Olahraga

Pahlawan Piala Dunia yang Berujung Transfer Besar

×

Pahlawan Piala Dunia yang Berujung Transfer Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Players who turned World Cup heroics into big transfers

jurnalistik.co.id – Piala Dunia sering dipandang sebagai panggung terbesar sepak bola, penuh drama, gol, dan momen yang sulit dilupakan. Namun bagi sejumlah pemain, turnamen itu juga berperan sebagai “etalase” karier yang menentukan, hingga akhirnya memicu transfer besar.

Gelombang perubahan itu kembali terasa lewat kasus kiper Vozinha. Usai tampil menonjol bersama Tanjung Verde di Piala Dunia, ia kemudian hijrah ke klub raksasa Chile, Colo-Colo—sebuah langkah yang menunjukkan bahwa kesempatan besar tidak selalu datang pada usia muda.

Vozinha bukan sekadar mengikuti tren. Ia berusia 40 tahun saat melangkah dari kompetisi kasta kedua Portugal menuju klub tersukses di liga negaranya, dan perjalanan itu menegaskan betapa Piala Dunia mampu memperbesar peluang, termasuk bagi pemain yang sebelumnya relatif tidak terlalu dikenal.

Dari keterkejutan di turnamen ke keputusan klub

Salah satu contoh yang muncul di era lebih awal adalah Marc-Vivien Foe. Sebelum tampil di Piala Dunia 1994, namanya belum menjadi referensi utama di Eropa, meski ia akhirnya tampil sebagai salah satu pemain terbaik Kamerun selama turnamen debutnya.

Kamerun memang tidak memenuhi harapan di Amerika Serikat, terutama jika dibandingkan catatan mereka pada Piala Dunia 1990. Tetapi Foe mampu menarik perhatian lewat penampilan menonjol, termasuk saat menghadapi Brasil, yang lalu membuka jalan untuk kepindahannya.

Performa tersebut berujung pada transfer bebas dari Canon Yaounde ke Lens. Foe kemudian bertahan empat tahun di Lens, membantu klub itu meraih gelar liga pertama pada musim 1997-98.

Setelah itu, karier Foe berlanjut ke beberapa klub besar. Ia pernah bermain untuk West Ham United, Manchester City, dan Lyon, serta meraih trofi seperti Coupe de la Ligue dan gelar Ligue 1 pertama Lyon pada tahun 2002.

Sayangnya, kisah Foe berakhir tragis. Ia meninggal pada Juni 2003 setelah pingsan saat menjalani semifinal Piala Konfederasi melawan Kolombia.

Peran kunci di Piala Dunia membentuk nilai jual

Gilberto Silva menjadi contoh lain tentang bagaimana Piala Dunia bisa “mengunci” reputasi. Penampilan pertamanya di Piala Dunia terjadi pada 2002, ketika turnamen berlangsung di Korea Selatan dan Jepang.

Pada usia 25 tahun, ia kembali dengan status sebagai juara dunia, sekaligus menjadi pemain yang tampil penuh di setiap pertandingan bersama tim Luiz Felipe Scolari. Silva masuk starting XI karena Emerson cedera, tetapi setelah itu ia justru berperan penting dalam keberhasilan Brasil.

Setelah timnya menorehkan prestasi besar, Gilberto Silva memperoleh kesempatan untuk pindah ke Premier League bersama juara bertahan, Arsenal. Ia dijuluki “The Invisible Wall” dan didatangkan dari Atletico Mineiro dengan nilai sekitar £4,5 juta.

Selama enam tahun di London, Silva memenangkan dua trofi Piala FA. Ia juga menjadi bagian dari skuad “Invincibles” pada musim 2003-04, ketika Arsenal tak terkalahkan dan akhirnya merebut gelar Premier League.

Penglihatan Eropa terbentuk lewat konsistensi

Javier Mascherano mendapat sorotan sejak Piala Dunia 2006. Pada usia 22 tahun, ia membantu Argentina menembus perempat final, dan penampilannya—baik bersama klub di Brasil maupun di turnamen—membuat mata klub-klub Eropa tertuju kepadanya.

Mascherano sempat menyatakan keinginannya bertahan di Corinthians untuk membantu klub menghadapi situasi degradasi. Namun pada musim panas 2006, ia akhirnya pindah ke West Ham United bersama rekan satu tim Argentina, Carlos Tevez, yang juga tampil impresif di Jerman.

Meski awalnya singkat, masa Mascherano di West Ham berakhir menjelang awal 2007. Ia kemudian bergabung dengan Liverpool dan tampil pada laga final Liga Champions 2007 yang dikalahkan AC Milan.

Setelah itu, kariernya melesat bersama Barcelona. Ia bermain di sana mulai 2010, meraih Liga Champions sebanyak dua kali, dan menjadi bagian dari skuad yang menjuarai La Liga pada lima kesempatan.

