jurnalistik.co.id – Wolf Alice merayakan kembalinya mereka ke panggung “rumah” dengan cara yang terasa intim sekaligus meledak-ledak: di Finsbury Park, London, mereka membawakan Nirvana melalui cover “Smells Like Teen Spirit” di hadapan puluhan ribu penonton.
Konser reuni itu berlangsung pada Minggu, 5 Juli 2026, saat band ini menjatuhkan sorot lampu paling besar pada diri mereka sendiri—sekaligus menegaskan perjalanan panjang yang sudah ditempuh dari awal terbentuk. Ellie Rowsell dan kawan-kawan tampil untuk audiens puncak 45.000 orang, penonton terbesar sepanjang karier mereka.
Di layar video, penonton sempat melihat kilas balik yang menyandingkan masa lalu band dengan masa kini. Cuplikan lama menampilkan Wolf Alice sebagai “pendatang” yang masih serba terbatas—dari perjalanan menggunakan van sempit hingga momen-momen sederhana di ruang kecil—namun semuanya disajikan tanpa pengantar berlebihan dari panggung.
Implikasinya jelas: jarak dari “dulu” ke “sekarang” bukan hanya berubah skala, tetapi juga membentuk identitas mereka. Pembesaran satu penggemar menjadi kerumunan menjadi simbol yang terasa emosional, karena lokasi itu dekat dengan tempat pertemuan mereka.
“I grew up over there and I live over there,” kata Theo Ellis, bassist band, sambil menunjuk ke arah cakrawala dari atas panggung. “You have no idea how much this means to us.”
Alih-alih menjadikan momen tonggak sebagai acara bertele-tele, Wolf Alice justru menyelipkan tawa dan sentuhan korektif melalui permainan panggung mereka. Pada “The Sofa”, Joel Amey menyela dengan gaya yang “menusuk” kesan muluk—membawakan lagu sambil menghamburkan aksen dan melantunkan lirik tentang rasa “stuck in Seven Sisters, Norf Lahn-dan”. Rowsell tampak menahan tawa saat lagu berakhir.
Sebelum konser utama, band juga menebar suasana campuran. Sehari sebelumnya mereka mengunggah postingan Instagram yang berbunyi, “Feeling cheeky hehehehehe and also sick.” Dari nada itu, suasana terlihat serba dua: nyeleneh namun tetap ada kewaspadaan menjelang malam besar.
Di malam itu, mereka membuka pertunjukan pukul 7:50pm dengan “Bloom Baby Bloom”. Lagu ini bergerak dari pembuka piano yang bernuansa funky menuju ledakan rock yang besar—sementara vokal Rowsell beralih dari nada paduan suara menuju jeritan yang mengoyak.
Ritme berangkatnya hampir tidak memberi jeda. Mereka langsung meneruskan dengan “White Horses”, salah satu sorotan dari album terbaru mereka “The Clearing”, sebelum beralih ke katalog lama. Di bagian itu, “Formidable Cool” hadir dengan riff berkarakter “sleazy”, memberi ruang Rowsell untuk beraksi di atas catwalk seolah berada dalam citra glam rock yang sepenuhnya sadar diri.
Set permainan panggung mereka juga memperlihatkan bagaimana Wolfs Alice mengolah pengalaman konser modern tanpa menghilangkan spontanitas. Salah satu momen yang ditunggu-tunggu datang ketika Rowsell mengumumkan, “Say hello to the big ball!” saat sebuah mirrorball raksasa turun ke panggung.
Secara umum daftar lagu mengikuti pola yang sudah dibangun dari rangkaian penampilan festival. Namun, bagi penggemar setia, band menyelipkan beberapa kejutan. “Lisbon” yang merupakan ledakan bising bergaya punk dari album debut tampil lebih jarang dari biasanya. Begitu pula “White Leather”, sebuah balada akustik yang rapuh dengan nuansa folk, yang dulu menjadi sisi-B dari singel debut mereka “Fluffy” pada tahun 2012.
Rowsell menyanyikan “White Leather” dari ketinggian, mengayunkan kaki di atas podium bagian belakang panggung dengan bingkai bintang raksasa yang berkilau. Di sini terlihat bagaimana mereka beradaptasi dengan “level stadium-level stagecraft” sejak menandatangani kesepakatan label besar dengan Sony pada 2024.
Band juga menambahkan elemen kolektif pada puncak-puncak lagu utama. Mereka menyemprotkan konfeti ke arah penonton untuk menandai momen-momen terbesar, sekaligus “menambah” anggota kelima secara kehormatan—Ryan Malcolm—untuk memperkaya bunyi dengan gelombang keyboard serta gitar ritme tambahan.
