jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Pada akhir sesi, indeks terkoreksi 0,33% dan berhenti di level 6.441.
Sepanjang hari, pergerakan pasar cenderung bergerak dalam tren penurunan yang makin terasa ketika sesi berjalan. Meski pada pagi hari sempat menguat, arah perdagangan kemudian berbalik dan tekanan jual meningkat.
Perubahan sentimen itu tercermin dari dinamika rentang pergerakan. IHSG berada pada kisaran 6.521 untuk area jual–beli, lalu turun hingga level terendah 6.419.
Pelemahan tersebut dipandang terutama dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Di antara yang menekan laju indeks, perhatian tertuju pada saham PT Amman Mineral Tbk (AMMN) serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Peran The Fed yang hawkish
Dalam penilaian Phintraco Sekuritas, faktor utama datang dari langkah The Fed yang bersikap hawkish. Setelah sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00%, bank sentral dinilai semakin memperkuat ekspektasi pengetatan moneter global.
Ekspektasi tersebut membuat pasar menilai risiko inflasi masih cukup tinggi, sehingga jalur kebijakan moneter cenderung berlanjut dalam mode pengetatan. Dampaknya, minat investor terhadap aset berisiko ikut tertekan, termasuk saham-saham di pasar domestik.
Sentimen hawkish itu turut diperkuat oleh proyeksi analis dari Goldman Sachs yang memandang The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan Oktober 2026. Probabilitas skenario kenaikan juga disebut mencapai titik tertentu untuk pertemuan berikutnya.
Panin Sekuritas kemudian menambahkan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps pada Desember 2026 berada di angka 89%. Dengan angka tersebut, pasar bereaksi seolah tren pengetatan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan skenario yang makin mendekati realisasi.
Berita Terkait
Kombinasi penguatan ekspektasi pengetatan dan revisi pandangan terhadap suku bunga acuan global akhirnya memengaruhi arah IHSG. Meski terjadi fluktuasi intrahari, arus melemah tetap lebih dominan hingga akhir sesi.
Pengamat juga menyoroti kondisi APBN
Selain faktor eksternal, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan domestik terkait APBN. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 mengalami defisit.
Defisit tersebut dicatat sebesar Rp240,1 triliun, atau setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menjadi bahan pertimbangan pelaku pasar ketika menilai ruang kebijakan dan ketahanan fiskal di tengah ketidakpastian global.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan indeks sering kali menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap faktor makro, baik dari sisi kebijakan global maupun dinamika fiskal nasional. IHSG pun merespons dengan pelemahan yang konsisten di sepanjang sesi.
Di akhir perdagangan, hasil penutupan tetap mengonfirmasi bahwa tekanan jual masih lebih kuat dibanding upaya pemulihan. Dengan penutupan di level 6.441, indeks mencatat penurunan 0,33% untuk sesi Jumat (18/9/2026).
Kesimpulannya, pelemahan IHSG pada hari itu merupakan gabungan dari sentimen suku bunga global yang makin hawkish serta pencermatan investor terhadap indikator kondisi anggaran pemerintah. Ketika ekspektasi pengetatan diperhitungkan lebih serius, pergerakan pasar cenderung menjadi lebih defensif dan membawa dampak ke saham-saham big caps yang lebih dominan membentuk indeks.
Perubahan arah itu juga terlihat dari cara pasar memproses informasi sepanjang hari. Ketika ekspektasi suku bunga global bergeser menjadi lebih ketat, pelaku pasar cenderung mengubah preferensi dari aset berisiko ke strategi yang lebih defensif, sehingga setiap upaya pemulihan tidak bertahan lama dan tekanan jual kembali muncul.
Dalam situasi seperti ini, bobot saham berkapitalisasi besar ikut menentukan ritme pergerakan indeks. Perhatian investor pada AMMN dan BUMI mencerminkan bagaimana pergerakan beberapa emiten besar dapat mempercepat pelemahan, sekaligus membuat IHSG sulit keluar dari zona turun meski sempat ada dorongan di fase awal perdagangan.
Sementara itu, dinamika APBN yang tercatat mengalami defisit turut menambah kehati-hatian. Defisit sebesar Rp240,1 triliun menjadi sinyal bahwa ruang kebijakan yang tersedia perlu dicermati lebih ketat, terutama ketika pasar sedang menilai ketidakpastian eksternal. Karena itu, pelemahan yang terjadi tidak hanya bersifat sementara, tetapi lebih terhubung dengan cara investor membaca kombinasi faktor fiskal dan moneter.












