infantino pada pemilihan presiden bulan Maret tahun depan. Nama yang disebut sebagai favorit adalah Victor Montagliani, presiden Concacaf.

Di sisi lain, setiap opsi yang memerlukan waktu memberi ruang bagi Infantino untuk membangun jembatan. FIFA disebut dijadwalkan mengumumkan pendanaan baru kepada asosiasi anggota pada akhir tahun, sehingga peluang Infantino menawarkan “hadiah lain” untuk menjaga dukungan menjelang pemilihan.

Ujian berikutnya: kompetisi usia muda putri

Selain pertarungan politik di level organisasi, sikap UEFA juga akan diuji dalam waktu dekat. FIFA Women’s U20s World Cup dijadwalkan dimulai di Polandia pada 5 September. Enam negara Eropa diperkirakan ikut serta, termasuk Inggris.

Analisis: UEFA menilai FIFA belum memberi jawaban yang setara

Dari sudut pandang beberapa pihak di konfederasi Eropa, pernyataan FIFA justru memperlihatkan alasan mengapa Infantino dinilai seharusnya mengundurkan diri. Mereka beranggapan pernyataan itu jauh dari representasi seluruh FIFA, serta menilai ada kekurangan konsultasi dengan dewan atau keanggotaan.

Kelompok tersebut juga menilai Infantino berusaha mengalihkan tanggung jawab personal dengan membagi kesalahan terkait proposal yang dibatalkan, sehingga yang seharusnya melakukan permintaan maaf secara penuh adalah Infantino sendiri—bukan menempatkan ekspresi penyesalan bersama Grafstrom.

Di sisi yang berbeda, di internal FIFA, seorang loyalis Infantino dikatakan memandang reaksi publik, khususnya dari Eropa, sudah mendekati “histeria”. Mereka menilai kritik itu tidak cukup mengakui legitimasi Infantino secara global.

Dengan bertahan di posisi, Infantino diperkirakan sedang memulai upaya perlawanan. Namun, langkah itu juga bisa justru menyalakan gejolak—baik dari luar maupun di dalam FIFA. Karena itu, semakin besar kemungkinan para penentangnya perlu menentukan nama kandidat tandingan yang mampu menantang Infantino pada pemilihan presiden tahun depan.