jurnalistik.co.id – Warga di lereng Gunung Lawu, tepatnya Dusun Mener RT 2 RW 3 Desa Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mengubah suasana kampung mereka menjadi panggung perayaan. Menjelang Hari Kemerdekaan, mereka menghias jalan sepanjang sekitar 600 meter dengan berbagai ornamen bernuansa HUT RI.
Pengamatan di lokasi pada Minggu (26/7/2026) siang menunjukkan belasan penjor dari kain busa berwarna-warni terpasang di depan rumah warga serta di sudut-sudut jalan. Penjor tersebut menjadi penanda kegiatan sekaligus pelengkap dekorasi di sepanjang akses kampung.
Sambil menata penjor, warga juga mengecat bagian jalan yang telah digambar pola motif batik. Pola yang dikerjakan meliputi batik parang dan batik kawung, dikerjakan menggunakan cat yang disiapkan dalam berbagai warna. Di sela-sela pekerjaan, mereka tetap bergotong royong agar pengerjaan selesai tepat waktu.
Sejumlah warga yang lain memilih langkah persiapan lebih dulu sebelum dekorasi dilakukan. Jalan yang belum dihias dibersihkan menggunakan air, lalu digosok memakai sikat agar permukaannya siap menerima cat. Setelah tahap ini, warga melanjutkan proses pengecatan mengikuti sketsa motif.
Selain motif batik parang dan kawung, dekorasi di jalan kampung juga memuat ragam gambar dan pola warna. Ada motif kotak-kotak dengan kombinasi warna-warni, gambar lumba-lumba, serta unsur perayaan HUT ke-81. Gabungan elemen tersebut membuat pemandangan di sepanjang jalan menjadi lebih ramai, baik dari dekat maupun saat dilihat saat melintas.
Aktivitas menghias kampung ini berlangsung di tengah kesibukan warga sehari-hari. Di waktu yang tersedia, mereka menyelipkan pengerjaan dekorasi sambil bekerja, termasuk menggarap lahan atau bertani. Cara seperti itu membuat persiapan perayaan terasa melekat pada rutinitas warga, bukan hanya kegiatan sesaat.
Kegiatan ini turut menarik perhatian orang luar yang kebetulan melintas di jalan kampung tersebut. Warga yang sedang mengecat dan memasang ornamen kerap menjadi tontonan, karena hasil pola batik dan penjor memberi daya tarik tersendiri di tengah suasana desa.
Koordinator kegiatan, Suparmo, menjelaskan bahwa inisiatif menghias jalan kampung dalam rangka menyambut HUT RI sudah menjadi tradisi yang kembali dilakukan. Menurutnya, ini merupakan kali ketiga kegiatan serupa digelar di lokasi tersebut, setelah sebelumnya berlangsung pada 2018 dan 2025.
Berita Terkait
Suparmo menyampaikan, βIni (menghias jalan kampung) untuk memeriahkan HUT RI,β katanya kepada Kompas.com pada Minggu (26/7/2026). Pernyataan itu menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan adalah menghadirkan suasana perayaan yang bisa dinikmati bersama.
Awalnya, warga sempat hanya merencanakan dekorasi dengan penjor saja. Namun seiring diskusi, mereka mengembangkan ide agar penataan kampung lebih menonjol dan bertahan lebih lama. Penjor dari kain busa dipilih karena dinilai lebih awet dibanding janur yang mudah layu.
Selain pertimbangan bahan, warga juga terbantu dari sisi ketersediaan bahan baku. Suparmo menyebut ada pihak perusahaan cat yang menawarkan bantuan, sehingga dukungan bahan untuk pengecatan menjadi lebih siap. Bantuan tersebut berupa cat dengan jumlah 390 kg dan terdiri dari berbagai warna.
Dalam kesempatan itu, Suparmo menuturkan, βEkonomi lagi tidak baik-baik saja, kalau di- endorse saya mau,β ucapnya. Kalimat tersebut menggambarkan kondisi dan pertimbangan warga saat menerima dukungan bahan untuk kebutuhan pengecatan.
Mengenai pilihan motif, warga menggunakan batik sebagai bagian dari upaya menghadirkan suasana yang lebih meriah sekaligus mengangkat budaya Jawa. Dengan motif seperti parang dan kawung yang menjadi ciri batik, mereka berupaya agar dekorasi HUT RI tidak hanya berupa ornamen perayaan, tetapi juga memuat identitas kultural yang dipahami bersama.
Panjang jalan kampung yang dihias menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan kegiatan ini. Dengan bentang sekitar 600 meter, pekerjaan mengecat dan penataan ornamen membutuhkan ketelitian agar pola tetap sesuai sketsa awal dan hasil akhirnya rapi saat dilihat dari berbagai titik.
Hingga menjelang siang, suasana kerja kolektif masih terasa jelas di lokasi. Ada yang memadankan warna cat, ada pula yang menyelesaikan bagian-bagian motif agar tampak menyatu sebagai satu hamparan dekorasi. Penjor busa yang terpasang di beberapa titik menambah kesan perayaan sepanjang jalan kampung.
Bagi warga, kegiatan ini menjadi cara untuk merayakan kemerdekaan dengan kontribusi yang lahir dari lingkungan sendiri. Melalui gotong royong, mereka menampilkan kreativitas sekaligus menegaskan bahwa perayaan HUT RI bisa diwujudkan lewat ruang publik kampungβyang dekat, nyata, dan bisa dinikmati oleh banyak orang.












