Bisnis & Ekonomi

IHSG Berbalik Arah dan Tutup Sesi I di Zona Merah

×

IHSG Berbalik Arah dan Tutup Sesi I di Zona Merah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penyebab IHSG Balik Arah dan Tutup Sesi I di Zona Merah - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Sesi I pada Senin (24/8/2026) dengan arah yang berbalik. Setelah sempat menguat pada awal sesi, laju indeks akhirnya melemah dan ditutup di zona merah.

IHSG tercatat turun 0,69% dengan posisi 6.480. Pada rentang perdagangannya, indeks bergerak dari level 6.551 sebelum kemudian menyentuh titik terdalam di 6.474.

Pembalikan arah ini dipicu oleh melemahnya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) selama Sesi I. Tekanan jual membuat penguatan yang terbentuk sejak pembukaan tidak mampu bertahan hingga penutupan sesi.

Sentimen transaksi berjalan dan kehati-hatian pasar

Pelaku pasar juga menyoroti perkembangan neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II–2026. Sentimen tersebut menunjukkan pelebaran defisit menjadi 3,34% dari Produk Domestik Bruto (PDB), setara dengan minus US$12,49 miliar.

Angka itu lebih berat dibanding periode sebelumnya yang berada pada 0,97% PDB atau minus US$3,6 miliar. Kondisi defisit yang membesar turut menambah kewaspadaan investor terhadap arah arus keuangan dan potensi volatilitas di pasar keuangan.

Di tengah fokus tersebut, Bank Indonesia mempertahankan proyeksi defisit transaksi berjalan untuk tahun ini pada kisaran 0%—1,3% dari PDB. Dengan batas proyeksi yang relatif terbentang lebar, pasar cenderung menunggu kepastian lanjutan sebelum memperkuat posisi.

Faktor geopolitik yang masih “panas”

Selain faktor domestik, suasana global juga berpengaruh terhadap sentimen. Pelaku pasar mencermati situasi Timur Tengah yang dinilai masih berlangsung dengan intensitas tinggi.

Dalam konteks tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent disebut akan mengumumkan sanksi untuk Iran. Rencana kebijakan tersebut dipaparkan sebagai yang paling parah dalam sejarah, sehingga berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar.

Gejolak sentimen seperti ini sering kali tercermin pada preferensi investor yang lebih selektif terhadap risiko, terutama ketika data ekonomi domestik ikut memperkuat persepsi kehati-hatian.

Aktivitas perdagangan Sesi I

Aktivitas perdagangan pada Sesi I juga menggambarkan dinamika transaksi yang terjadi sepanjang sesi. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp9,02 triliun dengan volume 24,79 miliar saham yang ditransaksikan.

Frekuensi perdagangan yang terjadi berada di 1,39 juta saham. Komposisi aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pergerakan indeks disertai aktivitas pasar yang cukup padat, namun tetap tidak mampu menopang indeks ketika tekanan pada big caps meningkat.

Dengan penutupan di level 6.480 dan terdalam di 6.474, Sesi I memperlihatkan bahwa pembeli tidak sepenuhnya mengendalikan arah setelah indeks sempat menguat sejak pembukaan pagi tadi. Perubahan sentimen domestik terkait transaksi berjalan dan faktor global menjadi kombinasi yang membuat arah IHSG mudah berbalik.

Menjelang kelanjutan perdagangan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan sentimen defisit transaksi berjalan serta respon pasar terhadap dinamika geopolitik yang disebut akan diumumkan melalui rencana sanksi tersebut. Perhatian ini diharapkan menjadi penentu apakah pelemahan pada Sesi I berlanjut atau justru memunculkan penyerapan tekanan jual pada sesi berikutnya.

Di sepanjang Sesi I, pergerakan IHSG terlihat “rapuh” karena kenaikan yang sempat muncul setelah pembukaan tidak mampu menjaga momentum saat perdagangan bergerak ke fase berikutnya. Selisih antara level 6.551 di awal pergerakan dan titik terdalam di 6.474 memperlihatkan bahwa dorongan beli melemah ketika tekanan jual kembali dominan.

Pelaku pasar menilai pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II–2026 menjadi salah satu pemicu utama kehati-hatian, terutama karena angka yang lebih besar itu berada pada kisaran 3,34% dari PDB atau setara minus US$12,49 miliar. Di saat yang sama, proyeksi Bank Indonesia yang dipertahankan pada 0%—1,3% untuk tahun ini membuat pasar cenderung menunggu sinyal lanjutan sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Dalam kondisi seperti ini, kombinasi perhatian pada arus keuangan domestik dan rencana kebijakan sanksi yang dikaitkan dengan Iran turut membentuk cara investor mengatur risiko. Nilai transaksi Rp9,02 triliun dan volume 24,79 miliar saham menunjukkan aktivitas yang tinggi, namun hasil akhirnya tetap mencerminkan bahwa selektivitas terhadap risiko lebih kuat dibanding upaya penopang indeks.