jurnalistik.co.id – Bank Indonesia (BI) menilai The Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada kuartal IV-2026. Penilaian ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI, Destry Damayanti, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Dalam kesempatan itu, Destry menekankan proyeksi kenaikan satu kali lagi sebagai kelanjutan dari dinamika kebijakan moneter AS yang tengah berjalan. Ia menyatakan bahwa outlook tersebut didorong oleh kondisi yang belum sepenuhnya mereda, terutama dari sisi harga minyak dan respons kebijakan The Fed.
Destry menyebut bahwa lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu pertimbangan penting. Pada 24 September 2026, harga minyak tercatat mencapai US$125,53 per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel.
Menurutnya, pergerakan minyak tersebut berpotensi menjaga tekanan inflasi dan menambah dorongan bagi otoritas moneter AS untuk mempertahankan sikap kebijakan yang ketat. Kondisi ini kemudian dibaca BI sebagai latar yang membuat proyeksi kenaikan lanjutan tetap relevan untuk kuartal IV-2026.
Selain faktor minyak, Destry juga mengaitkan prospek tersebut dengan keputusan suku bunga terbaru The Fed. Dalam keputusan terbarunya, The Fed menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps).
Dalam catatan BI, pada September 2026 The Fed memang menaikkan FFR sebesar 25 bps hingga berada pada kisaran 3,75%-4%. Dengan berlanjutnya langkah pengetatan, BI melihat kemungkinan The Fed menempuh satu kenaikan lagi pada triwulan IV-2026.
Destry menyampaikan itu melalui pernyataan berikut: “Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV-[2026],” kata Destry, dikutip Selasa (29/9/2026).
Dengan dasar pandangan tersebut, BI menilai bahwa langkah kebijakan The Fed akan berdampak pada arah penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Dalam penjelasannya, Destry menyebut prospek kenaikan suku bunga turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun mata uang negara Asia.
Penguatan dolar biasanya berkaitan dengan ekspektasi pasar atas imbal hasil yang lebih menarik dibanding mata uang lain. Ketika suku bunga acuan AS diproyeksikan naik lagi, aliran portofolio dan penyesuaian posisi investasi cenderung memperkuat permintaan terhadap aset berbasis dolar.
Dampak kebijakan The Fed dan posisi dolar
BI memandang bahwa proyeksi kenaikan suku bunga tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan jalur kebijakan yang sedang ditempuh The Fed. Langkah pengetatan yang terukur, termasuk kenaikan 25 bps pada keputusan terbaru, membentuk ekspektasi lanjutan bagi pasar terhadap kebijakan suku bunga ke depan.
Berita Terkait
Dalam konteks itu, Destry menempatkan minyak sebagai pemicu penting yang dapat memperpanjang kebutuhan pengetatan. Ketika harga minyak berada di level yang lebih tinggi dari rata-rata periode sebelumnya, risiko tekanan harga yang terbawa ke komponen lain dapat meningkat.
Artinya, walaupun kebijakan moneter dapat bergerak mengikuti perkembangan data, BI membaca bahwa sinyal dari minyak masih cukup kuat untuk membuat The Fed belum beralih sepenuhnya ke fase yang lebih longgar. Proyeksi “satu kali lagi” pada kuartal IV-2026 mencerminkan keyakinan bahwa siklus penyesuaian suku bunga kemungkinan masih berlanjut dalam periode tersebut.
Sejalan dengan itu, penguatan dolar yang disebut BI berpotensi memengaruhi kondisi keuangan global. Untuk mata uang negara maju maupun negara Asia, pergerakan dolar umumnya menjadi faktor yang turut menentukan arah nilai tukar serta persepsi risiko terhadap arus modal.
Bagi pasar, proyeksi suku bunga The Fed juga dapat memengaruhi berbagai instrumen, mulai dari ekspektasi imbal hasil hingga penetapan harga aset. Ketika pasar memperkirakan suku bunga acuan naik lagi, perubahan ekspektasi tersebut biasanya tercermin dalam penyesuaian portofolio secara bertahap.
Alasan BI menilai kenaikan masih mungkin terjadi
Dalam penjelasan BI, ada dua rangkaian alasan utama yang membentuk proyeksi. Pertama, kenaikan harga minyak dunia yang pada 24 September 2026 berada di US$125,53 per barel, jauh di atas rata-rata Agustus 2026 sekitar US$90,88 per barel.
Kedua, kebijakan suku bunga The Fed yang, menurut BI, masih menunjukkan kesinambungan pengetatan. Destry menggarisbawahi bahwa keputusan terbaru The Fed menaikkan FFR sebesar 25 bps, dan pada September 2026 FFR sudah meningkat ke kisaran 3,75%-4%.
Dari kombinasi kedua faktor tersebut, BI menilai masih ada probabilitas The Fed melaksanakan kenaikan tambahan. Pernyataan Destry yang menyebut “kenaikan satu kali lagi di triwulan IV-2026” menegaskan bahwa proyeksi BI bukan sekadar asumsi jangka pendek, melainkan respons terhadap perkembangan yang tengah terjadi.
Selain memengaruhi dolar, narasi ini juga relevan untuk memahami bagaimana kebijakan moneter AS berinteraksi dengan variabel eksternal lainnya. Saat The Fed mempertahankan arah kebijakan yang lebih ketat, ekspektasi pasar terhadap inflasi dan pertumbuhan dapat ikut berubah, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi kondisi keuangan di berbagai kawasan.
Dengan kata lain, BI melihat bahwa kombinasi dinamika minyak dan kesinambungan kenaikan FFR menjadi faktor penguat bagi proyeksi satu kali kenaikan lagi. Proyeksi itu kemudian diturunkan menjadi implikasi nilai tukar, yakni dorongan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun mata uang di Asia.
Kesimpulannya, BI menempatkan kuartal IV-2026 sebagai periode yang masih mungkin menyaksikan penyesuaian kebijakan suku bunga The Fed. Sementara minyak dunia yang lebih tinggi dan keputusan FFR yang terus bergerak menjadi penopang utama, penguatan dolar menjadi saluran dampak yang paling langsung disebut dalam penjelasan Destry.












