jurnalistik.co.id – Bank Indonesia memandang pengetatan kebijakan moneter global sebagai tantangan yang tidak ringan dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut BI, dinamika arus modal internasional dapat memengaruhi kondisi makro Indonesia, terutama melalui kanal neraca pembayaran dan pergerakan kurs.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menilai kebijakan moneter global yang makin ketat akan ikut menentukan arah stabilitas rupiah ke depan. Dalam penilaian BI, ketatnya kondisi global juga beriringan dengan perpindahan dana investor menuju aset yang dianggap lebih aman.
Fenomena yang disebut Destry sebagai flight to quality menggambarkan bagaimana investor cenderung mengalihkan portofolio ke instrumen yang dinilai memiliki kualitas lebih tinggi. Perubahan preferensi ini, menurut BI, dapat berdampak pada kinerja neraca pembayaran Indonesia dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Destry menjelaskan bahwa situasi tersebut menumbuhkan pola higher for longer, yaitu kondisi ketika suku bunga global bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Pada praktiknya, ketahanan suku bunga pada level tinggi ini membuat kondisi eksternal menjadi lebih menekan bagi negara-negara berkembang.
Dalam rapat kerja BI dengan Komisi XI Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026), Destry menegaskan bahwa tekanan tersebut berkaitan langsung dengan aliran modal. Ia menyampaikan bahwa perubahan di pasar global akan ikut memengaruhi bagaimana dana masuk ke emerging market, termasuk Indonesia.
“Pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada pasar negara berkembang atau emerging market , khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia,” kata Destry dalam Rapat Kerja BI dengan Komisi XI Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Berita Terkait
BI melihat bahwa tantangan utama muncul saat arah arus modal tidak lagi sepenuhnya mengikuti kondisi domestik, melainkan turut ditentukan oleh kondisi global yang sedang ketat. Ketika investor mengutamakan aset yang dianggap lebih aman, pasar negara berkembang dapat menghadapi respons yang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi global.
Dalam kerangka itu, stabilitas rupiah menjadi fokus karena nilai tukar berinteraksi dengan faktor eksternal maupun domestik. Destry menempatkan risiko tersebut dalam konteks hubungan antara kebijakan moneter global, perpindahan dana, dan dampaknya pada neraca pembayaran.
Di sisi lain, Destry menekankan bahwa kondisi domestik juga harus menjadi bagian dari perhatian utama. BI menilai kebutuhan untuk memperkuat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu dilakukan, terutama ketika terdapat risiko terhadap inflasi dan nilai tukar.
Penguatan sumber pertumbuhan, dalam pandangan Destry, menjadi penting agar perekonomian memiliki landasan yang lebih kuat menghadapi dinamika eksternal. Langkah ini diarahkan untuk menjaga agar berbagai tekanan yang berasal dari luar tidak memperbesar ketidakstabilan di dalam negeri.
Dengan demikian, tantangan pengetatan moneter global tidak hanya dipahami sebagai perubahan suku bunga di luar negeri. BI menempatkannya sebagai faktor yang turut membentuk jalur transmisi ke stabilitas rupiah, melalui kanal aliran modal dan dampaknya terhadap kondisi neraca pembayaran.
BI juga memandang bahwa kebutuhan memperkuat kondisi domestik relevan karena risiko tidak berdiri sendiri. Risiko inflasi dan nilai tukar dapat saling terkait ketika sentimen global dan pergerakan dana membuat pasar menjadi lebih responsif terhadap perubahan eksternal.
Pada akhirnya, BI mendorong agar strategi menghadapi tekanan global tetap mempertimbangkan dua sisi sekaligus: dinamika eksternal dari kebijakan moneter global dan respon domestik melalui penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dengan cara itu, stabilitas rupiah diharapkan tetap terjaga di tengah kondisi global yang cenderung higher for longer.












