jurnalistik.co.id – Sulit terlelap saat pasangan sedang tidak di sisi ternyata bisa berkaitan dengan bagaimana tubuh “belajar” mengaitkan rasa aman dengan waktu istirahat. Banyak orang mengalami hal serupa, terutama ketika kebiasaan tidur bersama tiba-tiba berubah.
Psikolog klinis sekaligus pakar tidur, Dr. Wendy Troxel, menjelaskan bahwa kehadiran pasangan sebelum tidur dapat berperan sebagai sinyal keamanan. Seiring waktu, otak membentuk asosiasi bahwa momen ketika pasangan ada adalah saat yang tepat untuk beristirahat.
“Ketika pasangan menjadi bagian dari rutinitas sebelum tidur, mereka berfungsi sebagai sinyal keamanan yang membantu tubuh lebih mudah tertidur. Saat pasangan tidak ada, sinyal tersebut ikut menghilang,” ujar Troxel, dikutip dari The Guardian, Kamis (2/7/2026).
Dari penjelasan tersebut, yang berubah bukan sekadar situasi di kamar, melainkan “isyarat” yang biasa diterima tubuh. Ketika pasangan bepergian atau harus tidur terpisah, sinyal yang selama ini hadir di awal rutinitas ikut hilang, sehingga tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk memasuki kondisi siap tidur.
Pasangan sebagai bagian dari ritual sebelum tidur
Selain faktor rasa aman, para ahli juga menyoroti mekanisme kebiasaan. Ahli neurologi sekaligus Direktur Northwestern Medicine Center for Sleep, Dr. Hrayr Attarian, menyebut bahwa manusia memiliki kemampuan membentuk kebiasaan melalui proses belajar.
Menurut Attarian, jika seseorang terbiasa tidur bersama pasangan setiap malam, otak akan menghubungkan keberadaan pasangan dengan aktivitas tidur. Kehadiran tersebut kemudian masuk ke dalam pola yang berulang dan akhirnya membentuk respons otomatis saat waktu tidur tiba.
“Orang cenderung tidur lebih baik ketika memiliki ritual tertentu sebelum tidur. Kehadiran pasangan dapat menjadi bagian dari ritual tersebut sehingga tubuh secara otomatis bersiap untuk beristirahat,” jelas Attarian.
Berita Terkait
Pandangan senada disampaikan Wakil Presiden Senior Bidang Penelitian National Sleep Foundation, Dr. Joseph Dzierzewski. Ia menilai, rutinitas sederhana yang dilakukan bersama pasangan sebelum tidur bisa menjadi penanda kuat bahwa waktu istirahat sudah tiba.
“Rutinitas sederhana yang dilakukan bersama pasangan sebelum tidur, seperti membaca buku, mengobrol, atau mematikan ponsel bersama, dapat menjadi sinyal kuat bahwa waktu tidur telah tiba,” kata Dzierzewski. Rutinitas inilah yang membantu tubuh masuk ke kondisi rileks, sehingga seseorang lebih mudah tertidur.
Dengan kata lain, yang membuat transisi menuju tidur terasa lebih mudah adalah konsistensi ritual. Saat elemen ritual itu hilang—misalnya karena pasangan tidak berada di rumah—proses relaksasi yang biasanya berjalan cepat dapat melambat.
Rasa aman dan kedekatan yang menenangkan
Troxel juga menambahkan bahwa kehadiran pasangan tidak hanya soal kebiasaan, tetapi juga rasa aman yang berdampak pada kualitas tidur. Ia menyebut tidur atau berpelukan dengan pasangan dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin.
Oksitosin ini dikenal sebagai “hormon cinta” yang memiliki efek menenangkan dan membantu mengurangi kecemasan. Saat kecemasan menurun, tubuh menjadi lebih rileks, sehingga proses untuk tertidur pun terasa lebih mudah.
Tak hanya itu, kehadiran pasangan menghadirkan kedekatan emosional yang membuat seseorang merasa nyaman ketika beristirahat. Kenyamanan itu menjadi bagian penting dari kesiapan tubuh untuk tidur.
Namun, ketika pasangan sedang bepergian, menjalani hubungan jarak jauh (LDR), atau harus tidur terpisah karena alasan tertentu, sebagian orang merasakan kehilangan rasa nyaman tersebut. Akibatnya, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur, karena sinyal kebiasaan dan rasa aman yang biasanya menyertai rutinitas tidak lagi muncul.
Dengan memahami penjelasan para pakar ini, perubahan jadwal tidur saat pasangan tidak ada bisa dilihat sebagai konsekuensi dari pergeseran rutinitas dan sinyal yang selama ini sudah terbentuk. Pada banyak kasus, penyesuaian itu terjadi karena tubuh kehilangan “pegangan” yang biasa mengantarkan ke kondisi siap tidur.








