jurnalistik.co.id – Indonesia dinilai punya peluang kuat untuk menjadi produsen energi panas bumi (geothermal) nomor satu di dunia, dengan target jangka panjang yang ditopang cadangan panas bumi, peta jalan kelistrikan, serta strategi ekspansi pelaku industri.
Pada kesempatan Media Briefing PGE di Jakarta, Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebutkan bahwa capaian produksi panas bumi Indonesia saat ini masih berada di peringkat kedua dunia, setelah Amerika Serikat (AS).
“Pencapaian kita di tahun 2025 kita nomor 2 di dunia dari sisi produksinya. Nah ini kita ke depan dengan dukungan pemerintah kita ingin menuju nomor 1 di dunia. Saat ini Indonesia kita nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat. Jadi untuk menuju sana apakah bisa? Ya bisa, potensinya sudah ada, tidak ada isu terkait dengan resource potential sudah banyak,” ujarnya dalam acara tersebut, dikutip Jumat (6/11/2026).
Menurut penjelasan yang disampaikan, optimisme itu tidak berdiri sendiri. Peluang pertumbuhan industri panas bumi turut didorong oleh perencanaan energi serta langkah pengembangan kapasitas yang terstruktur, sehingga target dapat dikejar melalui tahapan peningkatan pembangkit.
Pemerintah, sejalan dengan arah pengembangan sektor energi, menargetkan Indonesia menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia pada 2030. Perusahaan juga menyiapkan tahapan pengembangan kapasitas terpasang dari 727 Mega Watt (MW) saat ini menjadi 1 Giga Watt (GW) pada 2028, lalu 1,8 GW pada 2034, hingga mencapai target puncak sebesar 3 GW.
“PGE punya target tahun 2028 kita menjadi 1 GW dari 727 MW saat ini, kemudian di tahun 2034 kita akan menjadi 1,8 GW. Nah itu target kita, dan pemerintah sendiri memiliki target tahun 2030 menjadi nomor 1 di dunia,” katanya.
Rencana peningkatan kapasitas tersebut juga dikaitkan dengan alokasi panas bumi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dalam dokumen perencanaan tersebut, disebutkan porsi energi panas bumi mencapai 5,2 GW, di mana PGE dinilai berpotensi menggarap hingga 3,2 GW.
Berita Terkait
Dengan porsi yang tersedia, perusahaan menilai bahwa upaya percepatan bukan hanya terkait teknis pembangunan pembangkit, tetapi juga bergantung pada kondisi iklim investasi yang mendukung kelanjutan proyek dari tahap perencanaan hingga operasi.
Perbaikan iklim investasi lewat revisi tarif dan feed-in tariff
Agar target yang telah dipatok dapat berjalan lebih cepat, PGE bersama pemerintah terus berdiskusi untuk menyempurnakan iklim investasi. Salah satu pembahasan yang disebutkan adalah revisi tarif dalam Peraturan Presiden No 112 tahun 2022 serta penguatan skema feed-in tariff.
“Dengan adanya revisi tarif dan skema feed-in tariff jadi ada kepastian investasi, sehingga saya yakin dengan adanya terobosan ini nantinya akan terjadi percepatan dari milestone rencana growth -nya PGE dan geothermal Indonesia,” tandasnya.
Harapan terhadap percepatan itu berangkat dari kebutuhan akan kepastian investasi. Ketika skema tarif dan mekanisme dukungan berada dalam kondisi yang lebih jelas, perusahaan dapat menyiapkan langkah pengembangan yang sejalan dengan target kapasitas yang dirancang untuk beberapa fase waktu.
Dalam konteks pengembangan pembangkit, sumber pemberitaan juga menampilkan contoh proyek panas bumi, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 di Muara Enim, Sumatera Selatan, milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang mulai dibangun dan ditargetkan rampung pada Desember 2024.
Dengan rangkaian rencana kapasitas, alokasi energi panas bumi dalam RUPTL, serta rencana pembenahan kebijakan tarif, arah yang dituju adalah pertumbuhan yang terukur menuju posisi terdepan. Pada akhirnya, target menjadi produsen nomor satu di dunia pada 2030 ditempatkan sebagai hasil dari kombinasi sumber daya, perencanaan energi, dan dukungan kebijakan investasi.












