Bisnis & Ekonomi

Harga Solar AS Tembus Rekor, Petani Terjepit di Tengah Tekanan Trump

×

Harga Solar AS Tembus Rekor, Petani Terjepit di Tengah Tekanan Trump

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Solar Tembus Rekor: Petani AS Tercekik, Trump Tak Bisa Santai

jurnalistik.co.id – Harga diesel atau solar di Amerika Serikat kini menembus rekor tertinggi dan mulai menjadi sandungan nyata bagi berbagai lapisan ekonomi, termasuk sektor pertanian. Kenaikan biaya itu bahkan diproyeksikan akan memengaruhi perputaran harga hingga ke konsumen, tepat di periode politik yang sensitif menjelang pemilu sela.

Pada awal pekan ini, harga rata-rata solar jalan raya di AS mencapai US$6,285 per galon atau Rp29.400 per liter (dengan asumsi kurs US$1 = Rp17.730). Angka tersebut naik dari US$5,97 per galon pada pekan sebelumnya.

Secara tahunan, lonjakan solar jalan raya juga jauh melampaui kenaikan inflasi umum. Harga itu melonjak lebih dari US$2,50 per galon dibanding periode yang sama tahun lalu, atau meningkat hampir 70% secara year-on-year.

Untuk kebutuhan pertanian, tekanannya tak kalah besar. Pada awal September, rata-ratanya mencapai US$5,45 per galon, naik dari US$3,02 pada setahun sebelumnya, atau setara kenaikan sekitar 80%.

Meski solar pertanian umumnya bebas dari pajak bahan bakar jalan raya federal AS sebesar 24,4 sen per galon, aturan negara bagian berbeda-beda. Artinya, keringanan pajak yang tersedia tidak otomatis membuat biaya tetap terkendali ketika harga pasar global menguat.

Petani menghadapi pilihan memangkas biaya lain

Dari sejumlah wilayah, lonjakan harga solar terjadi di tengah musim panen dan menekan ruang keuntungan petani yang memang cenderung tipis. Kondisi ini, menurut pemberitaan Reuters, juga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di toko-toko AS.

Di timur laut Missouri, Addie Yoder—petani jagung, kedelai, dan sapi—mengoperasikan dua mesin pemanen (combine), tiga truk semi-trailer, serta sejumlah traktor dari pertengahan September hingga akhir Oktober. Dengan solar yang kini mencapai level rekor, Yoder menyebut satu mesin combine saja membutuhkan sekitar 300 galon bahan bakar.

Ia mengatakan pilihan yang tersisa bukan menunda panen, melainkan mengurangi pos pengeluaran lainnya agar tetap sesuai kemampuan biaya. “Anda tidak bisa begitu saja mengatakan, solar mahal, jadi saya tidak akan panen. Anda harus membuatnya sesuai dengan anggaran,” ujar Drew Peterson kepada Reuters.

Petani Drew Peterson di tenggara South Dakota memperkirakan biaya bahan bakar untuk satu mesin combine bisa mencapai US$1.500 atau sekitar Rp26,5 juta per hari (US$1 = Rp17.730) selama musim panen tahun ini. Ia menilai angka itu dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Biaya merembet ke rantai pasok dan konsumen

Kenaikan harga bahan bakar juga diperkirakan akan merembet ke konsumen, terutama karena periode November menjadi waktu fokus pemilih pada pemilu sela (midterm elections). Biaya hidup dipandang sebagai salah satu isu utama yang menjadi perhatian pemilih.

Menurut analisis ekonomi, kenaikan solar akan meningkatkan ongkos di hampir setiap tahap rantai pasok pangan. Mulai dari proses panen di lahan pertanian hingga pengiriman memakai truk ke toko dan supermarket.

David Ortega, ekonom dari Michigan State University, menegaskan ketergantungan logistik pangan pada solar. “Mayoritas makanan kita diangkut menggunakan truk dan truk-truk tersebut menggunakan solar,” katanya kepada Reuters.

