Bisnis & Ekonomi

Agustus 2026, Inflasi Kalimantan Tembus 4% saat Karhutla Melanda

×

Agustus 2026, Inflasi Kalimantan Tembus 4% saat Karhutla Melanda

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Inflasi Kalimantan Tembus 4% per Agustus 2026, di Tengah Karhutla - Market

jurnalistik.co.id – Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2026, inflasi terjadi di seluruh provinsi di Kalimantan. Kenaikan harga itu muncul di tengah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam rilisnya, BPS mencatat bahwa Kalimantan Tengah menjadi salah satu yang paling tinggi. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kalimantan Tengah mencapai 4,96% pada Agustus 2026.

Angka tersebut disusul Kalimantan Selatan yang juga mencatat inflasi kuat. Inflasi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 4,69% (yoy), lalu Kalimantan Timur sebesar 3,83%, serta Kalimantan Barat sebesar 3,65%.

Jika dilihat dari peringkat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masuk ke dalam lima besar wilayah dengan inflasi tertinggi pada bulan lalu. Sementara itu, Kalimantan Utara mencatat inflasi terendah dibanding provinsi lainnya, yakni 2,17%.

Kenaikan inflasi di wilayah-wilayah tersebut dinilai berkaitan dengan dinamika Karhutla. BPS menekankan bahwa dampak bencana terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) tidak berdiri sendiri, melainkan sangat dipengaruhi oleh seberapa luas kejadian mengganggu berbagai komponen aktivitas ekonomi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan bahwa gangguan yang dimaksud mencakup rantai pasok, fasilitas pasar, hingga jalur logistik. Dengan kata lain, perubahan pada distribusi barang dan kelancaran pasokan menjadi faktor yang menentukan arah pergerakan harga di tingkat konsumen.

Ateng juga menyampaikan bahwa pengamatan harga dilakukan secara berkala di area yang terdampak. Ia mengatakan, “BPS tentunya kita akan memantau pergerakan harga komoditas di wilayah-wilayah terdampak secara berkala untuk mencatat perkembangan real di tingkat konsumenya seperti pada bulan-bulan sebelumnya,” kata Ateng dalam rilis resmi BPS, dikutip Rabu (2/9/2026).

Uraian tersebut sekaligus menggambarkan bahwa BPS akan menilai perkembangan inflasi bukan hanya dari angka bulanan, tetapi juga dari perubahan harga komoditas di wilayah terdampak. Pemantauan dilakukan untuk menangkap kondisi riil yang dialami konsumen dari waktu ke waktu, termasuk dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Dengan beragam level inflasi di tiap provinsi, pola yang terlihat memperlihatkan adanya perbedaan intensitas dampak pada ekonomi lokal. Kalimantan Utara, misalnya, berada pada level yang lebih rendah yakni 2,17%, sedangkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada pada kisaran yang lebih tinggi, masing-masing 4,96% dan 4,69%.

Rentang angka inflasi itu menunjukkan bahwa proses penyesuaian harga dapat berjalan tidak seragam antarwilayah. Selisih laju inflasi, terutama di tengah kondisi Karhutla, mengarah pada kebutuhan untuk memahami seberapa besar gangguan terhadap distribusi dan aktivitas pasar di masing-masing provinsi.

Secara keseluruhan, publikasi BPS untuk Agustus 2026 menegaskan bahwa peristiwa Karhutla berpotensi memengaruhi pergerakan IHK melalui jalur distribusi. Di saat yang sama, BPS menyatakan komitmennya untuk memantau pergerakan harga komoditas secara periodik agar perkembangan di tingkat konsumen dapat tercatat dengan lebih akurat.

Perbedaan besaran inflasi antarprovinsi itu memberi gambaran bahwa tingkat tekanan akibat Karhutla tidak sama. Ketika gangguan yang terjadi pada aktivitas ekonomi berbeda, maka respon harga di setiap daerah juga cenderung bergerak pada kecepatan yang berlainan.

Dalam kerangka yang disampaikan BPS, IHK tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan bencana, tetapi oleh seberapa jauh bencana mengacaukan aliran barang dan layanan. Gangguan pada pasokan, kondisi fasilitas pasar, serta kelancaran jalur distribusi membuat ketersediaan barang di tingkat konsumen ikut berubah, sehingga harga ikut mengalami penyesuaian.

BPS menegaskan bahwa pemantauan dilakukan melalui pengamatan harga komoditas secara periodik di wilayah yang terkena dampak. Dengan pendekatan ini, perkembangan inflasi dapat dibaca lebih utuh, karena tidak berhenti pada angka periode tertentu, melainkan juga mencermati perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.