jurnalistik.co.id – Nooria, nama yang tidak disebut lengkap, mengaku masih terbayang momen yang dulu membawanya ingin menjadi dokter. Ia lahir di sebuah desa di Afghanistan dan menyaksikan sendiri bagaimana keterbatasan akses kesehatan dapat mengakhiri nyawa, termasuk kasus seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang meninggal karena radang usus buntu.
“He was completely healthy, but the road was blocked and he died on the way. There are multiple incidents just like this.” kata Nooria. Baginya, pengalaman itu sekaligus dorongan pribadi agar ia bisa membantu orang-orang yang menghadapi situasi serupa.
Namun kini, cita-citanya berada dalam ketidakpastian besar. Ia khawatir bisa dipulangkan dari Pakistan, yang baginya berarti berakhirnya peluang meniti karier medis—terlebih karena perempuan di Afghanistan dibatasi untuk belajar maupun bekerja oleh pemerintahan Taliban.
Surat PMDC dan penundaan di pengadilan
Awal bulan ini, Pakistan’s Medical and Dental Council (PMDC) selaku regulator pendidikan kedokteran mengirim surat kepada semua perguruan tinggi kedokteran dan kedokteran gigi di seluruh negeri. Surat itu meminta agar mahasiswa dari Afghanistan yang belajar di kampus-kampus tersebut kembali ke negara asal.
Dalam surat tersebut, kegagalan mengikuti arahan dinyatakan akan “viewed seriously” dan dapat berujung tindakan regulatori. Di Punjab, termasuk Nooria, keputusan tersebut sempat tertahan oleh temporary stay order dari Lahore High Court hingga sidang berikutnya pada Jumat.
Meski demikian, tidak ada kepastian apakah penundaan itu akan berlanjut. Sejak 2023, ratusan ribu warga Afghanistan dideportasi dari Pakistan, dan lebih dari dua juta orang telah pergi menurut data PBB. Perkembangan itu disebut makin meningkat saat hubungan Pakistan dan Afghanistan memburuk drastis dalam setahun terakhir.
Pemerintah Pakistan menuduh pemerintahan Taliban di Afghanistan menampung kelompok militan, yang dibantah oleh Taliban. Pengumuman PMDC kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk Amnesty International yang menilai keputusan itu “patently discriminatory and arbitrary” serta menegaskan kewajiban Pakistan untuk melindungi hak pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan asal kebangsaan.
Sejumlah mantan utusan Pakistan untuk Afghanistan juga mendesak agar dewan mempertimbangkan ulang. Salah satunya menyebut keputusan tersebut “shocking” dan “a question of humanity, compassion and Pakistan’s own moral responsibility”.
PMDC menyatakan tidak dapat memberi komentar tambahan selama proses pengadilan berjalan. Akan tetapi, pengacara PMDC menyampaikan bahwa tidak ada mahasiswa Afghanistan yang terdaftar di PMDC.
Para mahasiswa membantah logika itu. Mereka mengatakan urusan pendaftaran merupakan tanggung jawab kampus, bukan diri mereka. Mereka merujuk pada pemberitahuan PMDC sebelumnya pada tahun ini yang mengarahkan perguruan tinggi memastikan mahasiswa terdaftar.
Berita Terkait
Kecemasan menjelang ujian dan “House Job”
Mahasiswa kedokteran yang berbicara menyatakan mereka tidak melihat kaitan antara hubungan antarnegara dan kemampuan mereka untuk belajar. Keresahan Nooria bahkan lebih kuat karena ia menuturkan perjalanan kuliahnya tidak singkat dan tidak mudah.
Ia memulai studi di Kabul University, tetapi meninggalkan kota ketika pasukan Taliban semakin mendekat. Ia lalu mendapat kesempatan yang saat itu ia anggap sebagai jalan keluar: beasiswa untuk belajar kedokteran di Pakistan. Kini Nooria berada pada tahun terakhir di sebuah universitas kedokteran di Lahore.
Dalam kesaksiannya, ia menggambarkan intensitas belajar yang tinggi hingga mengorbankan kehidupan sosial. “I was studying, day and night. I couldn’t sleep because there was so much pressure and knowledge that I had accumulated in my mind. I got used to it a bit, but I have compromised a lot. My relationships, talking to my family, spending time with my friends. I think I haven’t lived for these years, I have only studied for my dream.”
Ketika mengetahui adanya surat tersebut, Nooria mengaku terkejut. Ia juga merasa cemas terhadap dampak bila menyuarakan persoalan ini, sehingga ia meminta namanya tidak dipublikasikan. “We knocked on every door, our teachers, organisations, anyone we thought could help us. We are under so much pressure that we have completely forgotten about our studies, we don’t know what will happen to us.”
Bagi mahasiswa tahun akhir seperti Nooria, ujian terakhir akan berlangsung dalam beberapa bulan. Mubin, mahasiswa tahun akhir lain di Punjab, menggambarkan kondisi mental yang serupa. “I was in complete despair, my mind was blank. It was like a panic situation because they were giving us very short time to evacuate the (accommodation), the college,” ujarnya.
Di berbagai wilayah, sebagian mahasiswa melaporkan arahan yang berbeda sehingga menambah kebingungan. Ada yang mengatakan ujian mereka sudah selesai, tetapi belum menyelesaikan pelatihan praktik yang dikenal sebagai “House Job” untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran.
Tanpa menyelesaikan program dan persyaratan hingga tuntas, Nooria dan Mubin khawatir kredit mereka tidak diakui oleh institusi lain bila mereka harus pindah atau memulai kembali studi. “It means you have to start from zero, from your first year,” kata Mubin.
Keduanya menyebut memiliki visa pelajar yang masih berlaku. PMDC sendiri belum memberikan angka mengenai jumlah mahasiswa yang terdampak, tetapi juru bicara mahasiswa kedokteran Afghanistan, Anayatullah Momand, memperkirakan sekitar 1.000 mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi. Ia menilai 65% di antaranya memiliki pemegang visa, sementara sebagian lain masih menunggu visa.
Momand juga mengatakan 15% mengalami pembatalan visa atau belum mengajukan permohonan. Walau surat PMDC tidak membedakan mahasiswa berdasarkan status dokumen, juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan menyampaikan pandangan berbeda. “Our policy is that those Afghan students who are in Pakistan on a valid visa and registered for a valid course will continue and complete his or her education,” kata Sajjad Haider Khan dalam konferensi pers yang direkam.
Namun, para mahasiswa mengatakan mereka belum melihat perubahan pada keadaan yang mereka hadapi, meski ada pernyataan yang mirip pada minggu sebelumnya. Di tengah ketidakpastian itu, Nooria berusaha menahan diri agar tidak memikirkan arti pemulangan ke Afghanistan bagi masa depannya.
“My family counted on me. These five years I have sacrificed everything that would be zero, multiplied by zero. And then I would become a poor and helpless Afghan female, facing this destiny. I cannot imagine this.” tuturnya, menggambarkan rasa takut bahwa pengorbanan panjangnya bisa hilang seketika.