Sementara itu, harga pangan konsumen AS sendiri sudah menunjukkan kenaikan. Berdasarkan data terbaru Consumer Price Index (CPI), pada Agustus harga pangan naik 2,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penghematan dilakukan, namun ruang tak lagi luas

Di tingkat petani, akses terhadap off-road solar tetap ada, tetapi harga yang lebih tinggi membuat banyak pelaku tetap membayar jauh lebih mahal dibanding tahun lalu. Wayne Gularte, petani berbagai jenis sayuran di lahan sekitar 600 acre dekat Gonzales, California, menyebut biaya bahan bakarnya meningkat sekitar 40%.

Ia membandingkan biaya dari sekitar US$5 menjadi US$7 per galon. Untuk menekan pengeluaran, Gularte bahkan kembali menggunakan beberapa traktor tua berbahan bakar bensin yang dibuat pada 1950-an dan menghentikan penggunaan salah satu pikap solar miliknya.

“Satu-satunya uang yang bisa kami hasilkan adalah uang yang kami hemat,” kata Gularte.

Ahli ekonomi pertanian dari Purdue University, Michael Langemeier, menyebut biaya bahan bakar pertanian naik sekitar US$11 per acre untuk jagung dan US$7 per acre untuk kedelai dibanding tahun lalu. Ia juga menyoroti pergerakan pasar komoditas yang menguatkan tekanan biaya.

Harga berjangka jagung, kedelai, dan gandum melonjak signifikan sejak pertengahan Agustus. Pada awal September, ketiganya mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.

Namun, margin keuntungan petani tetap berada di bawah rata-rata historis. Nick Paulson, ekonom pertanian dari University of Illinois, memperingatkan lonjakan solar dapat ikut mengerek biaya benih dan pupuk pada tahun depan.

“Kekhawatirannya adalah solar di atas US$6 per galon mulai menciptakan tekanan inflasi pada segala hal, bahkan menggerus potensi peningkatan keuntungan,” ujarnya.

Solar jadi utang baru bagi petani

Ketika penghematan sudah dilakukan, tambahan kenaikan harga bahan bakar membuat ruang menyerap biaya makin menyempit. Jon Paul Driver, petani jerami di dekat Spokane, Washington, sekaligus wakil presiden kedua Washington Farm Bureau, menyebut kenaikan harga bahan bakar kini langsung menambah beban utang pertanian.

“Setiap kenaikan harga bahan bakar saat ini merupakan tambahan utang bagi pertanian,” kata Driver. Pernyataan itu selaras dengan permintaan bantuan kebijakan.

Senator AS dari Partai Republik asal Kansas, Roger Marshall, bahkan meminta Menteri Pertanian AS Brooke Rollins memberikan bantuan sementara kepada petani menghadapi lonjakan biaya bahan bakar yang tidak terduga. Dalam surat tertanggal 11 September, Marshall menekankan perlunya dukungan pada salah satu periode paling intensif penggunaan solar sepanjang tahun.

Departemen Pertanian AS (USDA) menyatakan pemerintah “tidak membiarkan satu pun opsi terlewatkan” untuk mengatasi tingginya harga solar. Rollins juga menyampaikan akan ada pengumuman lebih lanjut terkait persoalan tersebut dalam beberapa pekan mendatang.

Produk yang paling rentan terhadap kenaikan harga disebut sayuran, produk susu, dan daging karena membutuhkan transportasi berpendingin yang sangat bergantung pada bahan bakar. Biaya pengiriman apel dan pir menggunakan truk berpendingin dari Yakima Valley, Washington, telah mencapai level tertinggi dalam empat tahun, padahal musim panen baru berjalan sekitar separuhnya.

Di sisi lain, biaya pengangkutan produk pertanian dari California melonjak 40%-120% dibanding tahun lalu. Pada sejumlah kota di California, harga solar bahkan telah menembus US$8 per galon.

Bagi industri angkutan, tekanan bisa berujung pada gangguan usaha. Dean Croke, analis utama DAT Freight & Analytics, menyebut perusahaan angkutan independen yang biasanya harus membayar bahan bakar di muka bisa kesulitan menanggung biaya lebih lanjut.

“Kita akan segera melihat kebangkrutan perusahaan angkutan yang didorong oleh harga solar,” ujarnya.

Tekanan bukan hanya pasar—ada masalah kapasitas kilang

Solar merupakan bahan bakar penting bagi ekonomi global karena dipakai untuk truk, kapal, mesin pertanian, pabrik, hingga proyek konstruksi. Lonjakan harga bahan bakar ini berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan menekan perekonomian.

