Bisnis & Ekonomi

Zulhas, CT, Raffi Nagita: LPS-BI Bagikan Tips Investasi Aman

×

Zulhas, CT, Raffi Nagita: LPS-BI Bagikan Tips Investasi Aman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Zulhas, CT, Raffi Nagita, LPS-BI Bagi Tips Cara Sukses-Investasi Aman

jurnalistik.co.id – Lampung Financial Festival 2026 digelar di Lampung pada Sabtu–Minggu, 5–6 September 2026. Acara ini menjadi ruang pertemuan berbagai pihak di sektor keuangan untuk berdiskusi, berbagi perspektif, sekaligus mendorong peningkatan literasi keuangan di Indonesia.

Festival yang merupakan kolaborasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan CNBC Indonesia itu menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, hingga akademisi. Pada hari pertama, Sabtu (5/9/2026), berbagai sesi pemaparan berlangsung di Hotel Novotel, Bandar Lampung.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membuka rangkaian pembahasan mengenai arah dan potensi ekonomi daerah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut ekonomi Lampung tumbuh sekitar 5,29% dan menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di Sumatera.

Rahmat juga menyinggung peran Lampung dalam produksi pangan. Menurutnya, dengan jumlah penduduk sekitar 9,8 juta jiwa, produksi pangan Lampung tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakatnya, tetapi juga memasok kebutuhan masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Ia menilai petani dan masyarakat Lampung memiliki peran penting dalam menyediakan pangan bagi Indonesia. Selain itu, Rahmat menyebut Lampung merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Sumatera serta menjadi salah satu provinsi terpadat di kawasan tersebut.

Rahmat turut menekankan bonus demografi yang dimiliki Lampung. Ia menyebut Gen Z mencapai sekitar 24,7% atau sekitar 2,3 juta orang, sementara Post Gen Z berada di angka sekitar 20,67%.

Dengan komposisi tersebut, ia memandang generasi muda sebagai bagian penting dari bonus demografi Lampung. Namun, bonus demografi hanya dapat menjadi kekuatan ekonomi jika generasi mudanya produktif.

LPS dorong kebiasaan keuangan yang aman dan produktif

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menggarisbawahi potensi Lampung sekaligus ruang perbaikan agar layanan keuangan bisa dimanfaatkan secara aman dan produktif. Farid menyebut Lampung adalah pintu gerbang Sumatera, namun indikator menunjukkan masih ada kebutuhan memperkuat pemanfaatan layanan keuangan.

Dalam paparan itu, Farid berpesan kepada generasi muda agar menerapkan tiga kebiasaan sederhana dalam mengelola keuangan. Pertama, membiasakan menyisihkan, bukan menyisakan, dengan memprioritaskan menabung sejak menerima uang.

Kedua, ia mendorong agar belanja dilakukan sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti keinginan. Farid menambahkan bahwa algoritma dan kecerdasan buatan di gadget terus mempelajari kesukaan pengguna dan dapat mendorong keputusan pembelian.

Karena itu, Farid menegaskan teknologi jangan sampai mengendalikan keputusan keuangan. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun tabungan yang tidak berwujud melalui karakter, ilmu, dan relasi.

Farid menyampaikan, “Yang ketiga adalah bangun tabungan yang tidak berwujud, yakni karakter sebagai spiritual capital , ilmu sebagai human capital , dan relasi sehat sebagai social capital . Ketiganya merupakan aset berharga yang nilainya akan terus mengikuti kita sepanjang hidup,” dalam acara Lampung Financial Festival di Hotel Novotel Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).

Pemaparan Farid juga memuat sejumlah indikator. Ia menyebut tingkat inklusi keuangan Lampung mencapai 90,9%, masih di bawah nasional sebesar 93,6%. Sementara itu, tingkat literasi keuangan Lampung mencapai 72,3%, lebih tinggi dari nasional yang berada di angka 69,6%.

Ia menilai masyarakat Lampung sudah cukup tahu, tetapi belum sepenuhnya menggunakan layanan keuangan. Farid juga menyebut jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening (unbanked) turun dari 18,2 juta menjadi 15,3 juta orang.

Menurut Farid, kepemilikan telepon genggam bahkan sudah melampaui jumlah penduduk. Ia menambahkan bahwa generasi muda semakin dekat dengan mobile banking, dompet digital, fintech, dan aplikasi investasi.

Gap inklusi dan literasi masih lebar

Rektor Universitas Lampung (UNILA), Lusmeilia Afriani, menyoroti kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan. Ia menyebut akses layanan keuangan semakin luas, tetapi pemahaman masyarakat mengenai biaya, manfaat, hak, kewajiban, hingga risiko produk keuangan belum sepenuhnya sejalan.

Ia mengacu pada hasil survei nasional yang menunjukkan inklusi keuangan telah mencapai 93,61%, sedangkan literasi keuangan baru 69,57%. Kondisi ini menurutnya menciptakan gap sekitar 24 poin persentase.

