Internasional

Trump-Xi Belum Bertemu, AS Lebih Dulu Mengirim “Badai” ke Indonesia

×

Trump-Xi Belum Bertemu, AS Lebih Dulu Mengirim “Badai” ke Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trump - Xi Jinping Belum Bertemu, Amerika Sudah Kirim "Badai" ke RI

jurnalistik.co.id – Pasar keuangan Indonesia ditutup menguat pada Rabu (23/9/2026), dengan pergerakan IHSG dan rupiah sama-sama berada di area positif. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi juga ikut melemah sehingga sentimen terlihat lebih kondusif.

Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), pelaku pasar diproyeksikan akan mencoba melanjutkan momentum penguatan tersebut. Namun, arah pergerakan dinilai tetap akan ditentukan oleh sejumlah katalis, terutama keputusan kebijakan Bank Indonesia, rilis data uang beredar, serta dinamika global setelah pergerakan di Wall Street.

IHSG mencatat kenaikan 97,87 poin atau 1,56% menuju level 6.374,91. Angka itu sekaligus menjadi titik balik setelah sehari sebelumnya indeks sempat turun 1,69% ke 6.277,04.

Total volume perdagangan di seluruh pasar mencapai 36,8 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,9 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1,91 juta kali, sementara pada pasar reguler volume mencapai 292,88 juta lot dengan nilai Rp11,77 triliun dan frekuensi juga berada di kisaran 1,91 juta kali.

Meskipun indeks menguat, investor asing masih melakukan aksi jual dengan nilai Rp461,35 miliar di seluruh pasar. Penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan beberapa sektor, dengan sektor barang konsumen primer melesat 4,6%.

Sektor energi naik 3,4%, sedangkan sektor barang baku menguat 3,1%. Dari sisi saham, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat menjadi salah satu penggerak utama, disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Dari mata uang, rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,31% atau 55 poin ke posisi Rp17.795 per US$, dari penutupan sebelumnya Rp17.850 per US$.

Penguatan rupiah terlihat sejak awal sesi. Mata uang Garuda dibuka pada Rp17.835 per US$ dan sempat menyentuh level terkuat hariannya di Rp17.775 per US$.

Rupiah tetap bergerak menguat saat dolar AS menunjukkan penguatan di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik 0,15% ke 100,755.

Sementara itu, pergerakan rupiah dan pasar obligasi berlangsung beriringan dengan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75%.

Dalam keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility berada di angka 6,50%. Pada instrumen pendapatan tetap, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 11,2 basis poin dari 7,120% menjadi 7,008%.

Penurunan yield tersebut mengindikasikan harga SBN bergerak berlawanan arah, sehingga mencerminkan adanya minat yang lebih baik terhadap obligasi di akhir perdagangan.

Di pasar saham Amerika Serikat, Wall Street justru mengalami penurunan yang cukup signifikan pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Kekhawatiran muncul karena investor menilai Federal Reserve masih mungkin menaikkan suku bunga.

Indeks S&P 500 terkoreksi 0,75% ke level 7.706,03. Nasdaq Composite turun 1,13% menjadi 26.936,04, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 352,10 poin atau 0,68% ke 51.511,59.

Tekanan paling terasa datang dari sektor utilitas dan consumer discretionary, yang masing-masing merosot lebih dari 1%. Sentimen melemah juga dipengaruhi lonjakan yield Treasury setelah rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang menunjukkan aktivitas ekonomi lebih kuat dari perkiraan.

Yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,135%, menjadi level tertinggi sejak Juli 2007. Pergerakan harian tersebut juga tercatat sebagai yang terbesar sejak 7 April 2025, sementara yield Treasury 2 tahun naik ke 4,947% atau level tertinggi sejak Mei 2024.

Massimo Santicchia, Head of U.S. Equities di Proycon, menilai kondisi saat ini memperlihatkan adanya dorongan dari laba perusahaan, tetapi juga terdapat tekanan inflasi yang sedang saling tarik-menarik. Ia menambahkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya bersumber dari harga minyak dan menyebut kemungkinan munculnya dua hingga tiga kali kenaikan suku bunga.

Gubernur The Fed Michael Barr juga menyampaikan bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Barr menyebut pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pasar tenaga kerja yang solid, tetapi inflasi masih berada di atas target 2% serta belum menunjukkan tren yang jelas menuju target tersebut dalam waktu yang tepat.

Dalam penjelasannya, Barr menegaskan risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja telah berkurang. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Oktober mencapai lebih dari 66%.

Angka peluang itu naik dari 55,4% pada hari sebelumnya dan hanya 8,8% sebulan lalu. Kondisi imbal hasil yang tinggi serta dolar yang menguat berpotensi menambah tekanan ke pasar negara berkembang, termasuk melalui potensi perubahan arus modal.

Di tengah gejolak aset keuangan, harga minyak mentah juga ikut menguat. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November naik sekitar 3,9% ke US$103,08 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,8% ke US$92,16 per barel.

Pergerakan minyak terjadi dengan latar hubungan AS dan Iran yang terus menjadi perhatian. Dalam agenda Sidang Umum PBB di New York pada Selasa, Presiden Donald Trump menyatakan pejabat AS dan Iran telah bertemu selama tiga jam, serta menyebut pertemuan tersebut sebagai pertemuan yang sangat baik.

Sebelumnya, Trump menyampaikan dalam pidatonya di hadapan PBB bahwa ia menghadapi keputusan besar mengenai apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau melenyapkan negara tersebut. Dari sisi Iran, seorang pejabat senior menyatakan diplomasi tetap berjalan, meski pandangan kedua pihak masih berbeda.

Pejabat Iran tersebut menyampaikan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan AS. Ia juga menyinggung bahwa Iran sedang meninjau respons Washington terhadap proposal perdamaian, yang mencakup penghentian blokade laut AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan dengan Iran membutuhkan kerja keras, sambil menegaskan bahwa Trump tetap memiliki opsi militer. Di sisi lain, Pezeshkian menegaskan Iran menolak menyerah pada tekanan AS dan tidak menerima kehadiran armada asing di Selat Hormuz, dengan alasan Iran ingin mengendalikan selat tersebut dan memungut biaya dari kapal yang melintas.

Perundingan tidak langsung AS-Iran pada Selasa menjadi kontak diplomatik yang pertama diketahui sejak gencatan senjata runtuh pada Juli. Iran menyampaikan sejumlah syarat, termasuk penghentian perang, penghentian tindakan AS, dan pencairan aset Iran, tetapi langkah diplomasi itu mendapat penolakan dari kelompok garis keras di Iran.

Menjelang perdagangan berikutnya, pasar domestik akan terus mencermati respons setelah Bank Indonesia mempertahankan BI Rate. Selain itu, perhatian turut diarahkan pada aturan baru perdagangan saham serta rilis data uang beredar.

Di luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat juga menjadi sorotan. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta penguatan indeks dolar berpotensi menjadi “badai” baru bagi IHSG dan rupiah, terutama bila pasar menilai kondisi moneter global semakin ketat.

Berikutnya, pasar juga akan menunggu bagaimana keputusan BI dan data ekonomi berikutnya berpengaruh pada ekspektasi suku bunga domestik. Dalam RDG BI pada 22-23 September 2026, Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan keputusan mempertahankan BI Rate 5,75% sesuai polling terhadap 11 institusi dan lembaga.

Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap di 5,75%, sedangkan tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%. Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.