Bisnis & Ekonomi

CPO Melemah Tipis di Akhir Pekan, Pekan Ini Masih Naik 1,7%

×

CPO Melemah Tipis di Akhir Pekan, Pekan Ini Masih Naik 1,7%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pesta Sawit Rehat Dulu, Meski Sepekan Masih Naik 1% Lebih

jurnalistik.co.id – Harga minyak kelapa sawit (CPO) acuan global bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat (18/9/2026) jelang akhir pekan. Meski begitu, kinerja sepanjang pekan masih ditutup menguat.

Berdasarkan data Refinitiv, kontrak CPO acuan Malaysia untuk periode pengiriman Desember 2026 ditutup turun 0,77% ke level RM 4.898 per ton pada perdagangan Jumat lalu. Penurunan harian ini muncul setelah sejumlah minyak nabati pesaing serta minyak mentah ikut melemah.

Sepanjang pekan berjalan, harga CPO tetap mencatat kenaikan sebesar 1,74% secara point-to-point. Artinya, koreksi di sesi penutupan tidak menghapus tren penguatan yang lebih luas dalam beberapa hari terakhir.

Seorang pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, menyebut bahwa kontrak berjangka CPO Malaysia tetap berada di zona negatif pada Jumat lalu. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan adanya tekanan jual yang terjadi di seluruh sektor komoditas selama jam perdagangan Asia.

Di bursa yang menjadi rujukan komoditas, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 1,56%. Sementara kontrak minyak sawitnya melemah 1,64%, menunjukkan sentimen yang cenderung terbatas pada aktivitas pembelian.

Pada perdagangan Chicago Board of Trade (CBoT), harga minyak kedelai terkoreksi 0,74%. Pergerakan di dua bursa utama tersebut memperlihatkan bahwa pasar minyak nabati sedang mengikuti arah yang sama, yakni melemah di beberapa segmen.

Pelaku pasar juga mengamati perkembangan kebijakan pemerintah India terkait perdagangan komoditas. Fokusnya adalah potensi penurunan tarif impor yang dapat memengaruhi permintaan terhadap minyak sawit Malaysia.

Selain faktor permintaan dari sisi negara pengimpor, harga minyak mentah turut menjadi penentu arah. Harga minyak mentah global melemah selama tiga hari berturut-turut, sejalan dengan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi.

Di saat yang sama, kecemasan terkait kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian. Situasi ini mencuat di tengah pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, sehingga pelaku pasar menyeimbangkan dua sentimen yang saling mengimbangi.

Ketika harga minyak berjangka lebih rendah, minat terhadap minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel cenderung berkurang. Perubahan pada pasar energi itulah yang kemudian menekan daya tarik CPO di perdagangan harian, meski tren mingguan masih tetap positif.

Dari sisi pasokan, produksi minyak sawit di wilayah penghasil utama Indonesia, khususnya Kalimantan, disebut berpotensi turun. Estimasi penurunan mencapai kisaran 12% hingga 15% pada kuartal IV-2026, dipicu perkebunan yang terdampak cuaca kering berkepanjangan serta kebakaran lahan yang meluas.

Dengan kondisi tersebut, harga CPO berada dalam fase yang berupaya menyeimbangkan tekanan jual jangka pendek dan dukungan dari ekspektasi pasokan ke depan. Pasar pada akhirnya akan terus memantau sinyal kebijakan perdagangan, pergerakan minyak nabati pesaing, serta arah harga minyak mentah untuk menentukan lanjutan pergerakan pekan berikutnya.

Penurunan harian CPO pada Jumat lalu juga terlihat dari cara pasar merespons pelemahan di sektor komoditas lain. Ketika kontrak-kontrak minyak nabati dan minyak mentah bergerak turun secara serentak, pelaku pasar cenderung menahan pembelian baru dan memilih pendekatan yang lebih selektif, sehingga pergerakan CPO lebih banyak mengikuti dinamika risiko di pasar global.

Meski tekanan jual muncul dari sisi energi dan permintaan biodiesel, sinyal pasokan ke depan tetap menjadi penopang yang dibaca pelaku pasar. Jika produksi di wilayah penghasil Indonesia—terutama Kalimantan—memang berpotensi turun 12% hingga 15% pada kuartal IV-2026 akibat cuaca kering serta kebakaran lahan, maka koreksi jangka pendek berpeluang diperlakukan sebagai penyeimbangan, bukan pembalikan tren.