jurnalistik.co.id – Kelompok inflasi: terkendali hingga tertekan
Kelompok pertama adalah negara dengan inflasi relatif terkendali atau berada dalam kisaran target bank sentral. Dalam kelompok ini tercatat Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam. Kelompok kedua mencakup negara yang inflasinya berada sedikit di atas target bank sentral. Korea Selatan dan Taiwan termasuk dalam kategori ini. Sementara itu, kelompok ketiga menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Pakistan dan Filipina masuk ke kelompok ini, dengan angka inflasi yang jauh berbeda dibanding negara-negara lain di kawasan. Mengacu data Bloomberg, Pakistan mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,2%. Filipina menyusul dengan inflasi 6,2%, menandakan tekanan harga yang lebih berat di tengah respons moneter yang harus tetap mempertimbangkan dinamika harga energi. Di sisi lain, gambaran tidak sepenuhnya serupa terjadi pada negara dengan inflasi yang lebih rendah. China hanya mencatat inflasi 0,5%, jauh di bawah target bank sentral yang berada di kisaran 2%. Perbedaan pencatatan inflasi tersebut memberi sinyal bahwa transmisi kenaikan harga minyak ke harga-harga konsumen tidak berjalan dengan pola tunggal. Variabel kondisi ekonomi tiap negara turut memengaruhi bagaimana laju inflasi bereaksi terhadap pergerakan biaya energi.Harga minyak menekan permintaan BBM
Berita Terkait
Kondisi tersebut menegaskan bahwa kejutan dari kenaikan minyak tidak otomatis berujung pada kenaikan harga konsumen yang sama besar. Ketika inflasi masih bertahan di kisaran sasaran—seperti yang terlihat pada Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam—bank sentral memperoleh sinyal bahwa tekanan biaya dapat dikelola dengan kebijakan yang tepat. Sebaliknya, pada negara yang inflasinya berada lebih tinggi dari target, contoh Pakistan dan Filipina, respons kebijakan harus lebih berhati-hati karena ruang untuk meredam dorongan harga dari energi menjadi lebih sempit.
Di sisi permintaan energi, penurunan konsumsi yang disebut Sinopec juga memberi petunjuk bahwa penyesuaian perilaku terjadi bersamaan dengan pergerakan harga. Konsumsi bensin yang turun hampir 8% serta penggunaan solar yang melemah hingga 12% pada paruh pertama tahun ini menunjukkan adanya pengetatan pembelian ketika biaya bahan bakar tinggi. Perubahan ini turut didukung oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, sehingga permintaan untuk BBM konvensional ikut melemah dan ikut membentuk jalur transmisi dari harga minyak menuju inflasi.












