jurnalistik.co.id – Aston Villa memulai petualangan Premier League musim 2026-27 dengan kekalahan besar saat bertandang ke Brighton, 4-0. Di balik hasil yang menghantam hingga turun minum, nama Ollie Watkins justru menjadi pusat pembahasan setelah ia tidak masuk daftar susunan pemain.
Pelatih Unai Emery menyebut ketidakhadiran Watkins sebagai hal yang “pertanyaan untuknya”. Pernyataan itu muncul setelah pertandingan pembuka di mana Villa berada dalam posisi tertinggal sejak babak pertama dan skor tetap 4-0 sampai akhir.
Watkins, yang berusia 30 tahun, tidak dibawa dalam skuat pertandingan Villa untuk laga pembuka Premier League. Emery sebelumnya juga telah memastikan bahwa pada pekan-pekan sebelumnya ada tawaran dari klub Saudi, Al-Hilal, untuk sang striker.
Ketika ditanya apakah keputusan menyingkirkan Watkins murni diambil oleh dirinya, Emery menjawab dengan nada menggiring fokus kepada sang pemain. Ia mengatakan kepada Match of the Day: “This question is for him. You can call him and try to get his answer.”
Emery lalu menambahkan konteks pilihan pemain yang tersedia bagi timnya: “The players here wanted to play and we had two strikers with a small injury. The question on Watkins is for him.”
Artinya, bagi Emery, absensi Watkins bukan semata-mata soal strategi taktik di laga tersebut, melainkan juga terkait respons atau jawaban Watkins terhadap situasi yang sedang berkembang. Posisi itu kemudian ditanggapi kapten John McGinn saat berbicara kepada Sky Sports.
McGinn menyebut kondisi tersebut tidak mudah, sekaligus menegaskan tanggung jawabnya sebagai kapten untuk memastikan seluruh pemain yang ada bisa tampil maksimal. Ia mengatakan: “It’s a difficult one. He’s been an amazing player and a record goalscorer – my job as captain is to get the best out of all the players that are here today.”
McGinn melanjutkan dengan menekankan semangat tim yang tetap bertarung di laga tandang. “It’s not easy coming here. I’m proud of the players that were here today and fought for the club.”
Dengan absensi itu, Watkins berpotensi menjadi salah satu wajah yang menyusul eksodus pemain Eropa musim panas ini. Setelah Villa mengakhiri penantian 30 tahun gelar dengan meraih Europa League pada bulan Mei melawan Freiburg, jendela transfer terasa seperti fase penataan ulang besar yang berpotensi menjual beberapa pemain dari starting XI.
Emery menghadapi musim dengan pergantian skuad besar
Degradasi skuad yang menyertai kekalahan di Brighton terjadi beriringan dengan perubahan materi yang cepat di Villa Park. Ezri Konsa disebut telah berpamitan menuju Arsenal sebagai perpindahan profil tinggi di musim panas ini. Kepergian tersebut melengkapi daftar pemain yang sudah lebih dulu meninggalkan klub.
Youri Tielemans dan Morgan Rogers tercatat pergi pada bulan lalu. Rogers pindah ke Chelsea dengan nilai 117 juta poundsterling—angka yang disebut sebagai rekor untuk pemain asal Inggris. Lucas Digne juga dijual ke Paris Saint-Germain.
Selain urusan pemain depan, persaingan di posisi penjaga gawang juga ikut berubah. Emi Martinez tidak masuk dalam skuad hari Minggu setelah upayanya gagal menuju Juventus. Villa juga sudah menandatangani pengganti, Zion Suzuki.
Jika Martinez benar-benar meninggalkan klub, maka nama-nama yang tersisa dari 11 pemain yang memulai laga melawan Freiburg di Istanbul akan tinggal Matty Cash, Pau Torres, Victor Lindelof, John McGinn, dan Emi Buendia.
Perubahan besar ini juga memunculkan pertanyaan mengenai alasan Villa menjadi “klub penjual” di bursa transfer. Dalam laporan BBC Sport, latar finansial disebut menjadi faktor utama—terkait aturan biaya skuad UEFA (SCR) dan Profit & Sustainability Rules (PSR) yang membatasi ruang gerak klub untuk membelanjakan uang.
