Bisnis & Ekonomi

KCI Bidik Kedatangan KRL Bekas Jepang Bertahap Mulai Akhir 2026

×

KCI Bidik Kedatangan KRL Bekas Jepang Bertahap Mulai Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: KCI Targetkan KRL Impor Bekas Jepang Mulai Masuk Akhir 2026

jurnalistik.co.id – KAI Commuter sedang mematangkan rencana pengadaan Kereta Rel Listrik (KRL) impor bekas dari Jepang. Perusahaan menargetkan proses kedatangan armadanya berjalan bertahap, dengan realisasi mulai akhir 2026.

Langkah itu tidak berdiri sendiri, melainkan menyertakan tahap persiapan yang juga melibatkan koordinasi lintas kementerian. Koordinasi tersebut diperlukan sebelum KRL bekas dapat didatangkan sebagai bagian dari impor barang modal tidak baru atau BMTB.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyampaikan bahwa target tersebut ditata dengan ritme bertahap. “Target secara bertahap terealisasi mulai akhir tahun 2026 ini,” ujarnya kepada CNBC Indonesia pada Sabtu (26/9/2026).

Menurut KAI Commuter, kebutuhan tambahan armada turut dipengaruhi peningkatan penggunaan KRL di wilayah Jabodetabek. Pada semester I-2026, jumlah penumpang disebut tumbuh sekitar 11,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di periode tersebut, rata-rata pengguna KRL mencapai 1,1 juta orang per hari. Pada kondisi tertentu, jumlahnya bahkan dapat menyentuh angka 1,3 juta penumpang.

Selain lonjakan pengguna, faktor usia armada juga menjadi perhatian dalam rencana pengadaan. KAI menyebut terdapat sekitar 92 trainset yang telah berusia 40 tahun.

Lebih jauh, perusahaan memperkirakan hingga 2031 ada 87 trainset yang perlu diganti. Dari sisi kebutuhan layanan, hal itu membuat pengadaan menjadi bagian dari upaya menjaga kapasitas angkutan.

Karina menjelaskan koordinasi yang dilakukan KAI Commuter dengan sejumlah kementerian terkait. “Koordinasi kami lakukan dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan tentunya kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Teknis terkait yaitu Kementerian Perhubungan,” kata Karina.

Dalam pengembangan program pengadaan, KAI sebelumnya pernah mengusulkan impor 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang sebagai solusi sementara. Rencana itu disebut terdiri dari tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12.

Selain SF12, usulan tersebut juga mencakup 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8. Pemilihan dua formasi itu disesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada di jaringan operasi KRL.

KAI menyebut tidak semua stasiun mampu menampung rangkaian 12 kereta. Karena itu, komposisi armada yang didatangkan perlu disesuaikan dengan karakteristik jalur serta panjang peron di stasiun-stasiun terkait.

Terkait detail spesifikasi armada, perusahaan menyatakan usia kereta masih masuk pembahasan. “Untuk usia kereta masih dalam pembahasan dan konfirmasi dengan pihak operator di Jepang,” ujar Karina.

Kepastian mengenai usia armada disebut menjadi salah satu informasi yang masih ditunggu dalam proses persiapan impor. Dari penjelasan sebelumnya, KAI memposisikan impor KRL bekas sebagai jembatan sambil industri perkeretaapian dalam negeri meningkatkan kapasitas produksinya.

Rencana impor tersebut juga telah mendapat persetujuan Komisi VI DPR RI. Persetujuan itu disebut terjadi dalam rapat bersama KAI pada 23 September 2026, yang kemudian menjadi dasar langkah lanjutan program pengadaan.

Dalam kerangka itu, impor 23 trainset ditempatkan sebagai bagian dari solusi pemenuhan kapasitas KRL Jabodetabek. Sementara itu, penguatan industri dalam negeri tetap berjalan seiring proses persiapan tersebut.

Dari sisi regulator, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyampaikan perkembangan di internal Kementerian Perhubungan. Dudy menyebut hingga saat ini Kemenhub belum menerima pengajuan resmi dari KAI terkait rencana impor KRL bekas tersebut.

Dengan kondisi itu, Dudy mengatakan belum ada pembahasan lanjutan di Kemenhub mengenai rencana impor KRL bekas. “KAI belum masukin ke saya,” ujar Dudy di gedung DPR pada Kamis (24/9/2026).

Untuk memberi gambaran proses pengadaan terdahulu, KAI Commuter juga pernah melakukan pengiriman armada dari Jepang. Pada 5 Mei 2015 di Pelabuhan Tanjung Priok, beberapa petugas dibantu peralatan berat untuk menurunkan gerbong kereta.

Dalam catatan di tahun tersebut, PT KAI Commuter Jabodetabek membawa 32 unit KRL yang dibeli dari Jepang untuk seri 205 bekas. Armada itu disebut menjadi tahap pertama dari program pengiriman untuk pengadaan 176 unit KRL pada periode 2014.

Dengan demikian, rencana kedatangan bertahap mulai akhir 2026 tetap memerlukan rangkaian persiapan administrasi dan koordinasi, termasuk memastikan detail kebutuhan armada. Tahap selanjutnya juga bergantung pada proses pengajuan dan konfirmasi yang masih berada dalam pembahasan antar pihak.