Internasional

Inggris Siap Membela Diri 24/7 setelah Iran Sebut Pangkalan AS di Inggris sebagai “Target yang Sah”

×

Inggris Siap Membela Diri 24/7 setelah Iran Sebut Pangkalan AS di Inggris sebagai “Target yang Sah”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: UK 'ready to defend itself' after Iran says bases are 'legitimate targets'

jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris menyatakan “stands ready 24/7 to defend itself” setelah Iran menyebut pangkalan-pangkalan di Inggris yang dipakai militer Amerika Serikat sebagai “legitimate targets”. Pernyataan ini muncul di tengah gelombang serangan AS terhadap sasaran di Iran.

Menurut laporan BBC, Inggris mengizinkan operasi “defensive” dari pangkalan-pangkalan di wilayahnya yang menampung personel dan pesawat militer AS. Pada saat yang sama, Inggris menolak ikut bekerja sama dalam operasi ofensif terhadap Iran.

Di pihak Iran, pernyataan tersebut dibalas dengan bahasa yang lebih tajam. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Inggris sebagai “accomplice” dalam perang AS. Sementara itu, sayap militer IRGC yang berpengaruh menyatakan bahwa negara mana pun yang mendukung AS secara militer “will be responsible for the consequences and repercussions”.

Komentar Iran pada 23 Juli juga datang setelah Amerika Serikat menjalankan serangkaian serangan malam yang berulang terhadap target di Iran. Dalam konteks ini, BBC menulis bahwa serangan tersebut merupakan “12th consecutive night of strikes against targets in Iran”.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengkritik pemerintah Inggris dan mantan Perdana Menteri Sir Keir Starmer. Kritik Trump berangkat dari penilaian bahwa Inggris kurang mendukung perang yang sedang ia jalankan. Komentar Iran pada 23 Juli, menurut laporan, berupaya membingkai Inggris sebagai pihak yang ikut terlibat dalam kampanye tersebut.

Dalam sejarah kebijakan yang disinggung, pada bulan Maret—beberapa hari setelah perang yang dipimpin AS dan Israel—pihak AS diberikan izin menggunakan pangkalan di Inggris. Di antara yang disebut adalah RAF Fairford di Gloucestershire serta Diego Garcia di Samudra Hindia. Izin itu digunakan untuk menarget infrastruktur militer Iran yang diyakini dipakai menyerang negara-negara di Teluk dan juga kapal-kapal di Selat Hormuz.

BBC menyebut bahwa keputusan izin tersebut tidak diubah oleh Perdana Menteri baru Andy Burnham. Pemerintah Inggris juga diberitahu pekan lalu bahwa kesepakatan dengan AS akan diperpanjang.

Dalam pernyataan yang diterbitkan pada 23 Juli oleh Tasnim News Agency—media yang terafiliasi IRGC—kelompok itu menyatakan misi pemboman militer AS telah diluncurkan dari RAF Fairford dua hari sebelumnya. BBC menambahkan bahwa Kementerian Pertahanan Inggris belum memberikan komentar apakah pangkalan tersebut digunakan AS untuk operasi terhadap Iran pada pekan ini.

Menanggapi ancaman dari Iran, seorang juru bicara pemerintah Inggris menyampaikan: “Our Armed Forces are ready to keep the United Kingdom safe from any kind of attacks, whether it’s on our soil or from abroad. The UK stands ready 24/7 to defend itself.” Ia melanjutkan dengan penjelasan bahwa upaya itu melibatkan pendekatan berlapis pertahanan udara dan rudal: “This includes through operating a layered approach to air and missile defence, provided by Royal Navy, British Army and Royal Air Force assets equipped with a range of advanced capabilities, working closely with our Nato allies.”

Juru bicara tersebut juga menegaskan batas keterlibatan Inggris dalam konflik: “The UK’s approach to the conflict remains the same – we are committed to defending our people, our interests and our allies, acting in accordance with international law and not getting drawn into the wider conflict.”

Beberapa hari setelah perang dimulai pada 28 Februari, Duta Besar Iran untuk London Seyed Ali Mousavi menyatakan Iran memiliki “right to self-defence” jika Inggris ikut bergabung dalam perang. Dalam pernyataannya, Mousavi juga menekankan Inggris harus “very careful” jika mengambil bagian.

Pada 19 Maret, Iran menembakkan dua rudal balistik ke pangkalan Diego Garcia di Kepulauan Chagos. BBC menulis bahwa salah satu rudal “reportedly failed mid-flight”, sedangkan rudal lainnya ditembak jatuh oleh sebuah pesawat udara nirawak AS (disebut “US airship” dalam laporan).

Menjelang peristiwa itu, muncul pula keraguan mengenai kemampuan rudal Iran untuk mencapai kepulauan tersebut. Kepulauan Chagos berjarak sekitar 2,360 miles (3,600km) dari Iran, sehingga terdapat pertanyaan apakah rudal yang dimiliki bisa menjangkau jarak sedemikian jauh.

Bulan yang sama, Israel mengklaim bahwa Iran memiliki rudal yang dapat mencapai hingga 4,000km (2,485 miles). Secara teoretis, klaim itu akan membuat rudal bisa mencapai Inggris dan sebagian negara di Eropa daratan. Namun, Housing Secretary Steve Reed ketika itu mengatakan kepada BBC bahwa “no specific assessment that the Iranians are targeting the UK – or even could if they wanted to”.

BBC juga menuliskan bahwa analis meragukan keandalan dan akurasi persenjataan rudal Iran. Dalam laporan tersebut, AS menyatakan kemampuan rudal Iran telah “severely degraded” akibat serangan-serangan yang mereka lakukan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk yang menampung pangkalan militer AS. Serangan terhadap kapal-kapal sipil di Selat Hormuz—menurut laporan—mengakibatkan rute pelayaran vital menjadi tidak berfungsi secara efektif.