Bisnis & Ekonomi

Inflasi Asia Beragam, Lonjakan Harga Minyak Dinilai Bank Sentral Kawasan

×

Inflasi Asia Beragam, Lonjakan Harga Minyak Dinilai Bank Sentral Kawasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Inflasi Asia Beragam, Harga Minyak Uji Bank Sentral Kawasan - Market
Laju inflasi di sejumlah negara Asia bergerak tidak seragam. Lonjakan harga minyak mentah, yang telah naik lebih dari 50% sepanjang tahun ini, menjadi salah satu faktor yang menguji kebijakan bank sentral di kawasan. Kenaikan harga minyak akibat perang Timur Tengah memberi dampak yang berbeda pada perubahan harga di tiap negara. Ketika biaya energi ikut bergerak, tekanan inflasi tidak selalu muncul dengan kekuatan yang sama di seluruh ekonomi. Jika dipetakan, kondisi inflasi Asia setidaknya terbagi ke dalam tiga kelompok. Pembagian ini memperlihatkan bagaimana sejumlah negara masih mampu menahan inflasi agar tetap berada dalam kisaran target bank sentral, sementara negara lain justru menghadapi tekanan lebih tinggi.

jurnalistik.co.id – Kelompok inflasi: terkendali hingga tertekan

Kelompok pertama adalah negara dengan inflasi relatif terkendali atau berada dalam kisaran target bank sentral. Dalam kelompok ini tercatat Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam. Kelompok kedua mencakup negara yang inflasinya berada sedikit di atas target bank sentral. Korea Selatan dan Taiwan termasuk dalam kategori ini. Sementara itu, kelompok ketiga menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Pakistan dan Filipina masuk ke kelompok ini, dengan angka inflasi yang jauh berbeda dibanding negara-negara lain di kawasan. Mengacu data Bloomberg, Pakistan mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,2%. Filipina menyusul dengan inflasi 6,2%, menandakan tekanan harga yang lebih berat di tengah respons moneter yang harus tetap mempertimbangkan dinamika harga energi. Di sisi lain, gambaran tidak sepenuhnya serupa terjadi pada negara dengan inflasi yang lebih rendah. China hanya mencatat inflasi 0,5%, jauh di bawah target bank sentral yang berada di kisaran 2%. Perbedaan pencatatan inflasi tersebut memberi sinyal bahwa transmisi kenaikan harga minyak ke harga-harga konsumen tidak berjalan dengan pola tunggal. Variabel kondisi ekonomi tiap negara turut memengaruhi bagaimana laju inflasi bereaksi terhadap pergerakan biaya energi.

Harga minyak menekan permintaan BBM

Kenaikan harga minyak juga mulai terlihat menekan permintaan bahan bakar. Pernyataan ini disampaikan melalui Sinopec, perusahaan penyulingan minyak terbesar di China. Dalam penjelasan Sinopec, konsumsi bensin di China tercatat turun hampir 8%. Pada periode yang sama, penggunaan solar juga turun 12% pada paruh pertama tahun ini. Sinopec mengaitkan penurunan tersebut dengan harga yang tinggi. Selain itu, faktor lain yang ikut disebut adalah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, yang membuat permintaan bahan bakar konvensional ikut melemah. Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa dampak harga minyak tidak hanya berhenti pada inflasi. Pergerakan harga energi dapat memengaruhi kebiasaan konsumsi bahan bakar, yang pada akhirnya berpotensi mempengaruhi rantai biaya di perekonomian. Dengan demikian, lonjakan harga minyak menjadi “uji” bagi bank sentral kawasan, tetapi hasilnya berbeda-beda. Sejumlah negara masih mampu menjaga inflasi dekat target, sementara negara lain harus menghadapi inflasi yang lebih tinggi dari kisaran sasaran. Khususnya, angka Pakistan sebesar 9,2% dan Filipina 6,2% memperlihatkan kuatnya tekanan yang sedang berlangsung. Sebaliknya, inflasi China 0,5% yang berada jauh di bawah target 2% menunjukkan ruang yang lebih besar untuk tetap menjaga stabilitas harga. Melihat pembagian tiga kelompok ini, bank sentral di Asia tampaknya menghadapi tantangan yang berbeda dari sisi inflasi. Meski pemicu utamanya sama—kenaikan harga minyak mentah—jalur dampaknya tidak selalu menghasilkan respons inflasi yang identik di tiap negara.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa kejutan dari kenaikan minyak tidak otomatis berujung pada kenaikan harga konsumen yang sama besar. Ketika inflasi masih bertahan di kisaran sasaran—seperti yang terlihat pada Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam—bank sentral memperoleh sinyal bahwa tekanan biaya dapat dikelola dengan kebijakan yang tepat. Sebaliknya, pada negara yang inflasinya berada lebih tinggi dari target, contoh Pakistan dan Filipina, respons kebijakan harus lebih berhati-hati karena ruang untuk meredam dorongan harga dari energi menjadi lebih sempit.

Di sisi permintaan energi, penurunan konsumsi yang disebut Sinopec juga memberi petunjuk bahwa penyesuaian perilaku terjadi bersamaan dengan pergerakan harga. Konsumsi bensin yang turun hampir 8% serta penggunaan solar yang melemah hingga 12% pada paruh pertama tahun ini menunjukkan adanya pengetatan pembelian ketika biaya bahan bakar tinggi. Perubahan ini turut didukung oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, sehingga permintaan untuk BBM konvensional ikut melemah dan ikut membentuk jalur transmisi dari harga minyak menuju inflasi.