Olahraga

Hasil Wimbledon 2026: Djokovic kalah dari Jannik Sinner di semifinal—”good but not good enough”

×

Hasil Wimbledon 2026: Djokovic kalah dari Jannik Sinner di semifinal—”good but not good enough”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wimbledon 2026 results: Novak Djokovic 'good but not good enough' after Jannik Sinner beats him in semi-finals

jurnalistik.co.id – Novak Djokovic menutup Wimbledon 2026 dengan perasaan yang campur aduk. Ia memang sempat melaju sampai semifinal saat usianya sudah 39 tahun, namun dua hari setelah itu ia harus menerima kekalahan telak di Centre Court.

Langkah ke babak empat besar tersebut kembali mengingatkan bahwa Djokovic masih mampu bersaing di level tertinggi. Dalam perjalanan menuju semifinal, ia bahkan menundukkan lawan yang berjarak usia 14 tahun lebih muda melalui laga yang berlangsung 5 jam 15 menit.

Namun, ketika semifinal mempertemukannya dengan Jannik Sinner, hasilnya tidak memberi ruang untuk optimisme. Dunia memandang Sinner sebagai petenis peringkat satu dunia, dan Djokovic dipaksa menyerah dalam straight sets.

Di tengah kekalahan itu, Djokovic merangkum perasaannya sendiri dengan kalimat yang tidak berjarak dari kinerja yang ia anggap belum cukup. “For me, it’s good but not good enough,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dirinya berada dalam rutinitas ekspektasi yang tinggi terhadap pencapaian, bahkan ketika momen-momen besar tetap datang. “I’m blessed and cursed to be used to something of a highest degree in terms of results and achievements.”

Djokovic juga menggambarkan proses mental yang ia lakukan untuk tetap mendorong diri dan mengakui kemampuan bersaingnya masih ada. “I’m telling myself, ‘this is amazing that you’re still able to play at such a high level and push the youngsters to the limit.’”

Meski begitu, ia menegaskan bahwa standar yang ia pasang untuk dirinya tidak berubah. “But I always have the highest expectations for myself.”

Jika pada pertemuan terakhir mereka di tahap serupa Djokovic masih membawa cedera, kali ini situasinya berbeda. Menurut laporan yang sama, tidak ada kendala cedera yang menjadi alasan pada duel edisi kali ini.

Meski tanpa cedera, Djokovic tetap menghadapi beban yang menumpuk dari waktu di lapangan. Ia harus menantang jeda musim dan tambahan 16 jam 32 menit waktu pertandingan yang menumpuk di kaki.

Sinner tampil dengan gerak yang membuat Djokovic kesulitan mencari celah. Ia bergerak baik, melayani lebih meyakinkan, dan hampir tidak memberi gambaran kelemahan yang bisa dieksploitasi.

Djokovic sendiri mengakui bahwa ia mengharapkan lebih dari performanya, tetapi kenyataan di lapangan tidak sejalan dengan harapan tersebut. Ungkapan senada juga dilontarkan Andre Agassi saat membahas dinamika harapan dalam olahraga.

Agassi merangkum situasi itu dengan kalimat: “In this sport, as in life, hope is fragile but hard to kill.”

Sebagai konteks, Djokovic telah memenangi tujuh gelar Grand Slam di Wimbledon. Pada edisi ini, memang tidak ada Carlos Alcaraz yang menjadi bagian dari persaingan, sementara Sinner tetap menjadi nama yang sulit dijinakkan.

Persaingan yang lebih ketat juga dipengaruhi motivasi Sinner setelah ia mengalami kekalahan mengejutkan pada babak kedua di Prancis Terbuka. Momen itu disebut menjadi faktor yang membuat semifinal kali ini semakin menantang.

Di sisi lain, ada pula suara yang mempertanyakan peluang Djokovic menambah gelar ke-25. Pat Cash, juara Wimbledon 1987, menyatakan keraguan pada kemampuan Djokovic untuk kembali menembus puncak.

Cash mengatakan, “I don’t think realistically he has got another Grand Slam in him, unfortunately. I think this was the one.”

Ia menambahkan bahwa Djokovic masih bisa menjadi ancaman bila kembali ke performa terbaik, tetapi tidak semua perjalanan akan berakhir sampai final. “Don’t write him off coming back and being a threat at some stage, but not going all the way.”

Dalam laga-laga sebelumnya, Djokovic memang mempertahankan standar tinggi, termasuk ketika ia menjalani kemenangan epik di delapan besar atas Felix Auger-Aliassime. Performa itu menunjukkan kapasitasnya, namun melawan Sinner terasa ada harga yang harus dibayar.

