Peristiwa

Gangguan pasokan air menghambat kedua terminal Bandara Gatwick

×

Gangguan pasokan air menghambat kedua terminal Bandara Gatwick

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Water supply problem affects both terminals at Gatwick Airport

jurnalistik.co.id – Kedua terminal Bandara Gatwick saat ini terdampak gangguan pasokan air. Aktivitas di area publik ikut terganggu, termasuk layanan kebersihan dan jam operasional sejumlah fasilitas.

Menurut keterangan bandara, gangguan ini memengaruhi pasokan air di lokasi tersebut dan masih dalam tahap penyelidikan. Dalam pernyataan di akun X, Bandara Gatwick menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Bandara menyebut ada masalah di wilayah Horley yang berdampak pada suplai. Sebagai langkah kontinjensi, air minum kemasan disediakan untuk penumpang maupun staf selama proses penanganan berlangsung.

Di lapangan, gangguan dilaporkan berdampak pada toilet yang tidak dapat digunakan. Selain itu, sejumlah restoran juga dilaporkan tutup sementara.

Perusahaan penyedia layanan air, SES Water, yang melayani bagian Kent, Surrey, serta London Selatan, menyatakan sedang bekerja untuk memulihkan layanan normal. Mereka juga menegaskan bekerja bersama dengan pihak bandara selama proses pemulihan dilakukan.

Juru bicara SES Water menjelaskan bahwa kendala disebabkan sejumlah komplikasi yang timbul akibat pemadaman listrik di Bough Beech Water Treatment Works. “Due to a number of complications caused by a power outage at our Bough Beech Water Treatment Works, some customers are experiencing low water pressure or a temporary loss of supply.”

SES Water mengatakan timnya berupaya mengatasi komplikasi tersebut dan mengembalikan kemampuan instalasi pengolahan untuk memasok air “as quickly as we can.” Mereka juga menyebut Gatwick Airport ikut terdampak, serta bekerja bersama bandara untuk pemulihan secepat mungkin.

Seorang penumpang bernama Paul Lee menyampaikan bahwa ia tidak mendengar adanya pengumuman terkait gangguan itu. Ia juga mengaku tidak melihat pembagian air minum kemasan untuk penumpang sebagaimana yang disebutkan.

Lee mengatakan toilet menjadi masalah utama, terutama bagi penumpang yang membutuhkan akses segera. Ia menuturkan: “For people who need to go to the toilet, this isn’t good, and still no announcement or official information – and the water they mentioned isn’t being distributed.”

Menurut Lee, restoran dan lounge tutup, sedangkan toko tetap buka. Ia menambahkan konteks perjalanan pribadinya: “I’m taking off soon, so that’s fine, but for passengers in a few hours, this will be bad.”

Lebih jauh, Michael Dugher—mantan anggota parlemen dan mantan CEO UK Music—mendesak bandara agar tetap menyediakan tempat duduk meski sejumlah fasilitas tutup. Ia menyampaikan seruannya lewat media sosial: “at least allow people to use the chairs in all the closed restaurants and bars”.

Dugher menekankan bahwa masalah tidak berhenti pada ketersediaan air, melainkan juga soal akses tempat duduk bagi keluarga dan penumpang lainnya. “No water is one thing but depriving people of somewhere to sit is another… families are having to sit on the floor.”

Penumpang lain, Roger Wood dari Tunbridge Wells, menyatakan bahwa ia awalnya menduga temannya bercanda ketika mengatakan tidak ada restoran atau bar terbuka di terminal selatan bandara. Saat ia tiba untuk bertemu sebelum penerbangan pada Minggu, ia menemukan bahwa fasilitas tersebut benar-benar tutup dan pasokan air tidak tersedia.

Wood mengatakan kondisi yang ia lihat mencakup penutupan tempat seperti Nando’s dan Wetherspoon, serta staf yang mengarahkan orang untuk tidak masuk. Ia menuturkan: “there was no water at all – no Nando’s, no Wetherspoon, all of those places were completely shut and stopping people coming in as there was no fresh water or ability to wash hands”.

Wood juga menyebut biasanya Wetherspoon sangat ramai, namun saat kejadian hanya ada staf di setiap pintu yang menolak kedatangan. Ia menambahkan bahwa satu-satunya opsi makanan yang bisa dibeli adalah gerai seperti Pret dan Itsu yang menjual makanan dalam kemasan.

Ia menjelaskan penumpang masih bisa masuk ke toilet, tetapi tidak ada cara untuk mencuci tangan. “The only place you could buy something was places like Pret and Itsu where it was packaged food, or shops.” Ia menambahkan bahwa dalam satu sampai dua jam, situasi yang ia lihat makin memburuk.

Di sisi maskapai, Easyjet juga mengeluarkan pernyataan terkait penyesuaian layanan karena gangguan pasokan air di London Gatwick Airport. Maskapai menyebut meja bag drop dibuka sementara dua jam sebelum keberangkatan, bukan tiga jam sebelumnya.

Easyjet meminta penumpang tidak datang lebih awal karena proses penitipan bagasi dan akses ruang tunggu bergantung pada pembukaan bag drop. “Please do not arrive earlier, as you will not be able to drop off your bags or enter the departure lounge until bag drop opens.”

SES Water memastikan sejumlah area di Kent dan sebagian wilayah Surrey juga mengalami ketiadaan pasokan atau tekanan rendah. Perusahaan menyatakan postcodes Kent TN8 dan TN11 serta bagian dari postcodes Surrey RH1, RH6, dan RH10 tidak memiliki pasokan air atau mengalami tekanan rendah.

SES Water mengatakan pihaknya menyalurkan air minum kemasan kepada pelanggan yang termasuk kelompok rentan. Mereka juga menegaskan koordinasi dengan bandara dilakukan sambil proses pemulihan layanan dikejar.

Gangguan serupa pernah terjadi pada Juli 2022, ketika tekanan air yang rendah akibat pecahnya pipa utama berdampak pada 1.200 rumah. Pada saat itu, fasilitas toilet di bandara juga dilaporkan ditutup.