Ketajaman di turnamen mengubah arah karier

Mesut Ozil memperlihatkan bagaimana statistik di Piala Dunia dapat menjadi penguat reputasi. Pada Piala Dunia 2010, ia berusia 21 tahun dan menjadi salah satu pemain muda yang paling menarik, saat Jerman finis ketiga.

Dalam tujuh pertandingan, Ozil mencatat empat gol dan empat assist. Catatan itu mempertegas kualitasnya, sekaligus membuat klub-klub besar melihatnya sebagai pemain bernilai.

Pada Agustus 2010, Ozil meninggalkan Werder Bremen untuk bergabung dengan Real Madrid dengan biaya sekitar €15 juta (£12,4 juta). Di Madrid, ia meraih trofi Copa del Rey, La Liga, dan Spanish Super Cup selama tiga musim, sebelum kemudian menjadi rekor pembelian Arsenal pada 2013 dengan nilai £42,4 juta.

Dari momen terbaik ke kontrak termahal

James Rodriguez adalah contoh yang paling terasa dari sisi “momen”. Di Piala Dunia 2014, ia tampil sebagai salah satu bintang Kolombia dengan mencetak enam gol dan meraih Golden Boot, setelah perjalanan yang membawa timnya sampai perempat final.

Prestasi Rodriguez tidak hanya soal gol. Penampilan termasuk gol voli terkenalnya saat melawan Uruguay, yang membuatnya masuk dalam FIFA Team of the Tournament.

Gol voli tersebut kemudian dinobatkan sebagai gol terbaik turnamen menurut lebih dari empat juta orang di situs FIFA. Ia juga meraih FIFA Puskas Award untuk gol terbaik tahun itu.

Sesudah turnamen, Real Madrid memutuskan mendatangkan Rodriguez dari Monaco dengan biaya sekitar €75 juta (£71 juta). Keputusan itu berujung pada rentetan trofi bersama Los Blancos, termasuk dua gelar Liga Champions.

Vozinha: reputasi yang menanjak lewat performa dan sorotan global

Di balik keputusan Colo-Colo, ada cerita yang memperlihatkan bagaimana Piala Dunia menumbuhkan perhatian publik. Vozinha menjadi sosok kultus ketika Tanjung Verde meraih poin pertama di Piala Dunia melawan Spanyol pada fase grup, berawal dari penyumbang gol dan penampilan yang membuat namanya melejit.

Popularitas di media sosialnya ikut melonjak, dari sekitar 50.000 pengikut Instagram menjadi hampir 30 juta. Ketika timnya melaju ke babak gugur, langkah itu juga disertai duel yang menegangkan, termasuk saat membawa Argentina—yang akhirnya menjadi finalis—melewati perpanjangan waktu pada babak 16 besar.

Atas performanya, ia masuk dalam FIFA Team of the Tournament. Selain itu, bahkan ada penghargaan unik: spesies baru jenis siput laut diberi nama sesuai dirinya.

Kolombia mungkin memuat banyak cerita dramatis, tetapi bagi Vozinha, “klub besar” juga punya makna simbolik. Ia menempuh karier yang membawanya ke Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus, lalu hingga baru-baru ini bermain untuk Chaves di divisi dua Portugal. Ia menilai bergabung dengan Colo-Colo sebagai salah satu sorotan utama karena klub itu merupakan yang paling sukses di Primera Division dengan 34 gelar dan di Copa Chile dengan 14 trofi.

Catatan kehormatan pemain lain yang ikut terbawa efek Piala Dunia

Beberapa nama lain juga tercatat sebagai pemain yang mengubah penampilan di panggung dunia menjadi perpindahan besar. Gheorghe Hagi dari Brescia ke Barcelona pada 1994, Dejan Stankovic dari Red Star Belgrade ke Lazio pada 1998, dan Carlos Salcido dari Guadalajara ke PSV Eindhoven pada 2006 adalah rangkaian contoh lintas generasi.

Nama berikutnya datang dari era berikutnya, seperti Nicolas Otamendi dari Velez Sarsfield ke Porto pada 2010, Edinson Cavani dari Palermo ke Napoli pada 2010, serta Sami Khedira dari Stuttgart ke Real Madrid pada 2010. Dalam konteks yang sama, Alexis Sanchez berpindah dari Udinese ke Barcelona pada 2010, sementara Keylor Navas bergerak dari Levante ke Real Madrid pada 2014.

Di fase yang lebih mutakhir, Enner Valencia pindah dari Pachuca ke West Ham United pada 2014, dan Enzo Fernandez dari Benfica ke Chelsea pada 2022. Semua daftar ini menunjukkan pola yang relatif konsisten: ketika pemain mampu tampil menonjol di Piala Dunia, peluang untuk melangkah ke klub dengan dampak lebih besar menjadi semakin terbuka.