jurnalistik.co.id – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Gorontalo menggelar patroli malam sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Fokus utama kegiatan ini diarahkan pada antisipasi aksi 3C, yakni curat, curas, dan curanmor, serta penanganan potensi gangguan yang berkaitan dengan premanisme.
Patroli dilaksanakan pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di wilayah Kota Gorontalo dan sekitarnya, dengan pengawalan personel dari jajaran yang terlibat langsung.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Dirreskrimum Polda Gorontalo, KBP Teddy Rachesna, S.H., S.I.K., M.Si. Sebelum bergerak ke lapangan, personel terlebih dahulu mengikuti apel malam serta menerima arahan terkait sasaran patroli dan cara bertindak di setiap titik.
Personel yang terlibat berasal dari Subdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Gorontalo, Satreskrim Polres Gorontalo Kota, serta Tim IT. Dengan komposisi tersebut, patroli diarahkan untuk memantau kondisi secara menyeluruh sekaligus memastikan respons cepat bila ditemukan hal yang mengarah pada gangguan kamtibmas.
Dalam pelaksanaan lapangan, tim menggunakan satu unit mobil Gajah serta dua kendaraan operasional untuk menjangkau sejumlah lokasi sasaran. Pergerakan patroli dilakukan secara bergiliran mengikuti titik-titik yang telah ditentukan.
Beberapa lokasi yang dipantau meliputi kawasan UMKM Tangga Dua Ribu, ruas Jalan Agus Salim, hingga Bundaran Tugu Saronde. Di setiap titik, personel melakukan pemantauan terhadap aktivitas masyarakat, kendaraan yang melintas, maupun kendaraan yang sedang parkir.
Pengamatan juga diarahkan untuk melihat perkembangan situasi secara langsung, termasuk apabila terdapat indikasi yang berpotensi mengganggu ketertiban. Petugas kemudian menyesuaikan langkah pengawasan agar keberadaan polisi benar-benar terasa di area yang menjadi fokus.
Keberadaan Tim IT dalam kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan pelaksanaan di lapangan. Penempatan tim turut memperkuat koordinasi sehingga pemantauan dapat berjalan terarah dari awal hingga patroli berakhir.
Selain memantau, petugas juga mengantisipasi kemungkinan potensi gangguan keamanan dan ketertiban. Langkah preventif ini bertujuan agar potensi kerawanan tidak berkembang menjadi kejadian nyata yang meresahkan warga.
Berita Terkait
Sepanjang patroli, situasi terpantau aman dan kondusif. Tidak ditemukan kejadian menonjol maupun dugaan tindak pidana yang dapat mengganggu keamanan masyarakat.
Patroli preventif di jam rawan
Dirreskrimum Polda Gorontalo, KBP Teddy Rachesna, menegaskan bahwa patroli ini merupakan langkah preventif sekaligus bentuk kehadiran polisi di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut dijalankan khususnya pada jam-jam yang termasuk rawan.
“Kami ingin memastikan masyarakat merasa aman dan nyaman saat beraktivitas. Patroli ini merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi 3C dan premanisme, khususnya di lokasi-lokasi yang menjadi pusat aktivitas masyarakat,” ujar Teddy.
Ia juga menjelaskan bahwa personel telah diarahkan agar bertindak sesuai ketentuan apabila ditemukan adanya dugaan tindak pidana selama patroli berlangsung. Arahan tersebut menekankan penggunaan pendekatan yang tepat agar penanganan tetap terukur.
“Apabila ditemukan adanya dugaan tindak pidana, tentunya akan kami tindak sesuai prosedur. Kami juga mengedepankan langkah humanis dan persuasif dalam menjaga situasi kamtibmas,” katanya.
Di luar pemantauan, personel turut menyampaikan imbauan kepada masyarakat dan pengguna jalan. Imbauan diarahkan agar masyarakat tetap menjaga ketertiban serta berhati-hati saat berkendara di sepanjang lokasi yang menjadi sasaran patroli.
Polda Gorontalo juga mengajak warga untuk ikut berperan dalam menjaga keamanan lingkungan. Masyarakat diminta segera melaporkan kepada kepolisian apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan guna mendukung upaya pencegahan sejak dini.
Dengan berakhirnya kegiatan pada dini hari, patroli dinyatakan berlangsung dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif tanpa kendala yang berarti. Hasil pemantauan tersebut menjadi penguatan bahwa pendekatan preventif dan kehadiran aparat dapat membantu menjaga rasa aman di tengah aktivitas warga.