Solar dan minyak pemanas menyumbang hampir 30% konsumsi minyak dunia, atau sekitar 29 juta barel per hari (bph). Sekitar seperempatnya diperdagangkan secara internasional.

Timur Tengah biasanya menjadi eksportir terbesar dengan sekitar 1,5 juta bph, sementara Rusia memasok sekitar 800 ribu bph. Masalahnya, fasilitas energi dan kilang minyak kini menjadi sasaran konflik di Rusia-Ukraina dan Timur Tengah.

Serangan terhadap kilang serta gangguan pasokan bahan baku membuat pasokan solar semakin ketat. Ekspor solar dari Timur Tengah turun lebih dari 50% antara Maret dan Agustus.

Di Rusia, serangan drone Ukraina mengganggu jaringan kilang, sementara Moskow memberlakukan larangan ekspor solar pada Juli. Pada September, separuh dari enam kilang solar terbesar Rusia telah memangkas produksi tajam atau berhenti beroperasi.

Akibatnya, ekspor solar gabungan Rusia dan Timur Tengah anjlok sekitar dua pertiga dibanding 2025. Krisis pasokan ini langsung memukul harga, termasuk kontrak berjangka solar Eropa yang menembus rekor US$210 per barel.

Di Amerika Serikat, harga eceran solar menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya. Kekhawatiran yang muncul dinilai lebih besar dibandingkan bensin, karena dampaknya bisa menjalar ke rantai pasok selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Biaya transportasi, pengiriman makanan, produksi barang, hingga konstruksi dapat meningkat dan pada akhirnya mendorong inflasi.

Inflasi berpotensi bertahan lebih lama

Masalah utama kali ini bukan lagi kekurangan minyak mentah, melainkan kekurangan kapasitas kilang untuk mengolah minyak menjadi bahan bakar. Ketika perang AS–Israel–Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, pasar sempat khawatir pasokan minyak mentah dunia terganggu.

Namun produksi Amerika Utara, pelepasan cadangan darurat, dan penurunan impor China membantu meredam tekanan tersebut. Sebaliknya, pemulihan kapasitas kilang diperkirakan jauh lebih sulit.

Perbaikan kilang yang rusak akibat perang Iran dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan peralatan industri. Di Rusia, sanksi juga membatasi akses terhadap peralatan khusus dan suku cadang.

Kilang di luar wilayah konflik berusaha meningkatkan produksi solar. Di AS, produksi solar bahkan didorong ke level tertinggi untuk periode ini sejak 2018, tetapi upaya tersebut belum cukup karena kapasitas cadangan kilang sangat terbatas.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan kapasitas pengolahan kilang global rata-rata hanya 81,5 juta bph pada 2026, turun dari sekitar 84 juta bph pada 2025. Persediaan solar dan produk minyak sulingan menengah juga rendah, sementara stok AS berada di level terendah setidaknya sejak 1982 untuk periode yang sama.

Biasanya, harga solar yang tinggi mendorong produksi dan menekan permintaan. Namun ketika kapasitas kilang terbatas, hasilnya justru bisa berarti harga jauh lebih tinggi dan penurunan permintaan yang signifikan.

Kekhawatiran terbesar adalah apakah harga solar tinggi akan mendorong inflasi AS secara luas dan bertahan lama hingga menghambat pertumbuhan ekonomi. Permintaan solar juga lebih sulit turun dibandingkan bensin.

Konsumsi bensin dapat berkurang saat masyarakat mengurangi perjalanan, sedangkan konsumsi solar biasanya baru turun ketika aktivitas ekonomi secara keseluruhan melambat. Dampaknya juga tidak langsung terlihat karena harga solar meningkatkan biaya transportasi, distribusi, dan produksi sebelum masuk ke harga barang yang dibayar konsumen.

Ekonom Joel Prakken memperkirakan solar menyumbang sekitar 70% penggunaan bahan bakar antara dalam perekonomian AS. Harga solar saat ini masih berada di bawah level puncak 2008 dan 2022 jika disesuaikan dengan inflasi.

Tetapi penyebab lonjakan kali ini berbeda. Kenaikan harga sekarang terjadi karena kapasitas kilang benar-benar hilang, arus minyak terganggu, dan persediaan menipis.