jurnalistik.co.id – Bursa saham dan pasar obligasi Asia diproyeksikan bergerak menguat pada perdagangan berikutnya setelah reli yang terjadi di Wall Street. Kenaikan minat investor terhadap aset berisiko kembali terdorong, seiring kekhawatiran inflasi yang mulai mereda.
Pendukung utama sentimen datang dari pergerakan harga minyak yang melemah untuk sesi kedua pada Kamis (17/9). Pasar menilai pendinginan kondisi di pasar fisik membuat tekanan mereda dari level tertinggi baru-baru ini.
Bagi pelaku pasar, penurunan minyak memberi ruang bernapas dari kekhawatiran kenaikan biaya dan dampaknya pada ekspektasi inflasi. Dengan kondisi itu, fokus pelaku pasar beralih kembali ke isu suku bunga dan arah kebijakan moneter berikutnya.
Pada saat yang sama, reli di instrumen berbasis imbal hasil juga turut menguatkan optimisme. Obligasi Treasury AS mengalami dorongan di seluruh kurva imbal hasil setelah pasar merespons perubahan sentimen terhadap prospek inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun sembilan basis poin menjadi 4,93%. Angka itu terjadi setelah sebelumnya imbal hasil sempat menyentuh level 5,02% pada Rabu, menyusul keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dari sisi bursa AS, sentimen menguat terlihat pada indeks-indeks utama. Indeks S&P 500 naik 1,1%, sementara Nasdaq 100 yang banyak dihuni saham teknologi menguat 1,7%.
Pergerakan yang lebih menonjol juga datang dari sektor semikonduktor. Indeks utama saham perusahaan semikonduktor melonjak 3,1% pada periode yang sama.
Di sisi komoditas, harga emas ikut bergerak searah dengan suasana pasar yang lebih tenang. Pada Kamis, emas menguat dan mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Meski demikian, pasar tidak sepenuhnya lepas dari pertimbangan suku bunga. Penurunan harga minyak memang memberi kelegaan, tetapi keberlanjutan efeknya diyakini masih bergantung pada apakah harga komoditas tersebut terus melemah.
Ketika perhatian bergeser dari The Fed ke bank sentral kawasan Asia, pasar kini menaruh fokus pada keputusan Bank of Japan (BOJ). Yen disebut bergerak stabil menjelang keputusan suku bunga BOJ yang dijadwalkan pada Jumat.
Berita Terkait
Fokus pada keputusan BOJ dan arah pengetatan
Pelaku pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada Jumat. Selain kenaikan tingkat suku bunga, pasar juga menunggu sinyal terkait sejauh mana pengetatan kebijakan moneter masih akan berlanjut.
Menjelang pembukaan perdagangan, kontrak berjangka indeks saham yang terkait Jepang, Korea Selatan, dan Australia menunjukkan indikasi kenaikan. Kontrak saham AS justru bergerak relatif stabil setelah indeks acuan mencatat kenaikan terbesar dalam enam minggu.
Dengan lanskap tersebut, pergerakan awal di Asia diperkirakan cenderung menguat, selaras dengan pemulihan sentimen dari Wall Street. Namun, volatilitas tetap mungkin terjadi karena pasar akan bereaksi terhadap detail komunikasi BOJ.
Bagi investor, momen BOJ menjadi penentu karena keputusan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga di kawasan. Jika sinyal pengetatan kebijakan dinilai lebih ketat atau lebih lama dari perkiraan, pasar berpotensi mengubah posisi pada aset berisiko secara cepat.
Karena itu, pergerakan yen yang saat ini relatif stabil dipandang sebagai ājembatanā menuju keputusan BOJ. Pasar menunggu perubahan arah begitu bank sentral memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai kebijakan berikutnya.
Di latar makro, penurunan minyak juga menjadi variabel yang terus dipantau. Pasar membutuhkan bukti lanjutan bahwa pendinginan dari level tertinggi baru-baru ini benar-benar berlanjut.
Jika penurunan minyak berlanjut, kekhawatiran inflasi yang sempat mendorong kenaikan imbal hasil dapat makin mereda. Sebaliknya, apabila harga minyak kembali menguat, tekanan terhadap ekspektasi inflasi dapat muncul lagi dan memengaruhi arah pasar obligasi maupun ekuitas.
Dengan demikian, pergerakan bursa Asia saat ini lebih merupakan gabungan dari efek pulihnya Wall Street dan antisipasi keputusan BOJ. Reaksi pasar Jumat mendatang berpotensi menjadi penentu apakah penguatan di Asia hanya bersifat lanjutan jangka pendek atau justru mengarah pada tren yang lebih panjang.
Pada akhirnya, rangkaian data dan sinyal kebijakan yang keluar dalam waktu dekat akan menjadi ujian bagi optimisme investor. Pasar saat ini berada dalam mode menunggu: reli di AS memberi dorongan, sementara BOJ menjadi titik fokus utama untuk mengukur arah pengetatan suku bunga di kawasan.