Lusmeilia lantas mempertanyakan kemampuan pengguna dalam mengambil keputusan. “Akses (keuangan) berada di telepon genggam kita. Pertanyaannya, apakah kita cukup cakap mengambil keputusan saat menggunakannya?” ujar Lusmeilia dalam Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).

Dalam konteks Lampung, Lusmeilia juga menyebut tingkat inklusi keuangan mencapai 90,9% dan masih di bawah nasional sebesar 93,6%. Ia menegaskan literasi keuangan Lampung mencapai 72,3%, lebih tinggi dari nasional sebesar 69,6%, namun masyarakat belum sepenuhnya memahami biaya, manfaat, hak, kewajiban, dan risiko produk keuangan.

Ia turut menyampaikan bahwa jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening (unbanked) turun dari 18,2 juta menjadi 15,3 juta orang. Meski demikian, penggunaan layanan keuangan belum diiringi pemahaman menyeluruh.

Inklusi digital perlu diimbangi kewaspadaan

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, menilai tingginya inklusi keuangan harus diimbangi literasi yang kuat. Ia menekankan bahwa kemudahan akses digital juga meningkatkan risiko pinjaman online ilegal dan investasi bodong, hingga jeratan utang, terutama pada anak muda.

Marwan mengingatkan agar kemajuan teknologi dimanfaatkan secara positif. “Kemajuan teknologi harus kita ambil manfaat positifnya, jangan sampai yang main gadget terjebak dan mengganggu masa depan,” ujarnya dalam Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).

Zulhas: kesempatan perlu keberanian dan proses

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan (Zulhas), membagikan pandangannya kepada peserta festival. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan, “o tuh, enggak ada, enggak ada. Semua mesti proses, semua mesti ditempa,” kata Zulhas.

Ia kemudian menyoroti keberanian untuk tampil dan mengambil kesempatan sebagai salah satu kunci kesuksesan. Menurutnya, dari banyak orang yang hadir, hanya sebagian yang berani maju dan tampil di depan, sehingga kemampuan yang dimiliki orang yang tidak tampil bisa jadi tidak diketahui.

Zulhas juga mengingatkan mahasiswa agar tidak sekadar mengikuti perilaku teman. Ia menekankan pentingnya tidak bolos, tidak bermain, dan tidak melakukan sesuatu hanya karena teman melakukannya.

Dalam pesannya kepada anak muda, Zulhas menegaskan perlunya rasa ingin tahu dan sikap tidak cepat merasa sudah cukup. Ia menyatakan anak muda harus berani mengambil kesempatan, termasuk berani maju meski belum mengetahui semuanya.

Zulhas menilai belajar lebih banyak, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan tidak ikut-ikutan menjadi bekal penting untuk sukses.

Raffi Ahmad dan Nagita Slavina: modal berani dan evaluasi finansial

Founder RANS Entertainment, Raffi Ahmad, berbagi tips memulai usaha dan membangun bisnis dalam acara Lampung Financial Festival. Ia menyebut bahwa selain memiliki modal finansial, yang paling penting adalah modal keberanian.

Raffi menuturkan bahwa ketika seseorang sudah berani melangkah dan memulai, kesempatan-kesempatan akan terbuka. Hal tersebut ia sampaikan menanggapi pertanyaan siswa yang ingin mengetahui cara memulai bisnis meski modal yang dimiliki tidak terlalu besar.

Raffi mengatakan, “Yang penting kita berani dulu, karena kalau sudah berani dan dilakukan kemudian biasanya ketemu kesempatannya,” dalam Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).

Dalam rangkaian perbincangan, Raffi dan Nagita Slavina juga menyoroti cara memandang kesalahan finansial. Mereka menyatakan kesalahan finansial perlu dijadikan bahan introspeksi, termasuk ketika investasi mengalami kerugian atau uang cepat habis.

Mereka juga menekankan bahwa rezeki adalah amanah sehingga harus dikelola dengan baik, tidak hanya untuk kepentingan pribadi. Raffi dan Nagita menilai manusia perlu terus beradaptasi karena perubahan diperlukan agar bisa menjadi lebih baik dan menghadapi zaman yang terus berubah.

Di bagian lain, mereka menyinggung kondisi saat seseorang merasa capek. Capek bukan berarti menyerah, sehingga ketika lelah seseorang perlu berhenti sejenak untuk beristirahat dan melakukan introspeksi.

BI ingatkan ancaman scam dan malware di era digital

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, mengingatkan bahwa ancaman di dunia digital terus datang dalam berbagai bentuk, termasuk scam dan malware. Ia menyampaikan hal itu di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Filianingsih menyebut besarnya paparan terhadap serangan. “Paling tidak serangan malware itu tiap hari itu 560.000 dan satu dari dua orang Indonesia itu terpapar scam dalam 12 bulan terakhir ya,” ujarnya dalam acara Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat Indonesia berada pada peringkat kedua sebagai negara yang paling rentan diserang penipuan dunia. Dengan demikian, ia menekankan pentingnya kewaspadaan saat memanfaatkan layanan dan ekosistem digital.