jurnalistik.co.id – Kelenteng Setia Budi di Dusun Cengel, Merawang, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, menyiapkan rangkaian Sembahyang Rebut yang akan berpuncak pada 27 Agustus 2026.
Perayaan ini menghadirkan pembakaran patung Raja Neraka setinggi 12 meter sekaligus lelang payung pada malam puncak di hari ke-15 bulan tujuh menurut penanggalan Tionghoa.
Patung Raja Neraka dan malam puncak
Menurut Ketua Kelenteng Setia Budi, Hip Han, patung Raja Neraka serta sejumlah ornamen dewa telah disiapkan untuk dibakar saat malam puncak.
Ia menyebut pembakaran patung tersebut merupakan bagian dari tradisi yang berlangsung rutin setiap tahun. “Ini tradisi kuno saat belum mengenal agama. Bermakna sebagai doa keselamatan, murah rezeki, dan terhindar dari marabahaya,” kata Hip Han kepada Kompas.com pada Minggu (26/7/2026).
Hip Han memperkirakan ribuan warga akan memadati Tapekong untuk menyaksikan rangkaian acara. “Tahun lalu ramai, sekarang kami buat lebih meriah lagi. Lokasi parkir disiapkan di sebelah kelenteng,” ujarnya.
“Rebut” dari hasil panen
Hip Han menjelaskan istilah Sembahyang Rebut merujuk pada kebiasaan menyediakan hasil panen berupa buah dan sayur-sayuran di halaman kelenteng.
Setelah persiapan dilakukan, masyarakat kemudian saling berebut untuk mengambil hasil panen tersebut pada malam hari sebelum prosesi pembakaran patung Raja Neraka dimulai.
Ia menegaskan rangkaian acara tidak berhenti di momen perebutan hasil panen saja, tetapi berlanjut ke tahap puncak yang diisi pembakaran patung-patung dewa.
Lelang payung menyertai prosesi puncak
Usai Sembahyang Rebut, panitia akan melelang sejumlah payung yang disisipkan pada bagian puncak patung.
“Para dermawan atau donatur mengikuti lelang payung dengan harga tertinggi pernah mencapai Rp 150 juta. Sementara payung lain ada yang dibeli Rp 7 juta sampai Rp 10 juta,” ujar Hip Han.
Berita Terkait
Lelang payung ini, menurutnya, menjadi penanda acara puncak yang kemudian langsung diikuti pembakaran patung-patung.
Dalam kepercayaan tradisional, payung-payang hasil lelang diyakini mendatangkan keselamatan serta berfungsi sebagai pembuka pintu rezeki. “Dipercaya memperlancar rezeki dan terhindar dari hal yang sifatnya mengganggu,” kata Hip Han.
Persiapan dan suasana lokasi
Sejumlah panitia tampak masih bergotong royong menyiapkan berbagai perlengkapan acara di sekitar kelenteng.
Selain berlangsung di halaman kelenteng, ruas jalan menuju lokasi juga dilengkapi gerbang naga serta tiang-tiang kayu untuk lampion.
Dengan penataan tersebut, suasana di area Tapekong diarahkan agar mendukung rangkaian kegiatan sejak tahap awal hingga puncak pada 27 Agustus 2026.
Diorama perjalanan arwah
Panitia acara, Imel, menambahkan bahwa pada perhelatan tahun ini Sembahyang Rebut dilengkapi diorama perjalanan arwah.
“Replika kapal ini sebagai simbol perjalanan arwah yang kemudian disidang oleh raja neraka . Ada sosok naga dan Dewi Kwan Im juga nantinya,” ujar Imel.
Imel menyebutkan elemen-elemen visual dalam diorama tersebut disiapkan sebagai bagian dari rangkaian makna yang melekat pada prosesi, sebelum akhirnya berujung pada pembakaran patung Raja Neraka.
Digelar di kelenteng tertentu
Hip Han juga menjelaskan bahwa tradisi Sembahyang Rebut yang disertai pembakaran patung raja neraka hanya digelar pada kelenteng tertentu di Bangka.
Menurut pertimbangan panitia, lokasi yang dipilih harus memiliki lapangan terbuka serta jauh dari permukiman warga agar pelaksanaan berjalan lebih tertib dan aman bagi masyarakat di sekitar.
Dengan jadwal yang beririsan dengan hari ke-15 bulan tujuh penanggalan Tionghoa, perhelatan tahun ini dijadwalkan berlangsung pada malam puncak tepat pada 27 Agustus 2026, dan menggabungkan tradisi perebutan hasil panen dengan prosesi lelang payung serta pembakaran patung Raja Neraka.







