jurnalistik.co.id – Perdagangan Senin (10/8/2026) diproyeksikan melanjutkan kecenderungan penguatan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah pada Jumat (7/8/2026) ditutup naik 1,04 persen ke level 6.409,654, perhatian pelaku pasar berikutnya kini tertuju pada arah pergerakan di awal pekan.
Dalam analisis teknikal, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai ruang kenaikan masih ada, namun pergerakannya diperkirakan tidak akan terlalu lebar. Proyeksi tersebut mengacu pada batas-batas level support dan resistance yang menjadi penanda pergerakan jangka pendek.
Proyeksi pergerakan dan level teknikal
Untuk Senin, Herditya memperkirakan IHSG bergerak dengan kecenderungan menguat terbatas. Ia menyebutkan sejumlah level penting yang akan menjadi rujukan investor dalam membaca arah pasar.
“Untuk Senin, posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.385 dan resist 6.420,” ujar Herditya saat dihubungi pada Minggu malam (9/8/2026).
Dengan kerangka tersebut, pasar diposisikan berada pada rentang yang relatif terukur. Jika indeks berada di sekitar area bawah yang menjadi support, pelaku pasar cenderung menilai ada peluang pantulan. Sebaliknya, ketika mendekati resistance, pergerakan berpotensi melambat karena ada dorongan untuk menguji batas atas pergerakan.
Selain Herditya, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, juga memandang IHSG akan bergerak dalam koridor yang masih ditentukan oleh level-level teknikal. Audi memperkirakan indeks berada pada support 6.320 dan resistance 6.480 untuk perdagangan Senin (10/8/2026).
Sentimen yang dipantau sejak awal pekan
Menurut Herditya, dinamika di awal pekan biasanya dipengaruhi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri sekaligus kondisi domestik. Pada periode ini, investor menaruh fokus pada perkembangan data ekonomi yang dapat memberikan gambaran atas arah permintaan serta kondisi aktivitas.
Salah satu perhatian utama adalah data inflasi China yang diperkirakan melandai. Herditya menyatakan bahwa data tersebut menjadi rujukan karena relevan dalam membaca kondisi ekonomi dan permintaan di salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Pada saat yang sama, pergerakan harga komoditas juga diperkirakan tetap menjadi katalis. Herditya menyoroti kenaikan harga komoditas emas dan minyak dunia sebagai faktor yang dipantau pelaku pasar. Ia menilai, kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi memengaruhi saham-saham emiten yang terkait.
Investor juga dipersiapkan untuk menelaah informasi fundamental dari sisi emiten. Herditya menyebutkan pasar akan mencermati laporan keuangan emiten untuk kuartal II-2026 serta pembagian dividen interim. Kombinasi antara pembacaan sentimen eksternal dan pemrosesan perkembangan kinerja perusahaan dinilai dapat membentuk respons pasar pada hari-hari perdagangan awal pekan.
Berita Terkait
“Kami perkirakan (IHSG) akan dipengaruhi oleh, pertama investor akan mencermati rilis data inflasi China yang diperkirakan akan relatif melandai, kedua penguatan harga komoditas emas dan diperkirakan akan diikuti oleh minyak dunia terkait dengan kondisi geopolitik Timur Tengah, ketiga rilis kinerja emiten kuartal II-2026 dan juga dividen interim,” paparnya.
Kinerja emiten dan sinyal pembagian dividen interim
Di luar sentimen global, Herditya menekankan pentingnya informasi dari sisi emiten. Pengamatan terhadap kinerja kuartal II-2026 menjadi bagian dari proses evaluasi pasar untuk menentukan prospek jangka pendek perusahaan-perusahaan yang diperdagangkan.
Selain kinerja, pembagian dividen interim disebut turut menjadi fokus. Informasi dividen sering kali menjadi pertimbangan karena dapat memengaruhi sentimen investor, terutama bagi segmen yang memperhatikan daya tarik arus kas dan imbal hasil.
Rekomendasi saham untuk perdagangan Senin
Di tengah proyeksi IHSG yang bergerak terbatas, Herditya juga menyampaikan tiga rekomendasi saham untuk perdagangan Senin. Rekomendasi tersebut disertai rentang target harga yang menunjukkan ekspektasi pergerakan dalam jangka pendek.
Untuk PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), Herditya menetapkan target harga di rentang Rp 494 hingga Rp 520 per saham. Sementara itu, untuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI), ia menargetkan pergerakan pada kisaran Rp 194 hingga Rp 210 per saham.
Adapun PT Multipolar Tbk (MLPL) diperkirakan berada pada rentang Rp 108 hingga Rp 113 per saham. Rekomendasi ini memperlihatkan bahwa, meskipun indeks diproyeksi menguat secara terbatas, seleksi saham tetap menjadi bagian dari strategi investor dalam menghadapi volatilitas harian.
Ruang gerak pasar dan posisi investor
Dengan adanya batas support dan resistance yang menjadi panduan, pasar pada Senin (10/8/2026) diposisikan berada dalam pengamatan ketat terhadap pergerakan harga. Rentang proyeksi dari Herditya berada di antara support 6.385 dan resistance 6.420, sedangkan Audi juga melihat ruang yang lain melalui support 6.320 serta resistance 6.480.
Perbedaan rentang yang diajukan kedua analis menegaskan bahwa pasar tetap memberi ruang bagi fluktuasi. Namun, benang merahnya sama: penguatan masih mungkin terjadi, dengan catatan pasar akan lebih dulu memproses rangkaian sentimen yang mencakup inflasi China, pergerakan harga komoditas emas dan minyak, serta perkembangan kinerja emiten kuartal II-2026 yang berhubungan dengan dividen interim.
Dengan demikian, investor pada awal pekan berpotensi mengambil keputusan secara bertahap, mengikuti sinyal dari faktor eksternal dan domestik secara bersamaan. Ketika sentimen yang menjadi fokus pasar bergerak, respons IHSG diyakini akan terlihat dari reaksi terhadap level-level teknikal yang disebut dalam proyeksi para analis.












