Bisnis & Ekonomi

Perak Menguat Saat Dolar Kuat, Apa Pemicunya?

×

Perak Menguat Saat Dolar Kuat, Apa Pemicunya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perak Bergairah Saat Dolar Perkasa, Kok Bisa?

jurnalistik.co.id – Harga perak kembali menunjukkan tenaga positif pada pekan ini, seiring meredanya sentimen yang selama ini membebani prospek inflasi. Pelemahan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang membantu pasar merasa lebih tenang terhadap risiko tekanan harga yang berkepanjangan.

Perkembangan itu tercermin dari data Refinitiv. Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/6/2026), harga perak ditutup di level US$66,23 per troy ons, atau naik 1,6% dibanding perdagangan sehari sebelumnya.

Secara pergerakan mingguan, perak menguat 2,76% secara point-to-point. Kenaikan tersebut membuat logam mulia kembali bergerak searah dengan minat investor yang sempat terarah pada aset berbasis dolar dan imbal hasil.

Minyak turun, kekhawatiran inflasi ikut melemah

Chris Gaffney, Presiden World Markets di EverBank, menilai penurunan harga minyak memberi ruang napas karena minyak termasuk pendorong utama inflasi. Dengan begitu, perhatian pasar terhadap inflasi yang sulit mereda tidak lagi setajam sebelumnya.

“Investor logam mulia sebelumnya telah memperkirakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan mengambil banyak posisi short untuk memanfaatkan potensi aksi jual emas. Posisi-posisi tersebut kini dengan cepat ditutup,” ujar Chris Gaffney, dikutip dari Reuters, Minggu (20/9/2026).

Senada dengan pandangan tersebut, harga minyak mentah anjlok 2% pada Jumat. Penurunan itu terjadi sejalan dengan meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi.

Meskipun demikian, pasar tetap mengamati kemungkinan guncangan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Risiko semacam ini biasanya mudah memantik kenaikan harga energi kembali, sehingga sentimen inflasi dapat bergerak cepat meski ada jeda pelemahan.

Dalam konteks tersebut, reli perak tidak hanya dibaca sebagai reaksi jangka pendek, melainkan sebagai respons terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan dinamika suku bunga yang menempel di logam mulia.

Dollar bergerak liar, tetapi perak tetap mengikuti emas

Selain dipengaruhi faktor energi, kenaikan perak juga bergerak sejalan dengan kenaikan emas. Meski demikian, pergerakan dolar AS pada pekan ini disebut cukup bergejolak, sehingga pasar membutuhkan sinyal lain agar bisa mempertahankan arah transaksi.

Indeks dolar masih bertahan di level 100 untuk tiga hari beruntun. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap menembus 5% atau berada di level tertinggi sejak 2007.

Layaknya emas, perak juga tidak menawarkan imbal hasil. Karena itu, ketika imbal hasil US Treasury cenderung naik, emas dan perak umumnya menjadi kurang menarik bagi sebagian investor yang membandingkan kembali daya tarik aset berimbal hasil.

Namun, dua anomali yang muncul di pasar menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak kini mendapat perhatian khusus. Minyak dinilai memiliki hubungan langsung dengan laju inflasi, sehingga dampaknya bisa lebih terasa pada ekspektasi suku bunga.

Ekspektasi The Fed masih mengarah pada peluang kenaikan berikutnya

Di saat yang sama, dinamika kebijakan moneter AS terus membentuk batasan bagi pergerakan logam mulia. The Federal Reserve pada Rabu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4% pada Rabu pekan ini.

Langkah tersebut juga disertai isyarat bahwa masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini membuat pasar menilai pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh pesan bank sentral dan data lanjutan.

Menurut perangkat CME FedWatch, pelaku pasar melihat peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya ketika para bank sentral bertemu pada Oktober 2026. Dengan probabilitas setinggi itu, perubahan kecil dalam ekspektasi suku bunga bisa memengaruhi minat terhadap aset non-imbal hasil seperti emas dan perak.

Walau imbal hasil 10 tahun tetap berada di atas 5% dan dolar menunjukkan ketahanan, penguatan perak tetap terjadi. Perpaduan antara meredanya kekhawatiran inflasi akibat penurunan minyak, serta penutupan cepat posisi yang sebelumnya disusun untuk skenario penjualan emas, menjadi penjelasan utama di balik respons pasar.

Dengan demikian, pekan ini memperlihatkan bagaimana logam mulia dapat kembali bergairah ketika faktor inflasi berubah arah. Sementara risiko energi dari Timur Tengah masih menjadi perhatian, jalur berikutnya perak kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh kombinasi harga minyak, pergerakan dolar, imbal hasil Treasury, dan sinyal kebijakan The Fed.