Internasional

Vatikan Mengucilkan Pengikut Konservatif SSPX, Sekitar 600.000 Terdampak

×

Vatikan Mengucilkan Pengikut Konservatif SSPX, Sekitar 600.000 Terdampak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Vatican excommunicates conservative SSPX followers

jurnalistik.co.id – Vatikan menjatuhkan ekskomunikasi kepada para pengikut Society of Saint Pius X (SSPX), kelompok Katolik tradisionalis yang selama ini dianggap berada di luar arahan langsung Paus Leo XIV. Keputusan itu diumumkan sehari setelah penahbisan empat uskup baru di Jenewa, menegaskan ketegangan baru antara Roma dan organisasi yang berpusat pada tata ibadah versi tradisional.

Dalam sebuah dekret, Vatikan menyatakan bahwa total enam uskup dalam SSPX dinyatakan ekskomunikasi. Dekret itu juga memuat ketentuan yang tergolong tidak lazim: para anggota awam yang “secara formal” berafiliasi dengan kelompok tersebut dinilai “skismatis” dan turut dikenai ekskomunikasi.

Di saat yang sama, Vatikan menegaskan bahwa mereka yang memilih meninggalkan SSPX akan disambut kembali “dengan kasih sayang yang tulus”. Setelahnya, otoritas Vatikan meralat dan memperjelas bahwa ekskomunikasi tidak otomatis berlaku untuk semua anggota, melainkan ditujukan pada mereka yang “secara kebiasaan berpartisipasi” dalam perayaan SSPX serta “secara formal berbagi posisi-posisi doktrinal” kelompok tersebut.

Asal-usul dan besaran jemaah SSPX

SSPX berdiri pada 1970 sebagai respons atas penyesuaian yang dilakukan Gereja Katolik Roma pada era reformasi modern, yang terkait dengan perubahan setelah Konsili Vatikan II pada tahun 1960-an. Kelompok ini diperkirakan memiliki sekitar 600.000 jemaat di seluruh dunia, sehingga keputusan Vatikan langsung berdampak pada komunitas yang cukup besar.

Rita Reid, seorang pengikut SSPX dari Jersey di Kepulauan Channel, menyatakan reaksi yang kontras dengan ketegangan doktrinal tersebut. Ia mengatakan, “It actually makes me feel quite strong.” Ia juga menyampaikan, “Before the consecrations yesterday I said to my husband, ‘Do you know what? Even if they excommunicate us, go ahead, bring it on, it’s not going to make one bit of difference.’”

Tata ibadah dan posisi doktrinal yang ditolak SSPX

SSPX menolak perubahan cara perayaan Misa yang dianggap sebagai bagian dari pembaruan gereja modern. Salah satu perbedaan yang disebutkan adalah bahwa layanan ibadah mereka masih menggunakan bahasa Latin, bukan bahasa sehari-hari.

Dalam perayaan SSPX, imam juga menghadap altar, bukan menghadap jemaat. Rincian lain yang disebut adalah praktik komuni: roti komuni harus diberikan langsung ke mulut jemaat yang berlutut oleh imam, berbeda dengan kebiasaan di banyak gereja yang memungkinkan umat berdiri dan memegang roti sendiri.

Anggota perempuan dalam kelompok ini juga cenderung menutup kepala saat ibadah. Secara umum, pengikut SSPX digambarkan lebih konservatif dalam pandangan sosial, serta menolak sikap Gereja Katolik modern yang mendorong dialog lebih luas dengan denominasi Kristen lain maupun agama-agama lain.

Bagi Rita, ritual SSPX terasa lebih “profound”. Ia menyatakan bahwa ia merasakan “the true presence of Jesus” dalam ibadah mereka. Menurutnya, tidak ada perbandingan dengan Misa Katolik arus utama yang ia nilai “so weak and wishy-washy”.

Rita juga mengaku pernah menghadiri Misa Katolik modern selain ibadah SSPX, namun mengeluhkan perubahan nilai sosial yang menurutnya tidak lagi diajarkan dalam Misa standar. Ia menilai, “I think a lot of young people now that go to novus ordo [the standard liturgy] think ‘oh well, it’s all right, we can do these things’.”

Jaringan kehadiran dan upaya rekonsiliasi

SSPX memiliki basis kehadiran utama di Amerika Serikat dan Prancis, tetapi juga menyelenggarakan Misa di 26 lokasi di seluruh Inggris. Rentangnya disebut mulai dari Lerwick di Shetland hingga Devon, dengan pusat utamanya berada di Wimbledon, London bagian selatan.

Di masa lalu, pernah terjadi ekskomunikasi terhadap uskup-uskup dari SSPX pada dekade 1980-an karena menolak patuh kepada Roma. Namun keputusan tersebut kemudian dibalik. Upaya rekonsiliasi dengan SSPX juga disebut pernah dilakukan belakangan ini, tetapi respons Vatikan terhadap peristiwa pekan ini dinilai lebih agresif dibanding sebelumnya dan lebih berat dari perkiraan.

Peristiwa di Jenewa pada Rabu sebelumnya secara luas diperkirakan akan berujung pada ekskomunikasi terhadap uskup-uskup yang terlibat. Namun ekskomunikasi terhadap seluruh kelompok awam yang terus menjadi bagian dari SSPX justru mengejutkan banyak pihak, terutama karena kelompok tradisionalis itu kini disebut semakin jauh dari pusat kekuasaan Gereja Katolik Roma.

Makna ekskomunikasi bagi anggota

Ekskomunikasi merupakan salah satu hukuman terberat yang dapat dijatuhkan Gereja. Dalam praktiknya, hukuman ini dianggap “mengeluarkan” pihak yang dihukum dari agama serta menutup aksesnya terhadap kehidupan Katolik. Artinya, seorang pengikut yang dibaptis dinyatakan “out of communion” dengan Gereja, sehingga tidak dapat menerima sakramen—misalnya untuk pengakuan dosa—dan tidak dapat menikah di dalam Gereja Katolik Roma.

Pada hari Kamis, Vatikan menyatakan, “The sacred ministers of the Society of St Pius X administer the sacraments illicitly, while the sacrament of penance they administer and the marriages they witness are invalid.” Pernyataan itu menekankan konsekuensi sakramental: kegiatan sakramen yang dilakukan dinilai tidak sah secara tata dan, khususnya, sakramen pengakuan dosa serta pernikahan yang disaksikan juga dinyatakan tidak valid menurut pandangan Vatikan.

Dengan demikian, anggota SSPX kini dihadapkan pada pilihan: bertahan sebagai bagian dari kelompok yang dinilai berada dalam “schism”, atau meninggalkan hal-hal yang mereka anggap benar agar tetap berada dalam persekutuan Gereja Katolik. Namun, disebutkan pula bahwa banyak anggota SSPX meyakini bahwa Vatikanlah yang berpindah menjauh dari ajaran yang benar, bukan mereka.