jurnalistik.co.id – El Niño yang melanda Indonesia pada 2026 berpotensi menjadi pemicu tekanan inflasi, terutama lewat dampaknya pada harga pangan dan perputaran belanja masyarakat.
Pakar ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, menilai, fenomena cuaca tersebut tidak berhenti pada isu harga. El Niño juga berisiko menekan konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 53,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Ketika harga pangan naik, daya beli masyarakat berpendapatan rendah langsung tertekan karena sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan,” kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Yusuf, kondisi itu membuat inflasi pangan tidak sekadar persoalan kenaikan harga semata. Dampaknya dapat menggerus sumber utama pertumbuhan ekonomi melalui melemahnya daya beli pada kelompok yang pengeluarannya paling banyak terserap untuk konsumsi pangan.
Di saat yang sama, tekanan juga dirasakan dari sisi pelaku produksi. Yusuf menyebut petani menghadapi situasi yang bersifat ganda: pendapatan mereka turun ketika produksi terganggu, sementara biaya konsumsi justru meningkat.
Dalam pandangan Yusuf, dinamika semacam ini membentuk tantangan ekonomi yang berasal dari sisi pasokan. Artinya, kebijakan yang ditempuh perlu mempertimbangkan karakter guncangan agar respons yang diambil tidak hanya berfokus pada sisi permintaan.
Dari sisi kebijakan, Yusuf menilai El Niño merupakan guncangan sisi penawaran, sehingga ruang kebijakan moneter cenderung terbatas untuk meredam dampaknya. Ia menegaskan, langkah seperti menaikkan suku bunga memiliki ruang yang tidak sebesar ketika menghadapi guncangan yang dominan berasal dari sisi permintaan.
Berita Terkait
Uraian tersebut menjelaskan mengapa perhatian pada stabilisasi pasokan dan ketahanan pangan menjadi penting saat El Niño mulai memengaruhi kondisi di lapangan. Ketika harga pangan mudah tertekan, seluruh rantai ekonomi ikut terdampak, mulai dari belanja rumah tangga hingga kemampuan petani menjaga pendapatan.
Di tengah risiko tersebut, pemerintah disebut telah menyiapkan Rp12 triliun untuk menanggulangi El Nino “Godzilla”. Langkah itu diposisikan sebagai bagian dari upaya menghadapi gangguan yang berpotensi menular dari sisi produksi ke harga, lalu berujung pada daya beli masyarakat.
Dengan karakter guncangan yang dijelaskan Yusuf sebagai isu pasokan, strategi penanganan El Niño perlu diarahkan agar dampak pada harga pangan dapat ditekan dan konsumsi rumah tangga tetap terjaga. Jika tidak, inflasi yang muncul dari pangan dapat memperlemah pertumbuhan ekonomi lewat penurunan daya beli dan ketidakstabilan pendapatan pada sektor-sektor yang paling terdampak.
Dalam kerangka tersebut, kenaikan harga pangan tidak hanya berdampak pada angka inflasi, tetapi juga mengubah cara rumah tangga mengatur pengeluaran. Ketika belanja untuk kebutuhan pokok menyerap lebih banyak uang, ruang untuk konsumsi lain menjadi lebih sempit dan perputaran belanja ikut melemah.
Pada saat bersamaan, mata rantai produksi ikut menanggung beban. Ketika produksi terganggu akibat cuaca, petani menghadapi penurunan pendapatan, sementara harga kebutuhan konsumsi tetap cenderung meningkat. Kombinasi dua tekanan ini membuat kondisi ekonomi di tingkat produksi menjadi lebih rapuh.
Karena guncangan dinilai datang dari sisi pasokan, respons kebijakan juga perlu menyesuaikan. Yusuf menyiratkan bahwa instrumen moneter seperti pengetatan suku bunga tidak akan seefektif saat masalahnya berawal dari sisi permintaan. Karena itu, stabilisasi pasokan dan ketahanan pangan menjadi titik kunci agar gangguan dari produksi tidak langsung merembet menjadi lonjakan harga.
Langkah pemerintah yang disebut telah menyiapkan Rp12 triliun dapat dipahami sebagai upaya memperkuat respons tersebut. Dengan menahan dampak pada harga pangan, daya beli rumah tangga berpendapatan rendah diharapkan lebih terjaga, sekaligus membantu menjaga pendapatan petani agar pertumbuhan ekonomi tidak ikut terkikis oleh inflasi pangan.