Emery dan klub disebut harus mematuhi ketentuan bahwa mereka hanya boleh menghabiskan 70% dari pendapatan yang terkait sepak bola untuk gaji pemain dan staf, biaya transfer, serta biaya agen. Selain itu, Villa pernah dikenai denda dua kali oleh UEFA atas pelanggaran, dengan sanksi 9,5 juta poundsterling pada tahun lalu dan denda 19,4 juta poundsterling pada bulan Juni—di mana 12,9 juta poundsterling kemudian ditangguhkan setelah Villa mencapai kesepakatan.
Kondisi tersebut membuat tangan klub “terikat” selama jendela transfer. Premier League juga disebut membatasi kerugian finansial maksimum hingga 105 juta poundsterling dalam periode bergulir tiga tahun melalui PSR.
Dalam laporan keuangan terbaru yang berakhir pada 30 Juni 2025, Villa tercatat membukukan laba pasca-pajak sebesar 17 juta poundsterling, tetapi dua tahun sebelumnya menunjukkan kerugian 119,6 juta poundsterling (2023) dan 85,4 juta poundsterling (2024). Aturan kemudian diganti SCR, sehingga Premier League menyesuaikan model UEFA.
Seorang mantan eksekutif Villa yang diwawancarai BBC Sport menjelaskan pandangannya saat ditanya soal penjualan: “It’s necessity because of the rules.” Ia menambahkan: “The PSR, the SCR, issues are well documented.”
Mantan eksekutif itu juga menyatakan: “It does seem slightly unfair they’re having their ambition capped at this level.” Baginya, batasan tersebut justru memaksa putaran pergantian pemain dalam jumlah besar: “But it has forced this very big churn of players, which is unfortunate.”
Berita Terkait
Ia mengaitkan pergantian tersebut dengan dua sumber tekanan: “Some will be forced due to PSR, some will be player demand. Combined it makes a big problem for Emery and certainly it is a lot to swallow in one go and to try and replace.”
Musim panas ini disebut semakin memperjelas posisi Villa karena sifat perpindahan yang bersifat profil tinggi. Total pemasukan dari penjualan disebut mencapai just over ÂŁ200m melalui penjualan Jhon Duran (ÂŁ71m), Douglas Luiz (ÂŁ42.5m), Jacob Ramsey (ÂŁ40m), dan Moussa Diaby (ÂŁ50m) selama dua tahun terakhir.
Dengan kesepakatan Konsa yang sudah beres, Villa disebut mengantongi sekitar £212m selama jendela ini, termasuk £9m untuk Lewis Dobbin—yang tidak pernah tampil dalam pertandingan senior untuk Villa sebelum hengkang ke Southampton.
Jalannya pembiayaan juga datang dari aktivitas akademi. BBC Sport menyebut Jaden Philogene dan Cameron Archer dibeli kembali untuk dijual lagi, sementara Burnley menghabiskan ÂŁ12m untuk Aaron Ramsey pada 2023. Di sisi internal, ketika Villa kembali ke Liga Champions pada 2024, klub disebut menyadari peluang lulusan akademi untuk menembus skuad utama akan makin sulit, sehingga penjualan menjadi ruang yang lebih sering dilakukan.
Untuk gambaran perbandingan belanja, musim panas sebelumnya mencatat pengeluaran transfer kotor Villa sebesar ÂŁ71m, jauh di bawah Manchester City, Chelsea, dan Arsenal yang semuanya di atas ÂŁ200m. Wolves yang finis di posisi terbawah musim lalu disebut membelanjakan ÂŁ109m.
Situasi itu memperkuat argumen Emery bahwa Villa tidak termasuk “kelompok elit”. BBC Sport juga menyinggung bahwa Villa sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memburu kesepakatan Conor Gallagher, tetapi Tottenham justru melangkah lebih dulu dan membeli sang pemain pada Januari.
Transfer Rogers senilai £117m ke Chelsea digambarkan sebagai cara paling mudah bagi Villa untuk memenuhi aturan finansial UEFA. Rencana tersebut datang setelah denda pertama tahun lalu, sehingga Villa harus “break even in 2026-27”.
