Bisnis & Ekonomi

Michael O’Leary dari Ryanair minta maaf usai menyebut maskapai lain ‘high-fare rapists’

×

Michael O’Leary dari Ryanair minta maaf usai menyebut maskapai lain ‘high-fare rapists’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ryanair boss Michael O'Leary apologises over 'high-fare rapists' remarks

jurnalistik.co.id – CEO Ryanair, Michael O’Leary, menyatakan permintaan maaf setelah sebelumnya menyinggung maskapai pesaing dengan frasa yang menuai kecaman luas. Dalam sebuah video yang diunggah pada Jumat, ia mengatakan kata-kata yang dipilihnya “carelessly” telah menimbulkan “considerable upset and offence”.

O’Leary menyampaikan bahwa dalam sepuluh hari terakhir ia melakukan “conversations with family and friends, both inside and outside Ryanair”. Dari percakapan itu, ia menyatakan ia “have come to realise however” bahwa kata yang dipakai “has caused considerable upset and offence to a wide number of people, especially to victims and survivors”.

Permintaan maaf itu ia sampaikan dengan tegas: “I want to apologise, sincerely and unreservedly, to those people, especially to the survivors.” Ia juga menilai pilihannya berbicara dengan istilah “careless”.

Ia menegaskan komitmen agar insiden serupa tidak terulang dengan mengatakan, “it won’t happen again”. O’Leary menambahkan, “I will try to learn from this mistake, and do better in future.”

Permintaan maaf tersebut muncul setelah ia membuat komentar pada awal bulan ini ketika berbicara kepada jurnalis menjelang rapat tahunan dengan pemegang saham. Dalam konteks itu, ia menyebut sebagian orang “desperate to get to Ryanair’s low fares because they can’t afford to fly with the high-fare rapists around Europe”.

Setelah komentar tersebut, O’Leary sempat mempertahankan pilihannya ketika ditanya apakah bahasa yang digunakan sudah tepat. Ia mengatakan, “British Airways, Lufthansa, and everybody else’s high fares, I’ll happily offend them on a regular basis,” serta menyatakan bahwa ketika ditanya apakah pernyataannya akan menyinggung korban kekerasan seksual, ia menegaskan bahwa pemerkosaan adalah “a terrible crime”.

Di luar pembelaan itu, Dublin Rape Crisis Centre (DRCC) kemudian mengirim surat kepada O’Leary yang berisi permintaan agar ia meminta maaf. Surat tersebut, menurut laporan BBC, berangkat dari kritik DRCC terhadap komentar “high-fare rapists” yang dianggap menyinggung banyak pihak.

Rachel Morrogh, chief executive DRCC, menuduh O’Leary berupaya mengejar sorotan melalui komentar yang ia buat. Dalam respons dari DRCC juga disebut adanya panggilan kepada organisasi dari korban pemerkosaan yang “upset and distressed because of what you said”. DRCC kemudian menawarkan pelatihan terkait dampak kekerasan seksual, dengan kalimat, “I can’t imagine you would ever use the term so flippantly again if you truly understood [what] it was like to survive rape”.

O’Leary awalnya menolak permintaan tersebut. Ia menyatakan, “I am quite clear that no remarks of mine could possibly trivialise the heinous crime of rape,” lalu menambahkan bahwa karena ia menilai tidak melakukan peremehan atas kejahatan pemerkosaan, ia “would not be issuing any apology or accepting your offer of training”.

Komentar yang memicu permintaan maaf itu juga bukan yang pertama bagi O’Leary dalam konteks memancing kontroversi saat membahas bisnisnya. Pada 2004, ia dilaporkan menyebut pemilik Bandar Udara Stansted sebagai “a bunch of overcharging rapists” dalam sengketa terkait biaya bandara.

Ia juga pernah menggunakan istilah “lazy bastards” untuk sebagian stafnya sendiri. Selain itu, ia pernah mengatakan kepada penumpang yang meminta pengembalian uang, “we don’t want to hear your sob stories”.

Lebih jauh, pada Juni ia menyatakan maskapai akan “reluctantly” berhenti membebankan biaya kepada orang tua agar dapat duduk di samping anak setelah adanya investigasi dari pengawas. Meski begitu, ia menegaskan kebijakan sebelumnya dinilai sesuai dengan hukum yang berlaku.

Dari video permintaan maafnya, O’Leary menutup dengan pengakuan bahwa ungkapan yang ia pilih “careless” dan menyebut ia ingin belajar dari kesalahan itu, sambil menegaskan “it won’t happen again”. Dengan demikian, permintaan maafnya sekaligus menjadi respons langsung atas reaksi yang muncul dari korban serta organisasi yang mengkritik komentar sebelumnya.