Bisnis & Ekonomi

IHSG Menguat 0,6% ke 6.564, Dipengaruhi Neraca Dagang RI Surplus

×

IHSG Menguat 0,6% ke 6.564, Dipengaruhi Neraca Dagang RI Surplus

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Menguat Saat Neraca Dagang RI Surplus - Market

jurnalistik.co.id – Jakarta, Selasa (1/9/2026) mencatat dinamika yang relatif berimbang pada perdagangan Sesi I hari ini, dengan indeks acuan saham berhasil ditutup lebih tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat setelah lebih dulu bergerak di zona hijau sejak awal sesi.

Pada penutupan Sesi I, IHSG naik 0,6% ke 6.564. Pergerakan ini sejalan dengan sentimen positif yang datang dari neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus, sehingga pelaku pasar cenderung melihat prospek aliran dana lebih kondusif.

Di awal perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 6.538. Sepanjang sesi, pergerakan indeks menunjukkan rentang yang cukup rapat, dengan titik terendah berada di 6.535 dan menyentuh titik tertinggi di 6.586.

Dengan demikian, pergerakan IHSG pada Sesi I hari ini menggambarkan pola yang terjaga meski terjadi fluktuasi intraday. Kenaikan indeks pada akhirnya menjadi sinyal bahwa daya tarik pasar masih mampu mempertahankan momentum beli hingga bel penutupan.

Aktivitas perdagangan juga tercermin dari volume yang cukup besar. Perdagangan melibatkan 28,49 miliar unit saham dengan nilai transaksi mencapai Rp10,21 triliun, sementara frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,54 juta kali.

Dari sisi komposisi pergerakan saham, sebanyak 385 saham mengalami penguatan. Di saat yang sama, 221 saham melemah, sedangkan 183 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga sepanjang sesi.

Jika dibandingkan dengan sejumlah bursa di kawasan Asia, IHSG menunjukkan kinerja yang lebih baik pada sesi ini. Indeks KOSDAQ (Korea Selatan) melemah 1,84%, KLCI (Malaysia) turun 1,04%, Hang Seng (Hong Kong) terkoreksi 1,03%, serta Straits Times (Singapura) turun 0,66%.

Perbandingan juga terlihat pada bursa lain yang cenderung tertekan. Shenzhen Comp. (China) turun 0,22%, NIKKEI 225 (Jepang) melemah 0,15%, SENSEX (India) terkoreksi 0,04%, dan KOSPI (Korea Selatan) turun 0,02%.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG pada Sesi I hari ini tidak hanya terlihat dari persentase kenaikan indeks, tetapi juga dari rentang pergerakan yang relatif terkendali sejak dibuka. Dengan dukungan sentimen surplus neraca perdagangan, pasar tampak mampu mempertahankan arah positif hingga sesi berakhir.

Selain itu, tingginya nilai dan frekuensi transaksi mengindikasikan partisipasi pelaku pasar yang cukup aktif. Kombinasi antara aktivitas perdagangan yang besar, komposisi saham yang lebih banyak menguat dibanding melemah, serta perbandingan kinerja yang lebih baik dibanding bursa Asia lainnya turut memperkuat gambaran bahwa Sesi I berjalan dengan bias positif.

Rentang pergerakan pada Sesi I juga memberi gambaran bahwa kenaikan IHSG berlangsung dengan cara yang relatif terukur. Indeks dibuka di 6.538, sempat berada di area terendah 6.535, lalu bergerak hingga menyentuh level tertinggi 6.586 sebelum akhirnya berakhir di 6.564. Pola seperti ini menunjukkan bahwa tekanan jual tidak cukup besar untuk mengubah arah mayoritas pergerakan.

Aktivitas transaksi yang tinggi memperlihatkan pasar ikut ā€œmengunciā€ arah tersebut. Sebanyak 28,49 miliar unit saham berpindah tangan dengan nilai transaksi Rp10,21 triliun, serta frekuensi transaksi mencapai 1,54 juta kali. Selain indikator likuiditas, komposisi pergerakan saham turut menguatkan bias positif: 385 saham menguat, 221 melemah, dan 183 lainnya stagnan sepanjang sesi.

Secara regional, IHSG juga tampil lebih kuat dibanding beberapa indeks utama Asia yang cenderung melemah pada sesi ini. KOSDAQ di Korea Selatan turun 1,84%, KLCI melemah 1,04%, Hang Seng terkoreksi 1,03%, sedangkan Straits Times turun 0,66%. Pada bursa lain, seperti Shenzhen Comp. (-0,22%), NIKKEI 225 (-0,15%), dan SENSEX (-0,04%), pergerakan masih berada di wilayah negatif, sehingga penguatan IHSG pada Sesi I menjadi pembeda yang menonjol.

Di balik bias tersebut, sentimen yang sudah tercermin dari surplus neraca perdagangan ikut menjaga arah laju indeks. Ketika sentimen positif bertemu dengan partisipasi transaksi yang aktif dan jumlah saham yang lebih banyak menguat dibanding melemah, pasar cenderung mempertahankan momentum hingga mendekati penutupan sesi. Kombinasi faktor ini membuat Sesi I berjalan dengan kecenderungan lebih mendukung kenaikan dibanding koreksi.