Catatan penampilan Villa di Liga Champions juga disebut menyumbang pemasukan besar. Mereka mencapai perempat final pada 2024-25 dan memperoleh sekitar mendekati £70m—yang disebut menjadi alasan utama klub bisa mencatat profit pada laporan terbaru. Sementara itu, kemenangan Europa League disebut membuat Villa mengamankan sekitar £45,6m, termasuk minimum yang didapat untuk lolos ke Liga Champions musim berikutnya.
Harapan tetap ada, tekanan juga menumpuk pada Emery
Di tengah keluarnya sejumlah pemain, rasa optimisme masih dibiarkan hidup oleh kompetisi yang tetap ditunjukkan Villa. Kekalahan di Piala Super melawan Paris Saint-Germain di Salzburg—terjadi awal bulan ini—disebut tetap menunjukkan bahwa Villa mampu bersaing, sekaligus menggarisbawahi kemampuan Emery dalam beradaptasi.
Emery disebut harus “roll with the punches” selama 3,5 tahun masa jabatannya, mulai dari kondisi saat ia mengambil alih dari posisi tim yang tertahan di urutan ke-14 setelah era Steven Gerrard. Namun, dalam laporan tersebut, konsistensi perbaikan Villa ditekankan sebagai fondasi utama.
Kapten John McGinn menyampaikan bahwa Villa masih mempertahankan Emery sementara beberapa klub besar lain—seperti Manchester City, Liverpool, dan Chelsea—memiliki manajer baru. Ia menyatakan: “We have a structure in place, standards and rules which have made us a success. I am really excited about the new Aston Villa .”
Harapan itu juga diarahkan pada munculnya pemain muda, termasuk Brian Madjo. Villa dikabarkan telah memenangkan “battle with Fifa” untuk mendaftarkan pemain berusia 17 tahun tersebut lebih cepat, yakni hanya satu minggu sebelum debutnya di Piala Super.
Madjo disebut mencetak gol pada debutnya melawan PSG, delapan bulan setelah pertama kali bergabung dari Metz seharga ÂŁ10m. Ia juga disebut berpotensi menjadi salah satu kejutan musim ini.
Penguatan arah ke pemain lebih muda terkait pergantian struktur operasional: Roberto Olabe disebut menggantikan Monchi pada September lalu sebagai presiden operasi sepak bola dengan arahan jangka panjang hingga menengah terkait transfer. Di lapangan, Joao Gomes disebut mendapat kartu merah pada debutnya di Premier League bersama Villa saat lawan Brighton, sementara penjaga gawang Suzuki dan bek Matteo Ruggeri memulai dari bangku cadangan.
Ketiganya disebut sudah bergabung musim panas ini setelah Johan Manzambi berusia 20 tahun menjadi rekrutan rekor klub pada bulan Juli. Villa juga disebut memiliki tawaran 18 juta poundsterling yang ditolak untuk bek Southampton Taylor Harwood-Bellis yang berusia 24 tahun.
Skema perekrutan lain melibatkan opsi mendatangkan pemain lewat struktur biaya yang bisa diatur. Salah satunya adalah pinjaman Alejandro Garnacho dari Chelsea dengan kewajiban membeli, sementara Aaron Wan-Bissaka disebut akan bergerak dari West Ham dengan kesepakatan serupa.
Mantan pengambil keputusan Villa menilai rangkaian transfer yang saling bergantung bisa menjadi masalah: “The problem is they may now be at the end of a chain of transfer deals, with the players involved and their transfer targets dependent on other moves happening first.”
Namun, di atas semua itu, Emery disebut menjadi aset terbesar Villa. Dalam penilaian mantan eksekutif Villa Park, ia menilai banyak harapan dan ambisi bertumpu pada manajer: “There’s a lot of hope and ambition resting with the manager,” serta menambahkan: “He’s the ace card they’ve got left and everybody’s hoping with his experience and knowledge they can pull through.”
Ia menggarisbawahi beban yang harus dipikul Emery: “It’s a lot of pressure on him and you’ve got to wonder if he’s trying to think ‘maybe I need to go somewhere else with more resources?’” Lalu ia menutup dengan pandangannya: “I don’t think it’ll be this season but, at some stage as a manager, you get fed up juggling all those demands.”












