Hukum & Kriminal

Q Manivannan minta maaf atas komentar “demonisation” tentang pemerkosaan

×

Q Manivannan minta maaf atas komentar “demonisation” tentang pemerkosaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: MSP apologises over controversial rape 'demonisation' comments

jurnalistik.co.id – Q Manivannan, politisi Scottish Green Party dan anggota parlemen Skotlandia, meminta maaf atas komentar kontroversial mengenai pemerkosaan yang kembali mencuat setelah klip wawancara mereka beredar di media sosial. Permintaan maaf itu disampaikan menyusul kritik keras dari kelompok penyintas pemerkosaan serta sejumlah politisi.

Manivannan, yang mengidentifikasi diri non-binary dan menggunakan kata ganti they/them, menjadi sorotan setelah wawancara podcast yang direkam sebelum mereka terpilih sebagai MSP. Dalam percakapan tersebut, mereka membahas istilah “demonisation” terhadap pemerkosaan serta menyebut pemerkosaan sebagai “spectrum of things”.

Anggota parlemen yang berbasis di Edinburgh itu juga dikritik karena pernyataan terkait isu rehabilitasi pelaku pemerkosaan. Kritik semakin besar setelah potongan pembicaraan mereka yang kemudian “selectively edited” muncul kembali pada akhir pekan.

Sejumlah pihak menilai komentar Manivannan meremehkan keseriusan pemerkosaan dan dampak jangka panjang yang dialami penyintas. Dalam konteks itu, Manivannan menegaskan mereka tidak akan pernah berupaya mengurangi pengalaman seorang penyintas pemerkosaan.

Permintaan maaf dan soal konteks klip

Dalam sebuah pernyataan, Manivannan menyatakan bahwa rekaman podcast telah “selectively edited” sebelum kembali dipublikasikan. Meski demikian, mereka tetap meminta maaf atas kegelisahan yang timbul, dengan mengatakan mereka “sorry” atas keresahan tersebut.

Manivannan menyampaikan bahwa mereka memahami kata-kata memiliki bobot besar, terutama ketika berbicara tentang kekerasan seksual yang sangat personal dan menyakitkan. Ia juga menyatakan tidak berniat untuk menyingkirkan atau merendahkan pengalaman penyintas mana pun.

Mereka menegaskan, selama wawancara, “every rape in every context is equally serious and harmful”, tetapi bagian itu menurut mereka “maliciously” dihapus dari cuplikan yang beredar. Manivannan menyebut pengeditan itu dilakukan dengan cara yang menyesatkan dan tidak mencerminkan percakapan secara utuh.

“For that I apologise. I will always stand with and for victims and survivors,” kata Manivannan dalam pernyataan tersebut. Ia menambahkan bahwa mereka sendiri merupakan penyintas kekerasan seksual dan memahami trauma yang bertahan lama.

Manivannan juga menyampaikan, “I would never seek to diminish or dismiss any survivor’s experience, or to make anyone feel that their pain was not heard or understood.” Ia kemudian menyatakan permintaan maaf yang ditujukan kepada semua pihak yang merasa tersinggung, terluka, atau terpicu oleh klip tersebut serta pemberitaan yang menyusulnya.

“Tidak ada hierarki pemerkosaan”

Kritik utama datang dari Scottish Rape Crisis Alliance (SRCA) yang mewakili empat pusat krisis pemerkosaan. Organisasi itu mengatakan tidak ada “hierarchy of rape” dan memperingatkan MSP agar tidak meminimalkan kekerasan seksual.

SRCA menekankan bahwa dampak pemerkosaan dapat bertahan seumur hidup, dan kejahatan tersebut tidak seharusnya disederhanakan menjadi perdebatan teoritis. Dalam surat terbukanya, aliansi itu menulis: “We are not demonising rape. We are naming it.”

Dalam surat itu, penulis juga menolak gagasan pemerkosaan berada pada “spectrum”. Mereka menyatakan “there is no hierarchy of rape” dan menegaskan tidak seorang penyintas pun seharusnya merasa terdorong untuk menilai apakah pengalamannya cukup serius.

Surat tersebut juga meminta para politisi “not to normalise” rape atau sexual violence, serta “not create hierarchies of harm”. Sikap itu menempatkan hubungan antara bahasa dan dampak sosial sebagai inti persoalan.

Selain SRCA, United Nations Special Rapporteur on Violence against Women and Girls, Reem Alsalem, juga ikut bereaksi. Ia memposting di X bahwa pemerkosaan tidak seharusnya dibahas sebagai sesuatu yang berada pada “spectrum”.

Di tengah sorotan tersebut, komentar Manivannan dinilai mengaburkan batas pengalaman penyintas. Dalam wawancara, mereka menyebut adanya “myth of the monster rapist” dan “a demonisation of rape in the sense of it is a spectrum”.

Manivannan melanjutkan dengan menyatakan, “It is a spectrum, none of which is any less or worse, but it is a spectrum of things that constitute one homogenised word ‘rape’”. Ia juga mengaitkan gagasan pelaku sebagai “big burly man” dengan rasa takut, sebelum mengatakan kepada pewawancara perempuan bahwa “any individual is capable of rape, including yourself and me, and I think that scary thought is the hardest to contend with”.

Sorotan politik dan respons di ruang publik

Komentar-komen tersebut mendapat reaksi luas dari kelompok penyintas dan lawan politik. Mereka menilai bahasa yang digunakan berisiko mereduksi kenyataan kekerasan seksual serta trauma yang ditinggalkan pada korban.

Scottish Children’s Minister Siobhan Brown mengatakan kepada BBC’s Sunday Show bahwa ucapan Manivannan “misjudged”. Pernyataan itu memperkuat persepsi bahwa pilihan kata dan kerangka pembahasan dinilai tidak tepat oleh sejumlah kalangan.

Scottish Labour dan Scottish Liberal Democrats juga mengkritik Manivannan, sementara Scottish Conservatives menyerukan agar Scottish Greens menangguhkan MSP tersebut.

Meghan Gallacher, juru bicara kesetaraan partai, menyatakan: “It is deeply alarming that anyone, but especially an elected representative, would ever seek to minimise the seriousness of rape and suggest that there is a spectrum of offences.” Pernyataan itu menyoroti posisi Manivannan sebagai pejabat publik dan dampak komunikasi politik terhadap persepsi masyarakat.

Podcast “The Subjective Space” dan pengeditan klip

Perdebatan berpusat pada The Subjective Space podcast, sebuah acara yang direkam tahun lalu sebelum Manivannan menjabat sebagai MSP. Klip tersebut kembali muncul secara online pada akhir pekan, memicu kemarahan publik dan memperluas jangkauan kritik.

Manivannan mengatakan klip telah dipotong secara selektif “in order to mislead people and misrepresent me”. Ia menegaskan kembali bahwa mereka “horrified” oleh cara potongan itu dipublikasikan, sekaligus menyatakan penyesalan atas dampak emosional yang ditimbulkan.

Meski mempertahankan bahwa konteks penuh tidak ditampilkan dalam cuplikan yang beredar, Manivannan tetap menyatakan permintaan maaf secara langsung kepada mereka yang merasa terganggu. Seruan untuk memastikan bahasa politik tidak menormalisasi kekerasan seksual tetap menjadi benang merah dari respons berbagai pihak.

Dalam penutup pernyataannya, Manivannan menekankan bahwa kata-kata penting—terutama ketika berbicara tentang kekerasan seksual—dan ia menyesali keresahan yang muncul akibat komentar tersebut serta pembahasan dan pemberitaan lanjutan.