Otomotif

Baterai Hybrid KW Berpotensi Bikin Mobil Lebih Boros

0
×

Baterai Hybrid KW Berpotensi Bikin Mobil Lebih Boros

Sebarkan artikel ini
Baterai Hybrid Palsu Bisa Bikin Mobil Lebih Boros Otomotif 6 Juni 2026
Ilustrasi: Baterai Hybrid Palsu Bisa Bikin Mobil Lebih Boros

jurnalistik.co.id – Penggunaan baterai non-original atau palsu (KW) pada mobil hybrid tidak selalu langsung membuat kendaraan rusak. Namun, baterai KW dapat mengganggu cara kerja sistem hybrid dan berujung pada konsumsi bahan bakar yang lebih boros dalam pemakaian jangka panjang.

Menurut Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono, kasus penggunaan baterai KW masih ditemukan pada sejumlah mobil hybrid yang datang ke bengkel spesialis. Ia menjelaskan, baterai non-original biasanya dipakai untuk menggantikan beberapa sel yang mengalami kerusakan agar biaya perbaikan lebih murah dibandingkan memakai komponen original.

“Contohnya baterai Toyota Camry Hybrid, satu pack baterai itu terdiri dari 34 sel. Kemudian ada lima sel baterai yang KW, itu bisa mempengaruhi kesehatan baterai, walaupun mungkin hanya beberapa persen saja,” kata Yogig saat ditemui di Jakarta Utara, belum lama ini.

Yogig menekankan, masalah yang muncul tidak terutama berasal dari perbedaan spesifikasi baterai. Yang menjadi titik perhatian adalah karakter kerja baterai KW yang tidak sama dengan baterai original, sehingga memengaruhi performa saat proses pengisian dan pemakaian berlangsung.

Pengisian dan pelepasan daya jadi tidak selaras

Baterai non-original, menurut Yogig, cenderung lebih cepat terisi penuh ketika proses pengisian daya berlangsung. Meski demikian, baterai KW juga lebih cepat habis saat digunakan, sehingga sel-sel dalam satu paket tidak bekerja secara seimbang.

“Biasanya baterai yang KW itu lebih cepat ngecas dan lebih cepat habis juga. Jadi tidak bareng-bareng atau bersamaan habisnya dan ngecasnya,” kata Yogig.

Kondisi semacam ini kemudian akan dibaca oleh Battery Management System (BMS), yaitu sistem yang memantau kondisi baterai hybrid. Ketika ada satu atau beberapa sel yang lebih cepat mencapai kondisi tertentu, BMS akan merespons sesuai bacaan tersebut.

Yogig menjelaskan mekanismenya: ketika salah satu sel dalam paket lebih dulu penuh, sistem akan menganggap proses pengisian sudah mencapai batas yang dibaca dari kondisi sel tersebut. Begitu pula saat pelepasan daya, penyesuaian kinerja mengikuti kondisi sel yang paling lemah.

“Kalau misalnya ada salah satu baterai dari 34 sel itu penuh duluan, pasti BMS membaca baterai ini sudah penuh duluan. Begitu juga sebaliknya,” ujar Yogig.

Dampak paling terasa: efisiensi bahan bakar menurun

Dari sisi pemilik kendaraan, dampak yang paling mudah dirasakan adalah penurunan efisiensi bahan bakar. Saat sistem hybrid tidak berjalan optimal akibat karakter baterai yang tidak seragam, kerja mesin bensin akan menjadi lebih sering untuk membantu menggerakkan kendaraan sekaligus membantu pengisian daya baterai.

Dengan demikian, pola pengoperasian hybrid menjadi kurang efisien dibandingkan kondisi baterai yang bekerja selaras. Mesin bensin yang lebih sering terlibat berarti penggunaan bahan bakar untuk mendukung mobilitas dan pengisian tidak lagi seimbang seperti seharusnya ketika sistem bekerja dengan performa baterai yang sesuai.

Intinya, meski baterai KW tidak selalu langsung menimbulkan kerusakan secara instan, efek ketidaksamaan karakter antar-sel tetap bisa memengaruhi kerja sistem hybrid. Dari bacaan BMS hingga penyesuaian kinerja saat pengisian maupun pelepasan daya, perbedaan sel tersebut berpotensi mendorong kendaraan mengonsumsi bahan bakar lebih banyak.

Dalam praktiknya, sumber masalah berada pada ketidakseragaman sel di dalam satu paket baterai, termasuk contoh yang disampaikan Yogig pada baterai Toyota Camry Hybrid berisi 34 sel. Ketika sebagian sel—seperti lima sel yang disebut KW—tidak memiliki karakter kerja yang sama dengan sel lainnya, keseimbangan performa ikut terganggu, dan ujungnya dapat tercermin pada efisiensi BBM yang lebih rendah.

Karena itu, pemakaian baterai non-original atau palsu (KW) perlu dilihat bukan hanya dari kemungkinan kerusakan langsung, melainkan dari potensi gangguan terhadap performa sistem hybrid. Dalam jangka panjang, gangguan tersebut dapat berdampak pada konsumsi bahan bakar yang lebih boros.