Di semifinal, Djokovic terlihat setengah langkah lebih lambat, terutama dalam mengatur pukulan forehand. Selain itu, ia jarang menemukan ritme yang benar-benar nyaman untuk memegang momentum dengan mudah.

Transisi untuk mengembalikan servis Sinner juga menjadi masalah. Djokovic kesulitan menghadapi servis yang akurat dan kuat, sehingga ritme reli kerap tidak berpihak padanya.

Dari sisi peluang break, Djokovic hanya mencatat satu kesempatan sepanjang laga. Momen itu datang ketika ia tertinggal dua set dan harus mengejar satu break, tetapi Sinner menutupnya dengan ace.

Setelah satu penyelamatan itu, Sinner tidak memberi lagi peluang setengah-setengah. Ia “saved it with an ace and offered no more half-chances,” sesuai penuturan yang sama.

Ada kemiripan gaya pergerakan antara Sinner dan Djokovic pada duel sebelumnya. Laporan menyebut bahwa sliding dan pergerakan di baseline Sinner terasa seperti nuansa yang pernah membuat banyak pemain terinspirasi setahun lalu.

Djokovic pada akhirnya tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menahan dominasi lawan. Ia kemudian menilai bahwa kondisi fisiknya tidak sepenuhnya bermasalah, tetapi lawan memang lebih unggul.

“Here I was feeling fine. Maybe not the freshest, like at the beginning of the tournament, but I was physically all right,” katanya. “He was the much better player and was the dominant force. You just have to hand it to him and say: ‘Congrats, well done.’”

Meski kalah, Djokovic mengindikasikan bahwa ia ingin kembali lagi. Ia berharap bisa berkompetisi setidaknya satu kali lagi dalam rentang waktu berikutnya.

Di Wimbledon tahun ini, ia juga terlihat lebih santai, baik saat latihan maupun saat berada di sela-sela pertandingan. Ia disebut melakukan sesi latihan di lapangan luar bersama putranya, serta sempat bercanda dengan ball girl pada pertandingan babak kedua.

Perubahan penerimaan dari penonton juga menjadi bagian yang menonjol. Djokovic pernah berada dalam posisi yang sering diposisikan sebagai “villain”, terutama sebagai pengganggu yang memecah perhatian pada rivalitas Roger Federer dan Rafael Nadal.

Karakter yang lebih emosional dan lebih vokal membuatnya tidak selalu mendapat simpati. Pada beberapa momen, ia bahkan menerima respons yang tidak bersahabat hanya karena telah menang melawan mereka.

Ia juga sulit memenangkan dukungan ketika menaklukkan Federer di final Wimbledon 2019. Dua tahun sebelumnya, ia disebut pernah merasa dihormati atau tidak ketika mendapati sorakan yang seolah tidak berpihak padanya saat melawan Holger Rune.

Tetapi kali ini, persepsi berubah. Djokovic dilaporkan mendapat dukungan sebagai favorit penonton di hampir setiap pertandingan.

Pada laga yang berjalan panjang melawan Auger-Aliassime, penonton menariknya sepanjang waktu. Ketika ia harus menghadapi momen-momen break point melawan Sinner, teriakan untuk nama panggilannya bergema dengan pola “Nole! Nole!”

Agassi menilai perubahan itu sebagai bentuk penghormatan yang akhirnya datang sesuai dengan kontribusi Djokovic selama lebih dari dua dekade. “We’ve watched this guy for well over two decades, and how many times have we heard the whole entire crowd [chant] ‘Nole, Nole’?” katanya.

Ia melanjutkan, “He’s now getting the respect he deserves. I love it. What these guys are doing now is because of all that he has shown is possible.”

Ketika meninggalkan lapangan, Djokovic menaruh tangan di dada lalu mengetuknya sekali sebelum melambaikan salam ke berbagai arah. Ia menyadari waktu kompetisi sedang berjalan menuju batas berikutnya, karena ia akan berusia 40 tahun pada Wimbledon tahun depan.

Dalam sejarah, Ken Rosewall menjadi catatan penting. Rosewall, pada usia 39 tahun dan 234 hari, tercatat sebagai pria tertua era Open yang meraih gelar Grand Slam tunggal.

Meski demikian, Djokovic untuk saat ini masih ingin melanjutkan. Ia menegaskan tidak ada tekanan dari siapa pun untuk memaksanya bermain.

“I don’t have any pressure or no-one is forcing me to play,” tambah Djokovic. “I do it because I really want to and because I still can play as a top-five player. Let’s see what’s the future brings.”