Entertainment

BBC Fake or Fortune menemukan lukisan abad ke-18 karya Katherine Read yang dinilai lebih dari £100.000

×

BBC Fake or Fortune menemukan lukisan abad ke-18 karya Katherine Read yang dinilai lebih dari £100.000

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fake or Fortune: BBC programme uncovers 'enormously important' 18th Century painting

jurnalistik.co.id – Program BBC Fake or Fortune menelusuri sebuah lukisan potret abad ke-18 yang akhirnya dinyatakan sebagai karya Katherine Read—seorang pelukis potret Skotlandia. Karya itu kini diperkirakan bernilai lebih dari £100.000.

Perjalanan penemuannya berawal ketika potret tersebut dibawa ke tim produksi dengan cara yang tak biasa: dibungkus dalam sleeping bag. Setelah diperiksa, potret itu dibahas kembali melalui jejak keluarga Mary-Louise Wedderburn, seorang pensiunan akuntan.

Wedderburn menjelaskan bahwa lukisan itu awalnya ditinggalkan oleh pamannya lewat wasiat, dan ia menerimanya “dua dekade” lalu. Sejak masa awal memiliki karya tersebut, ia meyakini ada kemungkinan besar lukisan itu dibuat oleh Katherine Read, yang disebutnya sebagai kerabat jauh sekaligus figur yang dikenal menggarap tema perempuan dan anak-anak.

Dalam lukisan tersebut, seorang perempuan India tampil dalam pose formal. Ia mengenakan untaian mutiara, sebuah liontin zamrud berukuran besar, serta cincin hidung. Visual seperti ini menjadi bagian penting dalam upaya pembacaan identitas sosok yang digambarkan—termasuk dugaan keterkaitannya dengan lingkungan istana.

Charles Greig, sejarawan seni yang ikut menganalisis, menilai proses telaah terhadap karya itu termasuk paling sulit yang pernah ia hadapi. Ia menyebut, “one of the trickiest paintings I’ve ever had to consider”. Dalam episode yang ditayangkan pada Kamis, Greig juga menyatakan keyakinannya setelah bukti-bukti dikumpulkan, “On the basis of all the evidence put together, I am entirely certain that this painting is by Katherine Read.”

Wedderburn, setelah mengetahui hasil autentikasi dan proyeksi nilai, merespons dengan nada yang sama kuat. Ia mengatakan: “It’s wonderful, it’s unbelievable. Thank you so much.” Ia menekankan alasan personal di balik rasa terkejutnya, “It’s just so important to me that it’s by Katherine Read, because of the family connection, but also because of who she was.” Ia menambahkan, “The more that we find out about Katherine Read, the more I think she was just a wonderful woman, she was just super.”

Autentikasi karya dilakukan melalui pendekatan yang menggabungkan pencarian perbandingan karya Read, penelusuran arsip keluarga, dan diskusi dengan para ahli. Tim juga mengumpulkan surat, wasiat, serta petunjuk yang membantu memperluas gambaran tentang kehidupan Read di India. Dari rangkaian itu, disusun kaitan kemungkinan siapa saja yang mungkin menjadi subjek pelukisan di Chennai—yang pada masa itu dikenal sebagai Madras—termasuk rujukan ke Nawabs of Arcot dan penguasa Mughal setempat.

Greig menjelaskan elemen yang ia anggap paling menentukan dalam “dossier” yang dipakai untuk analisis, yaitu telaah teknis yang dilakukan Courtauld. Ia menyoroti bukti-bukti yang terlihat dari kemiripan teknik, termasuk “the pigments, the modelling of the figures, the brushwork, were very conclusive” melalui perbandingan dengan potret yang dikaitkan dengan Helena Beatson.

Selain soal atribusi, Greig juga mengangkat keunikan identitas sitternya. Ia mengatakan, “One of the most interesting things about this painting is that I’m pretty certain that she [the sitter] is a member of the Nawab’s family in Madras.” Menurut Greig, temuan semacam ini tergolong jarang karena umumnya potret perempuan India pada periode tersebut lebih sering berhubungan sebagai pendamping atau istri figur Eropa. Greig menilai, “That is extremely unusual because most of the other portraits of Indian ladies are a companion, or sometimes a wife, of a European.” Ia menambahkan bahwa ia tidak dapat mengingat contoh lain pada periode itu yang memperlihatkan perempuan India yang menjadi bagian dari lingkungan istana alih-alih rumah tangga Eropa, sehingga ia menyimpulkan, “That makes it enormously important.”

Art dealer sekaligus presenter Philip Mould menyambut hasil ini sebagai langkah yang membuka lebih banyak peluang untuk menyingkap karya-karya lain dari Read. Ia menilai, “What a wonderful result, I’m sure we’re going to see more works by this pioneering woman artist in India coming out of the woodwork.”

Fiona Bruce kemudian menempatkan makna publikasinya pada dampak yang lebih luas. Ia berharap, bila karya itu memenuhi keinginan Wedderburn, lukisan tersebut dapat dipamerkan sehingga menjangkau audiens lebih luas. Bruce mengatakan, “If, as Mary-Lou wants, it can be in an exhibition, in a gallery, where the whole world can see this picture, Mary-Lou will have given this woman not only a voice, but she will be seen.” Ia menutup dengan gambaran bahwa karya itu akan kembali “hidup” di ruang publik, “In a sense she will be brought to life and I think that’s just a brilliant result.”

Dalam konteks sejarah seni, Read sendiri digambarkan sebagai pelukis potret yang menempuh pendidikan di Eropa dan bekerja di lingkaran elite, hingga namanya dikenal memperoleh bayaran yang lebih tinggi dibanding beberapa kolega sezaman yang lebih populer, termasuk Gainsborough. Namun seperti banyak seniman perempuan lain, popularitasnya kemudian meredup ketika selera berubah dan sejumlah potret pernah dialihkan atribusinya kepada seniman laki-laki. Temuan kali ini memberi penegasan bahwa ada bagian penting dari narasi tersebut yang masih bisa dipulihkan.