jurnalistik.co.id – Penurunan 30% indeks saham acuan Indonesia sepanjang tahun ini mendorong sebuah dana asing untuk pertama kalinya menempatkan dananya di pasar saham Tanah Air.
Menurut laporan tersebut, Coeli Asset Management yang berbasis di Swedia mulai membeli saham-saham Indonesia setelah menilai kondisi pasar sedang berada pada fase yang lebih menarik dibanding sebelumnya.
Dalam keterangan yang disampaikan, Coeli Asset Management menyebut langkah masuk ini dilakukan saat pasar Indonesia dikenal memiliki kinerja terburuk di dunia.
Masuk untuk pertama kali saat pasar melemah
Coeli Asset Management melakukan pembelian saham Indonesia untuk pertama kalinya, dengan taruhan bahwa valuasi pasar kini sudah berada pada tingkat yang dapat dipertimbangkan investor.
Disebutkan pula bahwa keputusan tersebut berangkat dari pengamatan terhadap dinamika pasar, terutama ketika terjadi aksi jual yang dipicu situasi politik maupun geopolitik.
“Kami telah mengamati Indonesia selama beberapa tahun, tetapi sederhananya, pasar Indonesia selama ini terlalu mahal,” kata James Bannan, fund manager Coeli Asset Management yang berbasis di Stockholm.
Pernyataan itu menggambarkan bahwa persoalan utama yang semula dilihat oleh manajer dana adalah harga pasar yang dinilai belum sejalan dengan pertimbangan mereka sebagai investor.
Peluang di balik pola aksi jual
James Bannan menambahkan alasan lain yang menjadi dasar strategi investasinya, yakni keyakinan bahwa tekanan jual yang datang pada momen tertentu dapat menciptakan kesempatan untuk membeli.
Ia mengatakan, “Sembilan puluh sembilan kali dari 100, ketika pasar mengalami aksi jual karena peristiwa politik atau geopolitik, itu merupakan peluang untuk membeli.”
Berita Terkait
Kalimat tersebut menegaskan bahwa pendekatan Coeli Asset Management tidak hanya berfokus pada arah pergerakan pasar, melainkan juga pada frekuensi terjadinya pola yang selama ini dilihat ketika pasar terseret oleh isu-isu eksternal.
Di laporan yang sama, disebutkan bahwa taruhan Coeli Asset Management juga terkait harapan pada respons Presiden Prabowo Subianto terhadap kekhawatiran investor.
Coeli Asset Management mengaitkan prospek pembelian sahamnya dengan kesediaan pihak kebijakan untuk mendengarkan kekhawatiran investor terkait sejumlah kebijakan yang tengah menjadi perhatian pasar.
Dengan kata lain, keputusan masuk pertama kali itu disusun dalam kerangka dua pertimbangan besar: pembacaan terhadap valuasi pasar yang dinilai sudah menarik, serta keyakinan bahwa kekhawatiran investor dapat disampaikan dan dipertimbangkan dalam proses dialog.
Dalam konteks penurunan yang disebutkan mencapai 30% sepanjang tahun berjalan, langkah awal Coeli Asset Management mencerminkan bahwa manajer dana memandang fase pelemahan sebagai titik yang layak untuk memulai posisi.
Coeli Asset Management pada akhirnya menempatkan rencana investasi ini pada momentum ketika tekanan pasar sedang terjadi, dengan dasar bahwa aksi jual yang berulang pada momen politik atau geopolitik dapat menjadi peluang untuk masuk pada harga yang lebih sesuai.
Sejalan dengan itu, James Bannan menegaskan kembali bahwa observasi yang dilakukan selama bertahun-tahun bermuara pada kesimpulan soal mahalnya pasar sebelumnya, sebelum kemudian muncul dorongan untuk bertindak ketika kondisi dinilai lebih mendukung untuk berinvestasi.
Dengan demikian, masuknya Coeli Asset Management ke saham Indonesia untuk pertama kalinya dipaparkan sebagai kombinasi dari evaluasi valuasi pasar, pembacaan pola aksi jual yang kerap muncul akibat peristiwa politik atau geopolitik, serta keyakinan bahwa dialog terkait kekhawatiran investor terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi bagian dari dinamika yang membentuk persepsi pasar.
Penjelasan langkah masuk itu juga menekankan cara pandang terhadap perubahan harga sebagai cerminan sentimen, bukan semata-mata penurunan permanen pada kualitas aset. Dengan melihat saat-saat ketika sentimen berubah cepat karena pemicu politik maupun geopolitik, Coeli Asset Management menilai ada ruang bagi pembelian pada level yang dianggap lebih masuk akal oleh investor.
Dalam narasi yang sama, penekanan pada “masuk untuk pertama kali” ditempatkan sebagai hasil dari proses penilaian bertahap. Manajer dana tersebut menggambarkan bahwa selama ini mereka menahan diri karena menilai harga pasar terlalu mahal, namun pelemahan yang disebut berlangsung sepanjang tahun berjalan membuat pertimbangan investasi kembali relevan untuk dieksekusi.
Selain itu, mereka mengaitkan keberanian memulai posisi dengan ekspektasi terhadap bagaimana kekhawatiran investor dapat disalurkan melalui respons pihak kebijakan. Ketika kekhawatiran tersebut dinyatakan dan dipertimbangkan dalam proses dialog, Coeli Asset Management memandang hal itu berpotensi memengaruhi persepsi pasar, sehingga peluang yang muncul dari pola aksi jual bisa ditangkap dengan lebih terukur.
