Bisnis & Ekonomi

Kanselir Inggris: “Kerja, bukan tunjangan” untuk kaum muda, kata John Healey

×

Kanselir Inggris: “Kerja, bukan tunjangan” untuk kaum muda, kata John Healey

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Best thing we can offer young people is a job, not benefits, says chancellor

jurnalistik.co.id – Kanselir Inggris John Healey menegaskan pemerintah tidak boleh membiarkan tagihan tunjangan membesar tanpa disertai jalan menuju pekerjaan bagi kaum muda. Ia menyampaikan hal itu dalam pidato Konferensi Tahunan Partai Buruh di Liverpool, menjelang Anggaran bulan depan.

Healey memperingatkan agar belanja kesejahteraan tidak terus membengkak sementara peluang kerja dan pelatihan tidak diperluas. Menurutnya, pemotongan belanja kesejahteraan adalah langkah yang harus diambil dengan alasan lebih luas dari hitungan ekonomi.

Ia mengatakan, “cutting welfare spending was ‘more than an economic must – it’s a moral duty’”. Dalam pidatonya, Healey menekankan bahwa fokus utama mestinya pada kerja pertama, bukan pembayaran tunjangan.

“The best thing we can offer a young person is not a benefit payment – it’s a first job with training and a wage,” ujarnya. Ia kemudian mengumumkan perluasan Local Apprenticeships Service yang ditujukan bagi para wali kota di Inggris.

Healey menyebut program itu akan menghadirkan “thousands more apprenticeships” bagi kaum muda. Ekspansi tersebut, menurutnya, dilakukan dengan memberikan peran kepada wali kota untuk mencocokkan kebutuhan perekrutan dan ketersediaan tempat pelatihan.

Pidato Healey juga disampaikan di tengah tekanan agar pemerintah menekan pengeluaran publik atau menaikkan pajak sebelum Anggaran berikutnya. Ia menyatakan langkah kebijakan dibutuhkan untuk menurunkan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus menjaga kepercayaan pasar.

Untuk meyakinkan pasar, Healey mengatakan semua janji pemerintah “built on the rock of fiscal discipline”. Ia menyebut dirinya dan Perdana Menteri Andy Burnham “united on meeting the fiscal rules”, yakni aturan fiskal yang menjadi batasan mandiri pemerintah dalam keputusan belanja dan pajak.

Ia menambahkan Anggaran tersebut akan “give families and businesses a bit of breathing space”. Healey juga mengakui situasi keuangan tidak sama seperti masa “the money New Labour had in the ‘90s”.

Dalam bagian lain pidatonya, Healey mengaitkan kondisi belanja Inggris dengan pilihan pemerintahan Konservatif sebelumnya. Ia menyebut Inggris menghabiskan lebih banyak untuk utang dibandingkan gabungan belanja Home Office, Ministry of Defence, dan Ministry of Justice.

Andrew Griffith, kanselir bayangan dari kubu Tory, merespons pidato tersebut dengan menyatakan, “Labour MPs will never support cutting the out-of-control welfare bill” dan “with Labour, it’s always more taxes if you work and more benefits if you don’t”.

Healey juga menilai kaum muda memiliki kesiapan menghadapi tantangan zaman. Ia menggambarkan mereka sebagai “digital natives, whip-smart, questioning, ambitious, brave” dan berpeluang berpindah dari “generation jeopardy to generation hope”.

Namun, ia menunjuk “a million young people” yang tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan yang dikenal sebagai NEET. Healey mengatakan kondisi itu membuat tunjangan perlu berfungsi sebagai jembatan menuju kerja, bukan “trap”.

Ia menegaskan, “It is not progressive to allow a bigger and bigger benefits bill, and a system which offers an income but doesn’t offer a future”. Menurutnya, sistem yang hanya memberi pendapatan tanpa menyiapkan masa depan tidak sejalan dengan arah kemajuan.

Perluasan Local Apprenticeships Service dan peran wali kota

Healey menjelaskan Local Apprenticeships Service semula dirancang sebagai uji coba di wilayah terbatas, tetapi kini tersedia untuk setiap wali kota di Inggris yang menginginkannya. Melalui skema itu, pemerintah menargetkan penyaluran hingga seluruh Inggris dengan jadwal mulai Maret 2027, sebagaimana dikatakan Treasury.

Ia menyebut tim lokal akan mencocokkan kaum muda dengan pemberi kerja, termasuk usaha kecil yang “have never taken on a trainee”. Tambahan pendanaan juga disebut: “an extra £100m” masuk ke skema tersebut dan dinyatakan “fully funded” oleh penghematan dari Department for Work and Pensions.

Healey menegaskan kewenangan implementasi berada di tangan wali kota karena mereka mengetahui perusahaan mana yang sedang merekrut, perguruan atau kolese mana yang memberikan pelatihan, serta area mana yang tertinggal. Dengan begitu, kebijakan diharapkan lebih tepat sasaran dan sesuai kondisi daerah.

Ia menambahkan bahwa langkah ini muncul sebagai bagian akhir dari laporan besar mantan menteri Alan Milburn. Laporan tersebut diharapkan merangkum rekomendasi untuk menangani satu dari delapan orang berusia 16 hingga 24 tahun di Inggris yang masih termasuk kelompok NEET dalam beberapa minggu mendatang.

Healey mengatakan kelompok muda tersebut sebelumnya “signed off, written off” dan pemerintah Buruh akan menindaklanjuti masalah itu. Ia menempatkan serangkaian kebijakan sebagai respons atas penilaian yang, menurutnya, telah mengabaikan peluang masa depan kaum muda.

Aturan fiskal, utang, dan kritik Institute for Fiscal Studies

Di tengah argumennya, direktur Institute for fiscal studies think tank, Helen Miller, menyampaikan pandangan yang juga menjadi penekanan balik. Ia mengatakan menempel pada aturan fiskal saja tidak cukup untuk menurunkan utang karena “it’s basically a promise to get down debt tomorrow”.

Miller menyarankan pengurangan tagihan tunjangan, termasuk dengan menghapus dukungan bagi sebagian orang, sebagai salah satu cara mempercepat penurunan utang nasional. Menurutnya, langkah itu lebih cepat berdampak pada target fiskal yang ingin dicapai.

Sementara itu, Healey juga mengulang komitmen untuk mendorong proses reindustrialisasi negara. Ia menyebut Rolls Royce akan menginvestasikan “£300m” tambahan untuk pabriknya di Derby, Bristol, Glasgow, dan Rotherham.

Ia mengatakan pemerintah juga akan menghidupkan kembali Union Learning Fund di Inggris yang dibentuk pada 1998 dan dihapus oleh kubu Tory. Dana itu ditujukan membantu pekerja memperoleh lebih banyak keterampilan di era “artificial intelligence”, meski Healey menyatakan pendanaan skema tersebut pada awalnya belum jelas.