Bisnis & Ekonomi

Perum BULOG Tingkatkan Pasokan, Guyur 110 Ribu Ton Beras ke Ritel Modern

×

Perum BULOG Tingkatkan Pasokan, Guyur 110 Ribu Ton Beras ke Ritel Modern

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perkuat Pasokan, Bulog Guyur 110 Ribu Ton Beras ke Ritel Modern - Market

jurnalistik.co.id – Perum BULOG menyatakan telah berkoordinasi dengan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia untuk menyalurkan beras dalam jumlah besar guna memperkuat ketersediaan di tingkat konsumen. Langkah ini ditujukan untuk memastikan pasokan tetap berjalan ketika permintaan meningkat dan harga pangan berpotensi mengalami tekanan.

Dalam rencana yang disampaikan perusahaan pelat merah tersebut, BULOG akan menggelontorkan 110 ribu ton beras dalam satu bulan ke depan. Program distribusi ini tidak hanya menambah ketersediaan, tetapi juga dirancang agar penyerapan di pasar berjalan lebih merata melalui kanal-kanal penjualan yang menjadi rujukan pembelian masyarakat.

Beras yang akan disalurkan terdiri atas dua kategori. Sebanyak 75 ribu ton berasal dari beras premium, sementara 35 ribu ton lainnya merupakan beras medium. Pemisahan komposisi pasokan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kebutuhan berbagai segmen konsumen di ritel modern maupun titik pemantauan harga.

Distribusi dilakukan secara bertahap. BULOG menyebut penyaluran akan digerakkan lewat jaringan ritel modern serta pasar-pasar yang menjadi titik pemantauan harga pangan. Dengan pola bertahap, pasokan diharapkan bisa lebih terjaga ketersediaannya dari waktu ke waktu, bukan hanya terkonsentrasi dalam satu periode singkat.

Menjaga stabilitas harga sesuai HET

Selain aspek ketersediaan, perusahaan menekankan bahwa penguatan pasokan tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga harga beras agar tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Dengan mengarahkan distribusi melalui jaringan yang mampu menyerap pasokan secara berkelanjutan, BULOG ingin memastikan pergerakan harga tidak terlalu jauh dari kerangka yang sudah ditentukan.

Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa koordinasi distribusi ini merupakan bagian dari upaya mitigasi terhadap dinamika harga. Ia menyampaikan penugasan utama BULOG menekankan stabilisasi harga, sehingga respons di lapangan perlu diantisipasi sejak awal.

ā€œKami mengantisipasi bukan hanya pengaduan, tetapi kami mengantisipasi akan kenaikan inflasi. Itu yang paling utama. Karena penugasan BULOG yang paling utama adalah menjaga stabilisasi harga,ā€ kata Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).

Dalam pernyataan itu, BULOG menempatkan pencegahan sebagai fokus. Pengendalian tidak sekadar menunggu masalah muncul dalam bentuk keluhan, melainkan menyiapkan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko kenaikan inflasi yang dapat terdorong oleh pergerakan harga bahan pangan.

Instrumen memperbesar pasokan ketika tekanan harga terjadi

Penguatan distribusi ini disebut menjadi instrumen BULOG untuk memperbesar pasokan di tingkat konsumen ketika terjadi tekanan harga. Artinya, rencana penyaluran 110 ribu ton beras tersebut diposisikan sebagai langkah operasional yang responsif terhadap situasi pasar, terutama saat harga menunjukkan kecenderungan tidak stabil.

Dengan penyaluran bertahap, pasokan dapat disesuaikan mengikuti kebutuhan perputaran barang di ritel dan pasar. Pendekatan ini juga membantu memastikan bahwa ketersediaan tidak putus di tengah periode, mengingat distribusi yang berlangsung dalam rentang waktu satu bulan memerlukan kesinambungan pengaliran dari sisi pasokan.

BULOG juga menegaskan peran koordinasi dengan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari mekanisme agar pasokan yang ditetapkan dapat benar-benar sampai dan tersedia di titik-titik yang menjadi rujukan pembelian masyarakat. Dalam konteks ini, ritel modern dipandang sebagai salah satu saluran yang dapat mendukung percepatan distribusi beras.

Sementara itu, pasar-pasar yang menjadi titik pemantauan harga pangan berfungsi sebagai bagian penting dari pengawasan dinamika harga. Melalui saluran tersebut, BULOG dapat menilai kondisi pasokan dan pergerakan harga sehingga langkah stabilisasi dapat dilakukan secara lebih terukur.

Dengan komposisi premium dan medium—masing-masing 75 ribu ton dan 35 ribu ton—program ini juga menunjukkan upaya agar pasokan menjangkau kebutuhan yang berbeda-beda. Variasi kategori beras diharapkan membantu memperluas cakupan ketersediaan di pasar, baik untuk konsumen yang cenderung memilih premium maupun yang mengandalkan beras medium.

Secara keseluruhan, rencana penggelontoran 110 ribu ton beras dalam satu bulan ke depan diposisikan sebagai kombinasi antara penguatan ketersediaan dan penjagaan harga sesuai HET. BULOG menempatkan stabilisasi harga sebagai prioritas, sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap inflasi melalui langkah distribusi yang terkoordinasi dan berjalan bertahap.