jurnalistik.co.id – Bank Indonesia menegaskan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih menjadi perhatian investor asing meski imbal hasilnya sudah turun hampir 100 basis poin (bps). Pernyataan ini disampaikan dalam agenda Taklimat BI di Jakarta pada Rabu (30/9/2026).
Dalam penjelasannya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut penurunan yield terjadi setelah lelang yang berlangsung pada 25 September 2026. Menurutnya, perubahan level tersebut menunjukkan penyesuaian kondisi pasar di tengah dinamika kebijakan.
Erwin menjelaskan kondisi historis yield SRBI dengan menekankan bahwa angka tertinggi pernah mencapai 7,74%. Namun, pada hasil lelang terakhir, yield SRBI berada di 6,76%, atau setara dengan penurunan mendekati 100 bps.
“Jadi kalau kita lihat dari sisi yield itu tertinggi kan pernah 7,74% sekarang terakhir hari jumat, [25 September] kemarin kami lelang [SRBI] kita sudah berada di 6,76% sudah hampir 100 basis poin kita kalibrasi,” kata Erwin.
Selain membahas pergerakan yield, BI juga menguraikan bahwa volume SRBI turut disesuaikan secara bertahap. Penyesuaian volume ini, menurut Erwin, dilakukan untuk menjaga keterkaitan instrumen dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan karakter permintaan di pasar.
Tercatat, posisi pinjaman SRBI berkurang dari level tertingginya sebesar Rp1.096,86 triliun pada 15 Juli 2026 menjadi Rp1.028,15 triliun pada 28 September 2026. Perubahan angka tersebut menggambarkan pengurangan porsi outstanding seiring kalibrasi kebijakan yang berjalan.
Yield turun, daya tarik tetap terjaga
Meskipun yield mengalami penurunan, Erwin menilai bahwa daya tarik SRBI tidak hilang bagi investor asing. Ia mengaitkan hal itu dengan insentif yang disediakan melalui underlying, yang memungkinkan investor memperoleh fasilitas lindung nilai atau hedging.
Berita Terkait
Dalam penjelasan BI, faktor underlying menjadi bagian dari skema yang membantu investor mengelola risiko terkait pergerakan nilai tukar. Dengan adanya insentif tersebut, investor dapat mempertimbangkan SRBI sebagai instrumen yang tetap menawarkan mekanisme mitigasi risiko, bukan semata-mata melihat level yield saat lelang.
Erwin menegaskan bahwa kebutuhan investor terhadap instrumen hedging menjadi pertimbangan penting ketika yield bergerak lebih rendah. Oleh karena itu, meski angka imbal hasil turun, BI memandang minat investor asing tetap relevan karena insentif yang melekat pada underlying masih tersedia.
Penilaian itu sejalan dengan pesan bahwa kebijakan tidak hanya berfokus pada satu indikator. BI menekankan adanya pendekatan kalibrasi yang mencakup yield, penyesuaian volume, serta desain insentif bagi pelaku pasar agar transmisi kebijakan berjalan lebih terukur.
Kalibrasi berlapis dalam pengelolaan pasar
Dengan melihat perubahan yield dari 7,74% menjadi 6,76% pasca lelang 25 September 2026, BI menggambarkan adanya penyesuaian yang sudah “dikalibrasi”. Kata kunci di sini adalah penetapan level yang lebih rendah namun tetap terkendali, sehingga pelaku pasar dapat membaca arah kebijakan secara lebih jelas.
Di sisi lain, pengurangan posisi pinjaman SRBI dari Rp1.096,86 triliun (15 Juli 2026) menjadi Rp1.028,15 triliun (28 September 2026) menunjukkan proses penataan yang berjalan bertahap. Pergerakan volume ini tidak disajikan sebagai perubahan tiba-tiba, melainkan sebagai respons yang terstruktur terhadap kondisi pasar yang berubah.
Bagi investor asing, pembacaan atas perubahan tersebut menjadi penting karena instrumen seperti SRBI biasanya dipertimbangkan dengan kombinasi imbal hasil dan pengelolaan risiko. Di sinilah underlying dan fasilitas hedging disebut BI sebagai komponen yang membantu investor menjaga posisi mereka.
Dengan demikian, BI memposisikan SRBI sebagai instrumen yang tetap dapat dinilai menarik, terutama karena ada insentif terkait underlying untuk memperoleh lindung nilai. Dalam narasi BI, penurunan yield bukan dianggap sebagai sinyal negatif, melainkan bagian dari penyesuaian kalibrasi yang berjalan bersamaan dengan mekanisme pengelolaan risiko.
Kalau dirangkum, pernyataan BI membawa dua pesan utama: pertama, yield SRBI telah turun hampir 100 bps—dari 7,74% ke 6,76% berdasarkan lelang 25 September 2026; kedua, minat investor asing tetap dijaga melalui insentif underlying untuk hedging, di tengah penyesuaian volume SRBI yang tercermin dari penurunan posisi pinjaman dari Rp1.096,86 triliun menjadi Rp1.028,15 triliun dalam rentang 15 Juli hingga 28 September 2026.












