jurnalistik.co.id – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) memproyeksikan peningkatan kewajiban seiring rencana akuisisi yang melibatkan sejumlah entitas pemilik properti rumah sakit. Rencana tersebut juga disebut berkaitan dengan pengelolaan operasional rumah sakit yang selama ini dijalankan melalui First Real Estate Investment Trust (First REIT).
Dalam rencana transaksi itu, SILO akan mengakuisisi 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit yang sebelumnya dioperasikan melalui skema First REIT. Nilai keseluruhan akuisisi disebut mencapai Rp6,91 triliun.
Untuk membiayai langkah tersebut, SILO menggunakan pendanaan yang berasal dari pinjaman perbankan. Dengan struktur pembiayaan ini, laporan pendapat kewajaran yang disusun oleh Kantor Jasa Penilai Publik Budi, Edy, Saptono & Rekan menjadi rujukan utama untuk melihat dampak terhadap posisi liabilitas perseroan.
Dampak terhadap liabilitas SILO
Berdasarkan Laporan Pendapat Kewajaran atas rencana transaksi SILO, pendanaan akuisisi diproyeksikan membuat jumlah liabilitas SILO naik sebesar Rp8,62 triliun. Proyeksi ini muncul sebagai konsekuensi dari masuknya struktur utang baru yang digunakan untuk mendanai pembelian.
Penjelasan yang dikutip pada Minggu (16/8/2026) menekankan bahwa peningkatan terbesar terjadi pada komponen utang bank. Disebutkan bahwa peningkatan terbesar terjadi pada liabilitas jangka panjang berupa utang bank jangka panjang sebesar Rp8,88 triliun, sementara bagian liabilitas sewa justru menunjukkan penurunan.
“Peningkatan terbesar terjadi pada liabilitas jangka panjang berupa utang bank jangka panjang sebesar Rp8,88 triliun, sedangkan pada liabilitas sewa mengalami penurunan baik jangka pendek maupun liabilitas jangka panjang masing masing sebesar Rp448,64 miliar dan Rp20,75 miliar,” seperti dikutip dari penjelasan tersebut, dikutip Minggu (16/8/2026).
Berita Terkait
Dalam rincian tersebut, perubahan pada liabilitas sewa menjadi kontras dengan kenaikan utang bank. Liabilitas sewa disebut turun untuk dua horizon pencatatan, yakni pada liabilitas sewa jangka pendek dan pada liabilitas sewa jangka panjang, masing-masing sebesar Rp448,64 miliar dan Rp20,75 miliar.
Dari sudut pandang struktur pendanaan, temuan dalam laporan pendapat kewajaran tersebut memperlihatkan bahwa rencana akuisisi tidak hanya menambah ukuran liabilitas, tetapi juga menggeser komposisinya. Komponen utang bank jangka panjang menjadi pendorong utama kenaikan, sedangkan liabilitas sewa mengalami penyesuaian ke arah penurunan setelah pendanaan transaksi dijalankan.
Dengan demikian, proyeksi peningkatan kewajiban SILO dapat ditelusuri dari mekanisme pembiayaan pinjaman perbankan untuk transaksi akuisisi 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit senilai Rp6,91 triliun. Angka-angka yang disampaikan menunjukkan bahwa lonjakan liabilitas terkait pendanaan terutama terkonsentrasi pada utang bank jangka panjang, sementara liabilitas sewa justru mencatat penurunan pada sisi jangka pendek maupun jangka panjang.
Rencana ini juga menegaskan keterkaitan antara strategi ekspansi dan kerangka pendanaan yang digunakan. Ketika akuisisi ditempuh melalui pembiayaan pinjaman perbankan, laporan pendapat kewajaran menempatkan dampaknya pada kenaikan liabilitas total sebesar Rp8,62 triliun, dengan utang bank jangka panjang menjadi komponen paling dominan sebesar Rp8,88 triliun.
Dalam struktur transaksi yang dikaitkan dengan pengelolaan operasional rumah sakit yang sebelumnya berjalan melalui First REIT, SILO disebut menempuh akuisisi terhadap 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit. Nilai akuisisi yang dirujuk mencapai Rp6,91 triliun, dan langkah pembiayaannya bersumber dari pinjaman perbankan yang kemudian dinilai dampaknya dalam laporan pendapat kewajaran.
Pada proyeksi yang disampaikan melalui laporan pendapat kewajaran, kewajiban SILO diperkirakan bertambah hingga Rp8,62 triliun. Penambahan tersebut dijelaskan sebagai akibat langsung dari hadirnya struktur utang baru untuk mendanai pembelian, di mana porsi terbesar berasal dari utang bank jangka panjang sebesar Rp8,88 triliun.
Sementara itu, komponen liabilitas sewa justru menunjukkan arah yang berbeda. Penjelasan yang sama menyebut liabilitas sewa mengalami penurunan pada dua lapisan waktu, yakni liabilitas sewa jangka pendek sebesar Rp448,64 miliar dan liabilitas sewa jangka panjang sebesar Rp20,75 miliar. Dengan demikian, hasil proyeksi memperlihatkan pergeseran komposisi liabilitas setelah pendanaan transaksi dijalankan.












