Bisnis & Ekonomi

Rupiah dan Obligasi di Tengah Inflasi “Membandel”

×

Rupiah dan Obligasi di Tengah Inflasi “Membandel”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nasib Rupiah dan Obligasi Kala Inflasi 'Membandel' - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah bergerak melemah terbatas pasca rilis data inflasi Agustus yang tercatat lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pada perdagangan setelah pengumuman tersebut, mata uang RI tercatat melemah 0,03% ke level Rp17.725 per US$.

Lonjakan inflasi Agustus tercermin dari angka tahunan (year-on-year/YoY) sebesar 3,19%. Angka ini naik dibandingkan Juli yang berada di level 2,88%.

Secara pembacaan pasar, hasil Agustus juga melampaui sejumlah acuan. Inflasi tersebut tercatat berada di atas konsensus 3,11% dan proyeksi Bloomberg Economics 3,15%.

Meski demikian, respons rupiah tidak menunjukkan penyesuaian yang tajam. Reuters(?)—dalam konteks tulisan ini—mencatat rupiah tetap relatif terkendali dan berada dalam rentang Rp17.700–Rp17.725 per US$.

Pergerakan rupiah setelah data inflasi diumumkan kembali memperlihatkan pelemahan yang terbatas, yakni menuju Rp17.725 per US$. Kondisi ini, menurut catatan ekonom Bloomberg Economics, mengindikasikan bahwa inflasi Agustus kemungkinan belum menjadi faktor utama yang mendorong Bank Indonesia (BI) mengubah sikap kebijakan moneternya melalui pengetatan suku bunga acuan.

Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai, selama inflasi masih berada dalam koridor target dan pemerintah tetap memberikan bantalan melalui subsidi, tekanan harga berpotensi belum menjadi dorongan dominan bagi langkah pengetatan moneter. Dengan kata lain, kombinasi antara capaian inflasi dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi penentu agar lonjakan harga tidak langsung memaksa perubahan arah kebijakan.

Namun, Henderson juga mengingatkan adanya skenario ketika ruang tersebut dapat menyempit. Ruang pelonggaran—dalam pandangannya—bisa berkurang apabila pelemahan rupiah berlanjut sembari disertai faktor eksternal lain, terutama harga energi yang lebih tinggi serta gangguan pasokan.

Dalam skenario yang sama, gangguan pasokan tersebut dikaitkan dengan kondisi El Nino. Henderson menekankan bahwa kombinasi antara melemahnya nilai tukar dan meningkatnya komponen energi, disertai terganggunya pasokan, berpotensi membuat inflasi terus bergerak naik.

Jika laju kenaikan inflasi berlanjut, inflasi dinilai berpotensi menembus batas atas target BI. Pernyataan ini menempatkan inflasi sebagai variabel yang tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh dinamika nilai tukar dan komponen biaya, termasuk energi, serta faktor pasokan.

Lebih jauh, Henderson menyebut bahwa stabilitas rupiah menjadi elemen kunci untuk menentukan apakah kenaikan inflasi pada akhirnya memaksa BI mengubah arah kebijakan moneternya. Ia mengatakan, “Stabilitas rupiah akan menjadi variabel kunci yang menentukan apakah kenaikan inflasi pada akhirnya memaksa BI mengubah arah kebijakan moneternya,” seperti dikutip dalam catatannya.

Dengan demikian, rilis inflasi Agustus memberikan sinyal bahwa tekanan harga meningkat dibanding Juli, tetapi respons rupiah yang terbatas mengisyaratkan belum adanya perubahan kebijakan yang langsung terpicu. Ke depan, pasar akan menunggu apakah pelemahan rupiah berlanjut atau justru tetap terkendali di rentang yang relatif sempit, sambil memantau apakah harga energi dan kondisi pasokan—termasuk yang terkait El Nino—ikut memperkuat tren inflasi menuju batas atas target.

Bagi pelaku pasar, angka inflasi yang meningkat dari Juli memang menjadi pengingat bahwa tekanan harga bertambah, namun belum cukup untuk memicu perubahan besar dalam penilaian jangka pendek. Ketika rupiah bergerak secara terbatas, ekspektasi terhadap respons kebijakan cenderung tetap berhati-hati.

Dalam kerangka tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada laju inflasi itu sendiri, melainkan pada kemungkinan penularan melalui nilai tukar. Jika pelemahan nilai tukar tidak melebar, biaya impor dan penyesuaian harga cenderung tidak langsung membentuk eskalasi lanjutan, sehingga dorongan untuk langkah pengetatan dinilai belum menjadi skenario utama.

Meski demikian, risiko tetap mengemuka melalui skenario penyempitan ruang. Henderson menilai ruang pelonggaran dapat tergerus apabila rupiah terus tertekan, sementara harga energi bergerak lebih tinggi serta pasokan terganggu—sebagaimana dikaitkan dengan kondisi El Nino—yang pada akhirnya dapat membuat inflasi bergerak terus naik hingga mendekati bahkan melampaui batas atas target BI.