jurnalistik.co.id – Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, memproyeksikan inflasi pada September 2026 akan bergerak naik. Kenaikan tersebut, menurutnya, terutama dipicu oleh tekanan harga pangan dan BBM non-subsidi.
Faisal menyampaikan proyeksi itu dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (30/9/2026). Ia menilai bahwa pergerakan inflasi masih dipengaruhi dinamika harga di kelompok inti maupun komponen yang lebih sensitif terhadap perubahan pasokan.
Pada bagian inflasi tahunan, Faisal memperkirakan inflasi IHK utama meningkat. “Inflasi IHK [Indeks Harga Konsumen] utama diperkirakan meningkat dari 3,19% yoy pada Agustus 2026 menjadi 3,35% yoy pada September 2026,” kata Faisal dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).
Secara bulanan, arah kenaikan juga terlihat lebih kuat dibanding bulan sebelumnya. Inflasi IHK utama diproyeksikan naik dari 0,21% month-on-month (mom) pada Agustus 2026 menjadi 0,37% mom pada September 2026.
Faisal juga menyoroti bahwa inflasi kelompok yang cenderung bergejolak diprediksi ikut meningkat pada periode berikutnya. Dalam pandangannya, kenaikan harga diperkirakan datang dari komoditas pangan yang sebelumnya menunjukkan tekanan, sehingga berdampak pada pembentukan inflasi di tingkat konsumen.
Komoditas yang disebut berperan dalam dorongan harga antara lain cabai merah dan cabai rawit. Selain itu, Faisal menyebut harga beras, daging ayam, serta telur juga menjadi bagian dari sumber tekanan inflasi yang berulang, khususnya saat pasokan mengalami perubahan.
Lebih jauh, ia menjelaskan mekanisme penularan tekanan dari hulu ke hilir. Tekanan inflasi dari sisi pasokan diperkirakan terus bergeser menjadi tekanan di harga yang dibayar konsumen, sehingga efek kenaikan harga komoditas tidak berhenti pada tahap produksi atau distribusi.
Berita Terkait
Dalam konteks cuaca, Faisal menilai faktor El Nino berpotensi memperkuat tekanan terhadap harga pangan. Dampak tersebut, menurut dia, dapat membuat volatilitas harga pangan makin terasa, yang pada akhirnya menjaga inflasi akhir tahun berada pada level lebih tinggi dari proyeksi awal.
Ia mengaitkan ekspektasi tersebut dengan proyeksi agar inflasi akhir tahun tetap berada di atas 3%. Dengan demikian, pemerintah dan pelaku pasar, dalam kerangka antisipasi, akan perlu memperhatikan perkembangan harga pangan dan energi, terutama komponen yang terkait BBM non-subsidi.
Secara keseluruhan, proyeksi Faisal menunjukkan bahwa inflasi September 2026 kemungkinan tidak hanya bergerak karena faktor musiman, tetapi juga karena kombinasi tekanan harga dari bahan makanan dan penyesuaian biaya energi. Ketika harga bahan pangan tertentu terus terpantau meningkat, kontribusinya terhadap inflasi berpotensi berlanjut, selaras dengan skenario penguatan dampak El Nino.
Dengan angka acuan IHK utama yang diproyeksikan naik dari 3,19% yoy menjadi 3,35% yoy, serta kenaikan inflasi mom dari 0,21% menjadi 0,37%, perhatian kemudian mengarah pada dinamika pasokan pangan. Faisal menegaskan bahwa rangkaian tekanan tersebut diperkirakan tetap berlanjut hingga membentuk inflasi pada akhir tahun.
Perubahan yang diproyeksikan itu juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa tekanan harga tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan masih terbawa dalam kerangka tahunan. Saat kenaikan IHK utama digambarkan bergerak dari 3,19% yoy menjadi 3,35% yoy, artinya ritme inflasi berpotensi tetap terjaga, bukan segera mereda setelah awal periode.
Faisal menempatkan komoditas yang lebih rentan terhadap perubahan pasokan sebagai pemicu yang paling mudah terlihat. Ketika cabai merah, cabai rawit, beras, daging ayam, dan telur menghadapi fluktuasi pasokan, penyesuaian harga cenderung menyebar dan berulang, sehingga kontribusinya terhadap pembentukan inflasi di tingkat konsumen sulit dipisahkan dari dinamika harian di pasar.
Dengan skenario tersebut, perhatian kemudian bergeser pada kelanjutan efek dari sisi pasokan menuju harga yang dibayar rumah tangga. Bila pergeseran tekanan terus terjadi, pemerintah maupun pelaku pasar perlu menyiapkan antisipasi secara berkelanjutan, terutama karena faktor cuaca yang berpotensi menguatkan tekanan pada pangan serta biaya energi yang terkait BBM non-subsidi diyakini turut menjaga inflasi akhir tahun tetap berada di atas 3%.












