Bisnis & Ekonomi

Emas Berpotensi Naik Pekan Depan, Uji Level US$4.766/troy Ons

×

Emas Berpotensi Naik Pekan Depan, Uji Level US$4.766/troy Ons

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prediksi Laju Harga Emas Pekan Depan: Ada Potensi Terkerek Naik - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia diproyeksikan berpeluang menguat pekan depan dan membuka ruang bagi penguatan lanjutan pada logam mulia domestik. Dalam skenario yang disampaikan pengamat Ibrahim Assuaibi, level tertinggi yang menjadi acuan ada di area US$4.766 per troy ons.

Menurut Ibrahim, pergerakan harga emas pekan depan dipetakan berada dalam rentang support US$4.437 per troy ons hingga resistance bernilai US$4.766 per troy ons. Ia menjelaskan bahwa pola perdagangan yang mungkin terjadi dimulai dari rentang bawah terlebih dahulu, sebelum menguji area puncak.

“Dalam pekan depan harga emas dunia kemungkinan besar akan ditransaksikan di US$4.437/troy ons, kemudian resistance-nya itu adalah US$4.766/troy ons,” ujar Ibrahim pada Minggu (23/8/2026). Pengamat menempatkan level-level itu sebagai acuan teknikal yang biasanya dipengaruhi pergerakan beberapa indikator pasar utama.

Untuk kondisi awal pekan, Ibrahim menyinggung proyeksi apabila harga mengalami koreksi pada Senin (24/8/2026). Dalam skenario tersebut, emas dunia diperkirakan menyentuh batas support pertama di US$4.520 per troy ons sebelum berpotensi bergerak menuju support mingguan di level US$4.437 per troy ons.

Di sisi lain, apabila pasar justru memilih arah kenaikan, Ibrahim menyebut resistance pertama berada di US$4.676 per troy ons. Dari sana, jika momentum bertahan, harga berpeluang melanjutkan pengujian hingga resistance mingguan sebesar US$4.766 per troy ons.

Ibrahim juga mengaitkan dinamika emas dengan proyeksi pergerakan indeks dolar AS. Ia menyebut indeks dolar diperkirakan bergerak pada kisaran support 98,00 dan resistance 100,20, yang dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar, termasuk emas.

Selain dolar AS, pergerakan harga minyak mentah juga disebut sebagai salah satu faktor yang patut dicermati. Harga minyak mentah jenis WTI diperkirakan bergerak pada level US$83, dengan batas resistance di US$89 per barel, atau naik sekitar US$6.

Dalam konteks posisi harga terakhir, Ibrahim menyampaikan bahwa pada penutupan perdagangan Sabtu pagi harga emas dunia berada di level US$4.604 per troy ons. Dengan posisi tersebut, rentang proyeksi pekan depan mencerminkan kemungkinan terjadinya fase koreksi maupun kelanjutan penguatan, tergantung reaksi pasar terhadap dolar AS dan WTI.

Dari sisi pasar domestik, kenaikan emas dunia dinilai berpotensi menular ke harga logam mulia di Indonesia. Dalam narasi yang disampaikan, penguatan yang terjadi diyakini dapat mendorong harga logam mulia domestik hingga menyentuh Rp2.864.000 per gram.

Secara keseluruhan, ramalan Ibrahim menempatkan pekan depan sebagai periode pengujian level-level kunci: support mingguan US$4.437 per troy ons dan resistance mingguan US$4.766 per troy ons. Bagi pelaku pasar, pembacaan terhadap batas-batas antara—US$4.520 untuk support pertama dan US$4.676 untuk resistance pertama—menjadi penanda penting untuk menilai arah pasar sejak awal pekan.

Dalam pembacaan teknikal tersebut, fokus utama diarahkan pada bagaimana harga berperilaku ketika berada di antara zona support dan resistance yang sudah disebutkan. Jika pasar memilih pola bertahap, pergerakan cenderung mulai dari area bawah yang lebih dekat, baru kemudian berupaya menembus level puncak sebagai pengujian lanjutan.

Karena itu, awal pekan menjadi fase penentu untuk membaca kecenderungan. Ibrahim menggambarkan dua kemungkinan yang saling berkelindan: ketika koreksi terjadi, emas dunia dapat lebih dulu mengarah ke US$4.520 sebelum kembali menguji support mingguan US$4.437; sebaliknya, jika ada dorongan kenaikan, harga dapat bergerak dari resistance pertama US$4.676 lalu berpeluang melanjutkan pengujian hingga US$4.766.

Di saat yang sama, sentimen eksternal yang memengaruhi instrumen dolar dan komoditas energi turut memperkuat kerangka proyeksi. Indeks dolar disebut bergerak pada kisaran 98,00–100,20, sementara WTI diproyeksikan berada di level sekitar US$83 dengan batas resistance US$89. Dengan posisi penutupan Sabtu pagi emas dunia di US$4.604, arah pekan depan diperkirakan tetap akan berkait dengan respons pasar atas pergerakan dolar AS dan minyak mentah, serta pada akhirnya berpotensi menular ke harga logam mulia domestik hingga Rp2.864.000 per gram.