jurnalistik.co.id – Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai perekonomian Amerika Serikat sedang berada dalam fase yang rawan: pertumbuhan kehilangan tenaga, sementara tekanan harga belum benar-benar padam. Kombinasi ini membuat risiko stagflasi dinilainya makin terbuka.
Menurut Pardede, kondisi AS saat ini merupakan pertemuan antara laju pertumbuhan yang melemah, inflasi yang masih tergolong tinggi, dan ruang kebijakan bank sentral yang kian sempit. Dalam gambaran terbaru, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 diperkirakan hanya sekitar 1,5% secara tahunan.
Di saat yang sama, data inflasi menunjukkan belum tercapainya konsistensi penurunan. Inflasi konsumen pada Juli tercatat sebesar 3,4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti berada di 2,5%, masih berada di atas sasaran bank sentral AS yang berada di level 2%.
Tekanan pada daya beli pekerja juga terlihat dari pergerakan upah riil. Pardede menyebut rata-rata upah riil per jam pada Juli turun 0,2% dibandingkan setahun sebelumnya. Ia memandang sinyal ini penting karena konsumsi dan aktivitas ekonomi pada akhirnya akan sensitif terhadap kemampuan rumah tangga menyerap kenaikan biaya hidup.
Meski demikian, Pardede menegaskan bahwa situasinya belum memasuki kontraksi ekonomi. Ia juga mengaitkan penilaian risiko dengan proyeksi kondisi pasar tenaga kerja, yang menurutnya sekitar 4,3%.
“Namun ekonomi AS belum mengalami kontraksi dan proyeksi penganggurannya sekitar 4,3%, sehingga kita belum melihat stagflasi berat seperti episode historis. Risiko utamanya adalah pertumbuhan terus melambat tetapi inflasi berhenti turun atau kembali naik, terutama akibat energi, tarif, dan gangguan pasokan,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz baru-baru ini.
Inti kekhawatiran Pardede terletak pada kemungkinan skenario “pertumbuhan melambat, inflasi tidak lagi turun”. Dalam skema seperti ini, bank sentral menghadapi pilihan yang makin sulit karena indikator yang seharusnya memberi ruang melonggarkan kebijakan tidak sepenuhnya mendukung. Bila inflasi tetap berada di atas target, pelonggaran kebijakan moneter terlalu cepat dapat menciptakan tekanan harga baru.
Berita Terkait
Sebaliknya, bila pertumbuhan yang melemah tidak diimbangi dengan stabilisasi kondisi ekonomi, dorongan untuk menekan suku bunga tetap menguat. Pardede menggambarkan dilema tersebut sebagai faktor yang juga bisa memberi efek lanjutan ke luar AS, karena kebijakan moneter di negara ekonomi terbesar berpotensi mempengaruhi ekspektasi global, arus modal, dan kondisi pembiayaan lintas wilayah.
Ia menekankan bahwa mekanisme kebijakan pada dasarnya bekerja dengan dua arah. Secara normal, saat pertumbuhan melemah, bank sentral bisa mempertimbangkan penurunan suku bunga untuk menopang aktivitas. Namun, langkah yang terlalu cepat diambil ketika inflasi masih di atas sasaran, menurutnya berisiko membuat inflasi kembali meningkat.
Dalam konteks risiko stagflasi, Pardede menggarisbawahi tiga sumber gangguan yang disebutnya dapat mendorong inflasi: faktor energi, tarif, serta gangguan pasokan. Energi dapat memengaruhi biaya produksi dan distribusi, sementara tarif berpotensi memperbesar biaya impor atau mengubah struktur harga. Di sisi lain, gangguan pasokan dapat membuat penyesuaian harga berjalan lebih lambat, sehingga laju inflasi sulit kembali turun secara stabil.
Dengan inflasi konsumen yang masih 3,4% dan inflasi inti pada 2,5%, Pardede melihat bahwa target 2% belum menjadi acuan yang sepenuhnya “terkunci” dalam data. Karena inflasi inti berada di atas level sasaran, bank sentral dituntut untuk lebih berhati-hati dalam membaca apakah tekanan harga bersifat sementara atau berpotensi bertahan.
Ia juga memandang bahwa dinamika upah riil turut memperjelas kondisi yang dihadapi pekerja. Ketika upah riil per jam turun 0,2% pada Juli, ruang konsumsi rumah tangga bisa menjadi lebih terbatas. Dampak seperti ini, meski tidak selalu langsung terlihat sebagai kontraksi, dapat memperlambat pemulihan dan membuat pertumbuhan kehilangan momentum.
Dengan kerangka tersebut, Pardede menilai bahwa ekonomi AS berada di titik rapuh. Pertumbuhan yang diproyeksikan hanya sekitar 1,5% pada triwulan II 2026 memberikan sinyal pelemahan, sedangkan angka inflasi yang masih di atas target memperpanjang ketidakpastian kebijakan. Kombinasi dua hal tersebut membuat risiko stagflasi menjadi lebih mungkin untuk terbuka, terutama jika inflasi tidak kembali turun dan malah bergerak stagnan atau naik.
Di tengah situasi ini, fokus utama akan berada pada arah inflasi berikutnya serta konsistensi penurunan inflasi inti menuju sasaran. Bila inflasi berhenti turun, bank sentral akan makin sulit menyeimbangkan kebutuhan mendukung pertumbuhan dengan kewajiban menjaga stabilitas harga. Begitu pula bila faktor energi, tarif, dan gangguan pasokan kembali mendorong biaya, maka potensi kembalinya tekanan harga dapat menguat.
Pardede menilai bahwa hingga kondisi pasar tenaga kerja dan indikator ekonomi lain tidak menunjukkan kontraksi, skenario stagflasi berat seperti episode historis belum tampak terjadi. Namun, risiko utama yang ia sebut tetap relevan: pertumbuhan bisa terus melambat, sementara inflasi bisa berhenti turun atau kembali naik. Dari sinilah, menurutnya, ruang kebijakan yang menyempit menjadi penanda bahwa waktu respons kebijakan akan semakin menentukan.












