jurnalistik.co.id – Warren Buffett resmi mundur dari kursi Chairman Berkshire Hathaway pada Jumat (18/9/2026). Pengunduran diri ini menutup lebih dari enam dekade kiprahnya dalam membangun konglomerasi yang kini ditaksir bernilai sekitar US$1,1 triliun.
Menurut Reuters, Buffett yang berusia 96 tahun ditunjuk sebagai Chairman Emeritus. Perubahan peran itu dilakukan setelah masa memimpin yang sangat panjang, sekaligus menandai tahap akhir proses suksesi di perusahaan.
Di saat yang sama, putra sulung Buffett, Howard Buffett (71 tahun), dipilih untuk menggantikan posisi sebagai Non-Executive Chairman. Howard tercatat telah menjadi anggota dewan direksi sejak 1993, sehingga masa tugasnya di struktur pengambilan keputusan perusahaan sudah berlangsung lama.
Transisi kepemimpinan ini muncul sekitar sembilan bulan setelah Buffett menyerahkan tongkat jabatan CEO Berkshire Hathaway kepada Greg Abel. Abel selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur kepercayaan yang memikul tanggung jawab operasional perusahaan.
Meskipun tidak lagi menjabat sebagai ketua, Buffett tetap menjalankan perannya sebagai anggota dewan direksi. Dengan begitu, keterlibatan terhadap arah strategis perusahaan diyakini tetap berlanjut melalui platform dewan.
Sebelum mundur, Buffett menyampaikan pesan kepada para pemegang saham melalui surat yang dikutip pada Minggu (20/9/2026). Dalam tulisannya ia menulis, “Waktu Tuhan selalu menang. Dia telah sangat baik kepada saya.”
Buffett juga menyatakan, “Setelah lebih dari 60 tahun, saya masih memiliki pekerjaan terbaik di dunia. Tidak banyak orang seusia saya yang bisa mengatakan hal itu, dan saya tidak pernah merasa seoptimistis ini terhadap apa yang akan datang.” Kalimat tersebut menggambarkan sikapnya bahwa masa depan perusahaan masih menyimpan ruang optimisme.
Di bawah kepemimpinannya, Berkshire Hathaway berkembang dari perusahaan tekstil di New England yang sempat nyaris gagal menjadi salah satu entitas paling bernilai di dunia. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari skala bisnis, tetapi juga dari cara perusahaan menata portofolionya.
Berkshire kemudian memiliki beragam usaha, mulai dari GEICO yang bergerak di asuransi kendaraan, operator kereta api BNSF, hingga bisnis energi. Perusahaan juga menjalankan aktivitas manufaktur, ritel, serta jaringan es krim Dairy Queen.
Berita Terkait
Selain unit bisnis langsung, Berkshire juga menumpuk portofolio investasi saham bernilai ratusan miliar dolar AS. Di antara nama besar yang disebut termasuk Apple, American Express, Alphabet (induk Google), dan Coca-Cola.
Keunikan posisi Berkshire juga tampak di lanskap perusahaan bernilai lebih dari US$1 triliun. Klub tersebut selama ini lebih banyak dihuni raksasa teknologi, sementara Berkshire menonjol karena kombinasi bisnis dan investasi yang berlapis.
Respons pasar terhadap perubahan kepemimpinan terbilang tenang. Saham Berkshire Hathaway tercatat naik sekitar 0,4% pada perdagangan Jumat waktu setempat, seiring anggapan bahwa langkah suksesi telah dipersiapkan sejak lama.
Brian Jacobsen, Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, menilai transisi ini bukan kejutan. Ia menyampaikan, “Ini selalu soal kapan, bukan apakah akan terjadi. Buffett melakukan transisi yang elegan,” lalu menambahkan, “Ini terasa lebih sebagai penyelesaian dari rencana suksesi yang matang daripada pergantian kepemimpinan yang mendadak.”
Howard Buffett menjaga budaya perusahaan
Greg Abel kini memimpin operasional perusahaan sebagai CEO, sementara Howard Buffett mengambil peran ketua non-eksekutif. Dalam skema tersebut, Howard disebut tidak akan terlibat langsung dalam pengelolaan bisnis sehari-hari.
Peran Howard diletakkan untuk menjaga budaya Berkshire Hathaway yang selama ini menjadi ciri khas perusahaan. Berkshire dikenal memberikan keleluasaan besar kepada anak-anak usaha agar menjalankan operasionalnya masing-masing, tanpa terlalu banyak campur tangan manajemen pusat.
Pada wawancara dengan Wall Street Journal pada Januari 2025, Howard menjelaskan filosofi budaya yang akan terus dijaganya. Ia mengatakan, “Bukan sesuatu yang rumit. Budaya kami adalah menjaga segala sesuatu tetap sederhana, melakukan apa yang memang perlu dilakukan dan tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu, memperlakukan orang secara adil, menghormati manajer dan pemegang saham, serta menyampaikan kabar buruk secara terbuka dan jujur.”
Dalam konteks pribadi, Forbes menyebut kekayaan Buffett saat ini sekitar US$145 miliar. Nilai tersebut disebut bisa jauh lebih besar jika Buffett tidak mendonasikan lebih dari separuh kepemilikan saham Berkshire untuk kegiatan amal sejak 2006.
Di sisi lain, meski telah melepas jabatan ketua, Berkshire menegaskan Buffett akan tetap memberikan pandangan, penilaian, dan nasihat strategis sebagai anggota dewan direksi. Dengan demikian, suksesi yang berlangsung di tingkat kepemimpinan tidak menghapus peran pengalaman Buffett di ruang pengambilan keputusan.











