jurnalistik.co.id – Dalam interaksi sehari-hari, ada kalanya seseorang terlihat baik-baik saja, tetapi tindakannya justru memberi sinyal yang berlawanan. Misalnya, ia mengaku tidak marah, namun kemudian mendiamkan Anda selama berhari-hari atau melontarkan sindiran yang terasa menyakitkan.
Dalam psikologi, perilaku seperti ini dikenal sebagai perilaku pasif-agresif (passive-aggressive behavior), yakni cara mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau ketidaksetujuan secara tidak langsung. Mengutip dari YourTango, orang yang pasif-agresif sering tampak ramah di permukaan, tetapi perilaku mereka menyampaikan pesan yang berbeda.
Secara umum, tanda-tanda pasif-agresif biasanya muncul ketika emosi tidak dibahas secara terbuka. Yang terlihat justru bentuk protes yang “terselubung”, sehingga orang di sekitarnya sering kesulitan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ciri 1: Sering mendiamkan orang lain (silent treatment)
Salah satu bentuk perilaku pasif-agresif yang paling umum adalah memberikan silent treatment atau mendiamkan seseorang. Alih-alih membicarakan masalah secara langsung, pelakunya memilih menghentikan komunikasi sebagai bentuk protes atau hukuman emosional.
Dalam situasi seperti ini, orang lain biasanya dibuat bingung karena tidak memahami apa yang sebenarnya dipersoalkan. Sikap yang tampak seperti “ingin menenangkan diri” bisa terasa netral di permukaan, tetapi pada praktiknya, penghindaran komunikasi justru membuat konflik sulit diproses.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa penghindaran komunikasi saat konflik dapat menurunkan kepuasan hubungan dan memperbesar jarak emosional antarpihak. Dengan kata lain, ketika komunikasi dihentikan dalam waktu lama, hubungan cenderung makin tidak nyaman secara emosional.
Karena itu, mendiamkan orang lain tidak hanya menjadi sinyal emosi, tetapi juga berpotensi memperpanjang ketegangan yang sudah ada. Pola ini membuat masalah yang seharusnya bisa dibahas, justru bergeser menjadi suasana yang tidak jelas dan sulit ditebak.
Ciri 2: Lebih suka menyindir daripada berbicara terus terang
Tanda lain yang sering muncul adalah kebiasaan menyampaikan ketidakpuasan melalui sindiran. Orang pasif-agresif biasanya tidak menyampaikan secara langsung apa yang mengganggu mereka, melainkan menggunakan komentar yang terdengar seperti candaan atau kritik halus.
Alih-alih berkata dengan jelas bahwa ia kecewa, pelaku dapat memakai kalimat yang tampak ringan namun sebenarnya bermuatan kesal. Misalnya, ketika seseorang terlambat, ia mungkin berkata, “Wah, hebat ya, akhirnya datang juga.”
Sindiran dalam konteks ini menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan rasa kesal tanpa harus menghadapi konfrontasi secara langsung. Dari luar, kalimatnya bisa terdengar biasa—bahkan seolah tidak ada masalah—namun bagi penerimanya, pesan yang disampaikan justru terasa tajam.
Pola ini juga sering membuat lawan bicara berada dalam posisi serba salah: ketika menanggapi, suasana bisa makin panas; ketika diam, rasa tidak nyaman tetap tertinggal. Karena emosi dikeluarkan lewat sindiran, pembicaraan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah biasanya tidak terjadi.
Ciri 3: Mengatakan “tidak apa-apa” padahal sebenarnya kesal
Tidak sedikit orang pasif-agresif yang menyangkal perasaan mereka sendiri. Ketika ditanya apakah ada masalah, mereka dapat menjawab “tidak apa-apa” atau “saya baik-baik saja”, meskipun ekspresi wajah, nada bicara, atau perilakunya menunjukkan hal yang berbeda.
Pada praktiknya, penyangkalan ini membuat situasi tidak lurus. Orang di sekitarnya mungkin menerima jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi kemudian melihat kontradiksi dalam cara bertindak: sikapnya berubah, reaksinya kurang hangat, atau jarak emosional tampak nyata.
Kontradiksi semacam ini sering menjadi inti dari perilaku pasif-agresif. Emosi yang sesungguhnya ada, tidak dibawa ke percakapan yang jelas, melainkan diperkecil atau disamarkan melalui jawaban singkat yang menutup peluang untuk membahas masalah.
Ketika perasaan tidak diakui secara langsung, komunikasi yang terbentuk cenderung hanya berjalan di permukaan. Akibatnya, ketegangan bisa bertahan, sementara kebutuhan untuk saling memahami tetap belum tersentuh.
Secara keseluruhan, perilaku pasif-agresif dapat dikenali dari cara emosi disampaikan tanpa keterbukaan: melalui penghindaran komunikasi, sindiran, atau penyangkalan perasaan saat ditanya. Di balik bentuk-bentuk tersebut, ada pesan yang ingin disampaikan, tetapi disampaikan secara tidak langsung sehingga sering menimbulkan salah tangkap.
Jika Anda menemukan pola serupa, fokusnya bukan pada menyalahkan, melainkan memahami bahwa emosi sedang “diekspresikan dengan cara lain”. Dengan begitu, percakapan bisa diarahkan agar lebih jernih dan tidak terjebak pada sinyal-sinyal yang samar.








