Daerah

Ojol di Bangka Terdampak Antrean BBM Berjam-jam di SPBU, Order Susut hingga Rp200.000 per Hari

×

Ojol di Bangka Terdampak Antrean BBM Berjam-jam di SPBU, Order Susut hingga Rp200.000 per Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ojol di Bangka Keluhkan Antrean BBM Berjam-jam, Kehilangan Order hingga Rp 200.000 Sehari

jurnalistik.co.id – Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bangka mulai berdampak langsung pada aktivitas pengemudi ojek online (ojol). Dalam kondisi antre yang berlangsung berjam-jam, waktu kerja tersita, sementara kesempatan menerima pesanan ikut berkurang.

Ketua Umum Komunitas Ojek Online Unit Reaksi Cepat (URC) Pangkalpinang, Revi Setiawan, menyampaikan bahwa anggota komunitasnya kini harus mengantre satu hingga dua jam untuk mengisi BBM. Ia menilai jam terpakai yang habis di SPBU itu berimbas pada pendapatan, khususnya bagi pengemudi yang menggunakan mobil.

Waktu terbuang saat antre

Revi mengatakan, antrean membuat kendaraan membutuhkan waktu lebih lama di lokasi pengisian, sehingga operasional ikut terganggu. “Dari anggota komunitas kita terutama yang pakai mobil, bahan bakar ikut tersedot banyak saat mengantre lama,” kata Revi saat ditemui, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, antrean juga bisa makin panjang ketika SPBU sedang melakukan pembongkaran BBM dari mobil tangki. “Pembongkaran dari mobil tangki ke SPBU bisa satu setengah jam, ditambah antrean panjang dari kendaraan yang sudah ada,” ujarnya.

Di luar soal lamanya antre, Revi menyebut ada beban biaya operasional lain yang muncul selama kendaraan menunggu. Ia menilai penggunaan BBM bertambah dan ada kerugian karena pengemudi perlu mematikan aplikasi cukup lama agar tidak menerima pesanan ketika antre masih berlangsung. “Pemakaian minyak mobil jadi bertambah ditambah kerugian karena harus mematikan aplikasi cukup lama,” kata Revi.

Revi memperkirakan pengemudi ojol kehilangan pendapatan hingga Rp 200.000 per hari karena tidak dapat menerima pesanan selama mengantre. Dengan pola kerja yang bergantung pada respons pesanan masuk, jeda yang panjang di SPBU membuat pendapatan harian ikut menurun.

Peralihan dari Pertamax ke Pertalite

Revi menilai antrean semakin panjang seiring banyaknya masyarakat yang beralih dari Pertamax ke Pertalite. Ia menyebut selisih harga yang makin lebar mendorong perubahan pilihan konsumen, sehingga volume kendaraan yang menuju SPBU juga meningkat.

“Selisihnya sudah sampai Rp 6.000 per liter. Dulu antre sedikit masih sanggup ambil Pertamax, sekarang semua beralih ke Pertalite,” ujarnya. Menurut kacamata komunitas ojol, perubahan pola permintaan inilah yang memperbesar antre di titik-titik layanan Pertalite.

Karena itu, Revi mengusulkan agar pemerintah menurunkan harga Pertamax agar beban antre di SPBU Pertalite dapat berkurang. “Kami perkirakan dengan harga Pertamax turun menjadi Rp 13.000 per liter masih bisa dijangkau masyarakat sehingga tak lagi bergantung pada Pertalite,” katanya.

Selain fokus pada harga, ada pula harapan agar ketersediaan layanan semakin memadai. Keluhan serupa disampaikan oleh pengemudi ojol bernama Firman yang saat itu sedang mengantre di SPBU Pasar Pagi.

Firman berharap pemerintah menambah SPBU yang melayani Pertalite atau menurunkan harga Pertamax. Ia menekankan bahwa antrean yang terlalu lama membuat pengemudi sulit mempertahankan ritme kerja, sehingga pendapatan ikut tertekan di hari-hari ketika pengisian berlangsung tidak cepat.

Dengan kondisi antre yang terjadi berulang, persoalan operasional ojol tidak hanya soal waktu tunggu di SPBU, tetapi juga terkait biaya yang bertambah dan hilangnya peluang menerima pesanan. Komunitas ojol menilai langkah kebijakan—melalui penyesuaian harga atau penambahan kapasitas layanan—dapat menjadi jalan untuk menekan antrean sekaligus mengurangi dampak pada penghasilan pengemudi.

Revi menambahkan bahwa gangguan tidak berhenti pada lamanya kendaraan berada di area pengisian. Ketika antre menyita waktu, pengemudi cenderung kehilangan momentum untuk menerima pesanan, baik karena harus menunggu di lokasi maupun karena perlu mengatur waktu agar tidak ada pesanan masuk selama proses pengisian berlangsung. Dampaknya terasa langsung pada penghasilan harian.

Di sisi lain, penilaian komunitas juga mengarah pada perubahan perilaku konsumen yang turut memanjangkan antre. Selisih harga yang disebut sudah mencapai Rp 6.000 per liter membuat pilihan jatuh pada Pertalite, sehingga arus kendaraan ke SPBU ikut meningkat. Kondisi ini membuat pengemudi semakin sulit memprediksi kapan pengisian bisa selesai sesuai ritme kerja mereka.

Karena itu, harapan yang muncul bukan hanya soal harga, melainkan juga kapasitas layanan. Firman dan komunitas ojol menekankan agar pemerintah menambah SPBU yang melayani Pertalite atau menurunkan harga Pertamax, sehingga antrean tidak lagi berlangsung terlalu lama. Dengan langkah tersebut, pendapatan yang turun saat antre panjang bisa ditekan dan ritme operasional pengemudi menjadi lebih stabil.