jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada awal perdagangan, dan hingga pukul 09:15 WIB berada di zona hijau. Pada Kamis (5/11/2026), kenaikan yang tercatat mendekati tiga persen.
Per pukul 09:15 WIB, IHSG mencatat tambahan 139,23 poin atau naik 2,8% menjadi level 5.059. Pergerakan ini muncul setelah sesi berjalan sekitar lima belas menit.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume yang sudah berpindah tangan mencapai 5,13 miliar saham. Nilai transaksi tercatat Rp2,05 triliun, dengan frekuensi sebanyak 247.282 kali.
Komposisi pergerakan saham menunjukkan mayoritas menguat. Sebanyak 511 saham bergerak naik, sementara 88 saham mengalami penurunan, dan 86 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Perkiraan teknikal IHSG
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pergerakan IHSG mulai menunjukkan pantulan setelah menyentuh area penopang tertentu. Dalam catatannya, BRIDS menyebut IHSG mulai memperlihatkan pemulihan teknikal.
“Secara teknikal, IHSG mulai menunjukkan technical rebound setelah menyentuh area support Fibonacci 4.830–4.761,” tulis catatan BRIDS. Pernyataan tersebut mengaitkan penguatan awal dengan reaksi pasar pada rentang level support.
Rentang 4.830–4.761 yang disebut sebagai area support menjadi acuan penting dalam membaca arah jangka pendek. Dengan adanya technical rebound, pergerakan indeks di pagi hari mengindikasikan minat beli muncul setelah tekanan sebelumnya.
Berita Terkait
Sentimen pemilu sela dan ekonomi domestik
BRIDS juga menyoroti faktor dari luar negeri yang dinilai berpengaruh pada arah kebijakan pemerintahan. Menurut penilaian perusahaan efek tersebut, hasil Pemilu Sela Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian investor dalam memetakan langkah lanjutan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dari domestik, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan bahwa stabilitas sistem keuangan dinilai tetap terjaga. KSSK juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4–5,5%.
Kombinasi antara perhatian pasar pada perkembangan politik di AS dan proyeksi pertumbuhan domestik itu menjadi salah satu kerangka sentimen yang ikut membentuk respons pelaku pasar. Pada perdagangan yang sudah berjalan ini, respons tersebut terlihat melalui penguatan indeks dan meningkatnya nilai transaksi.
Dengan kondisi IHSG yang berada di level 5.059 pada pukul 09:15 WIB, pasar tampak memilih arah menguat sejak menit-menit awal. Indikasi tersebut tercermin dari mayoritas saham yang menguat, sementara frekuensi transaksi yang tinggi menunjukkan aktivitas perdagangan tetap aktif.
Mayoritas saham yang bergerak naik menjadi sinyal bahwa penguatan tidak hanya bertumpu pada segelintir emiten. Dengan 511 saham menguat dibanding 88 saham terkoreksi serta 86 saham stagnan, arah transaksi pagi itu cenderung menunjukkan keberimbangan antara kenaikan harga dan keaktifan perdagangan.
Dari sisi teknikal, sinyal pantulan yang disebut BRIDS merujuk pada reaksi setelah IHSG menyentuh area support Fibonacci pada rentang 4.830–4.761. Penekanan pada area tersebut memberi gambaran bahwa pelaku pasar memandang level penopang sebagai rujukan untuk menyusun posisi jangka pendek, sehingga pergerakan indeks awal sesi ikut terbaca lebih positif.
Selain faktor domestik, investor juga mencermati dinamika politik luar negeri yang berkaitan dengan Pemilu Sela Amerika Serikat. Hasil pemilu tersebut menjadi perhatian dalam merumuskan langkah lanjutan pemerintahan Presiden Donald Trump, dan pada akhirnya dapat memengaruhi cara pasar menilai arah kebijakan serta preferensi terhadap risiko.
Di saat yang sama, KSSK menyampaikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, sekaligus memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4–5,5%. Dengan IHSG pada level 5.059 pukul 09:15 WIB serta nilai transaksi yang tercatat Rp2,05 triliun dan frekuensi mencapai 247.282 kali, respons pasar terlihat melalui kombinasi penguatan indeks dan aktivitas yang tetap tinggi sepanjang menit-menit awal perdagangan.