Berita Terkait
Visual lain yang menguatkan intensitas datang lewat pergantian kostum di tengah set. Rowsell berpindah dari hotpants putih yang rapi menjadi setelan serba hitam, lalu tubuhnya tampak terkena siraman air dingin—seakan melawan panas musim panas yang menyengat.
Saat suara semakin agresif, mereka mengganti suasana menjadi lebih keras dan konfrontatif. Mereka memasuki bagian lagu-lagu yang menuntut tenaga penuh: “Yuk Foo”, kemudian “Play the Greatest Hits” yang diiringi komentar, “it isn’t loud enough”, sebelum meledak ke “Smile”, sebuah pembongkaran keras terhadap misogini dengan riff bass yang menghentak.
Di atas panggung, energi musik itu dilipatkan menjadi gerak. Oddie melempar gitar ke udara dan membiarkannya berputar di lehernya seperti tersetir oleh rasa yang tak terkendali. Ellis mengayunkan tangan, memukul udara dengan kedua kepalan. Rowsell bahkan naik ke drum riser, merebut kacamata “bumblebee” milik Amey, lalu berteriak menggunakan megafon.
Setelah ledakan amarah yang padat, band bergerak seperti sedang menuju rumah—mengalir dari hit-hits yang paling disayangi. Dari “Lipstick on the Glass” hingga “The Last Man on Earth”, semuanya terasa seperti rangkuman yang merangkul masa kini dan ingatan. Pertunjukan kemudian ditutup dengan “Don’t Delete The Kisses” yang bernuansa elegis.
Di sela lagu, Rowsell menyampaikan pesan yang terdengar sederhana namun mengena. “This is a song about love,” katanya. “If you’ve got a crush, you should probably tell them.”
Respons penonton mengalir menjadi bagian dari vokal bersama. Seorang penggemar meneriakkan, “My crush is on you, Ellie,” sementara synth yang berkelindan mendorong paduan chorus yang menjadi hymne: “Me and you were meant to be in loooove !”
Kompilasi hari itu juga menghadirkan penampilan dari The Last Dinner Party, Florence Road, Lykke Li, Rachel Chinouriri, dan Keo, sehingga malam di Finsbury Park seperti menjadi rangkuman festival sehari penuh.
Lalu, datang kejutan yang menegaskan skala emosi. Untuk encore, Wolf Alice mengubah suasana menjadi moshpit yang bergoyang saat mereka meluncur membawakan cover “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana. Pogo meledak di antara penonton, seolah lagu klasik itu berfungsi sebagai jembatan lintas generasi di tengah keramaian.
Mereka menutup dengan “Giant Peach”, lagu tentang tumbuh di London dan “love affair” band dengan “this dark and pretty town”. Saat penghujung datang, Rowsell menyampaikan terima kasih kepada seluruh kru, termasuk pria yang merancang mirrorball berukuran 40 kaki—yang disebutnya, “he’s called ‘Mirrorball Paul’, I’m not making that up”.
Di saat penonton mulai bergerak keluar, pengeras suara memutar “Sweet Caroline” dari Neil Diamond. Band kemudian melakukan putaran kemenangan di catwalk—saling mengangkat satu sama lain ke udara sambil menari dengan lengan saling melingkar.
Perayaan itu terasa tepat untuk tahun yang baru saja mengangkat posisi mereka lebih tinggi. Wolf Alice mencatat album nomor satu kedua mereka dan memenangkan kategori best British group di Brit Awards. Pada bulan Maret, mereka juga dipilih langsung untuk tampil di panggung Teenage Cancer Trust oleh Robert Smith dari The Cure, yang menyebut quartet itu sebagai “at the top of their game”.
Lantas, apa langkah berikutnya? Band memandang ke pasar Amerika Serikat sebagai kelanjutan cerita. Mereka sudah mampu memenuhi teater dengan kapasitas sekitar 2.000 orang di sana dan, dalam satu dekade terakhir, telah memainkan 284 penampilan di Amerika. Namun pada September, mereka siap melangkah lebih besar: terbang untuk menjadi pendukung Olivia Rodrigo pada 18 tanggal arena pertama dari tur dunia penyanyi tersebut.
Rowsell merangkum semangat itu sejak awal konser pulang kampung. “The time is now.” Di Finsbury Park, kalimat itu terdengar bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kesimpulan dari perjalanan yang panjang: persis seperti yang mereka lakukan sepanjang malam—bergerak dari masa lalu, merangkul masa kini, lalu melempar energi itu kembali ke penonton, hingga semuanya terasa seperti perayaan yang tak ingin cepat selesai.






